Ibu gendong bayi saat menangis
IlustrasiiIbu gendong bayi saat menangis. Sumber : www.hiveminer.com

Majalahayah.com, Jakarta –  Tak perlu heran ketika generasi baby boomers lebih banyak memberi saran atau nasehat kepada kita generasi milenial. Meskipun mereka tidak ahli dibidang teknologi, namun ucapannya itu sering kali benar loh!

Seperti halnya bayi yang menangis tidak boleh terlalu sering di gendong karena dikhawatirkan anak  menjadi manja. Fakta gendong bayi ini menurut keterangan dr. Ery Puspa Wulandari perspektif neurosians (ilmu saraf) adalah benar.

Apa kaitannya menggendong dengan manja? dr. Ery menjawab mekanisme tangis pada seorang anak adalah alat komunikasi paling primitif yang dimiliki seorang manusia.

“Perpindahan suasana dari alam Rahim yang serba berkecukupan kedalam dunia yang penuh dengan kebutuhan, memerlukan proses adaptasi yang salah satunya adalah pengembangan pola-pola komunikasi,” tulisnya dalam buku Anda Bertanya Dokter Menjawab.

Pada saat seorang manusia dilahirkan, sambung dr. Ery, potensi otak yang telah berkembang baru sekitar 30%. Hal apa pun yang terjadi di masa-masa tumbuh kembang akan menjadi faktor yang sangat mempengaruhi proses pembentukan otak.

“Apabila anak menjadi sangat terbiasa dengan curahan perhatian yang diberikan tanpa adanya upaya-upaya lebih keras untuk mendapatkannya, pola-pola neuronal (sambungan-sambungan sel-sel saraf) yang negatif akan akan terbangun dan terbawa sampai ke usia dewasa” ucapnya.

Menurutnya, sifat manja bergantung pada orang lain alias tidak mandiri. Terlebih dalam menyelesaikan permasalahan, ini menjadi ciri yang dapat dicermati pada anak-anak yang di masa bayinya terlalu berlebihan mendapatkan perhatian.

Secara neurosains, seorang anak yang terlalu mudah mendapatkan akses terhadap apa yang diinginkan akan mendorong terciptanya jalur-jalur saraf yang menghubungkan antara daerah kebutuhan atau sistem Limbik dan hipotalamus dan area analitik yang terdapat di kulit otak (korteks otak).

“Pembentukan jalur yang mengedepankan cara termudah selalu langsung dipenuhi akan mempengaruhi derajat ambang batas (treshold) dan kemampuan kontrol diri. Ketiadaan atau kekurangan kemampuan kendalai neuronal kelak akan menjadikan anak tumbuh dewasa sebagai seorang yang mengembangkan budaya instan dan perilaku implusif,” jelasnya.

Lebih buruk lagi, dr. Ery tuturkan, perilaku implusif ini akan disertai perilaku agresif apa bila keinginannya tidak terpenuhi. oleh karena itu, ia sarankan kepada orangtua hendaknya lebih mengamati dengan cermat berbagai kondisi yang dialami anak saat menangis.

“Kita tahu bahwa ada beragam jenis tangisan anak seperti lapar, haus, sakit, kulit lecet, gerah, atau mencari perhatian. Nah kita harus tau alasan anak menangis sehingga kita bisa memberikan respon yang tepat, termasuk menggendong untuk memberikan kasih sayang,” tuntasnya.