Pernikahan saat pendemi. Sumber surabayapagi.com

Majalahayah.com, Jakarta – Pernikahan adalah acara yang dilaksanakan oleh sepasang insan untuk menyatukan janji mengarungi bahtera keluarga. Tentunya acara pernikahan adalah acara yang membawa kebahagiaan bagi orang yang sedang merasakan dan melaksanakannya.

Acara pesta pernikahan biasanya sangat lazim dan mudah ditemui di gedung-gedung, jalanan rumah penduduk, lapangan, dan tempat lainnya. Acara pernikahan di Indonesia sendiri juga banyak yang masih kental akan adatnya. Proses pernikahan ini biasanya cukup memakan biaya, waktu, dan tenaga. Dimana mempelai wanita dan laki-laki serta keluarganya harus menyiapkan segala keperluan yang dibutuhkan untuk kesuksesan acara.

Pada tahun 2020 ini dunia dibuat heboh dengan munculnya virus mewabah yang bernama COVID-19. Virus yang telah menyebar hampir di seluruh negara ini tentunya membawa dampak yang sangat luar biasa. Kegiatan dibidang pendidikan, ekonomi, politik, dan sosial pun dibatasi guna meminimalisir penyebaran virus. Masyarakat hanya boleh keluar rumah saat keadaan genting misal, membeli kebutuhan pokok, ke rumah sakit, dan bekerja.

Begitu juga kegiatan pesta pernikahan pun sempat dilarang saat pendemi di Indonesia. Hingga kembali diperbolehkan setelah pemerintah mengumumkan new normal. Banyak kasus yang memundurkan tanggal hingga membatalkan acara pernikahan karena mengikuti peraturan pemerintah yang sedang berlaku dan juga takut akan resiko tertularnya virus COVID-19.

Salah satu contoh pasangan kekasih yang mengalami hal ini misalnya seperti Rian (27) dan Lia (25), yang tetap melangsungkan pernikahan saat kondisi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) jilid 2 di DKI Jakarta. Pasangan ini mengaku tidak bisa memundurkan tanggal pernikahan dikarenakan sudah terdaftar di KUA setempat.

Lia dan Rian pun melangsungkan akad dan pesta pernikahan pada 4 Oktober 2020. Akad dan pesta pernikahan diadakan secara terpisah. Pasangan ini mengatakan bahwa saat ini proses akad nikah hanya bisa dilakukan di KUA, setelah itu pesta digelar di rumah sang perempuan.

Bagi Lia dan Rian tantangan terbesar menikah saat pendemi ialah terbatasnya tamu undangan dan juga tempat yang disewanya ditutup dikarenakan PSBB. Rencana awal pasangan ini tidak berjalan semestinya dan mereka kembali menata ulang rencana tersebut. Peringatan dan larangan datang silih berganti dari keluarga, kerabat, maupun teman untuk tidak melaksanakan pesta pernikahan dikala pendemi. Namun, hal tersebut tidak membuat pasangan tersebut goyah dan tetap melaksanakannya.

Pernikahan adat Jawa yang seharusnya mereka laksanakan pun juga diatur ulang kembali seperti menghilangkan midodareni atau malam menjelang hari pernikahan bagi kedua mempelai. Hal ini dilakukan untuk mengurangi banyaknya interaksi yang terjadi.

Lia dan Rian tidak khawatir akan tertularnya COVID-19. Protokol kesehatan tetap diberlakukan di pesta pernikahan sesuai dengan aturan dan anjuran yang ada seperti, menjaga jarak, menggunakan masker, menyediakan hand sanitizer, dan sabun cuci tangan. Semula keadaan di pesta pernikahan tersebut berjalan baik dan mengikuti protokol yang sesuai. Hingga hujan melanda membuat tenda kejatuhan air yang cukup banyak hingga membasahi kursi duduk para tamu undangan. Keadaan mulai tidak terkontrol, jarak sudah tidak lagi berjauhan karena para tamu undangan menyelamatkan diri dari percikan air hujan.

Dibalik semua itu, Lia dan Rian mengungkapkan jika terdapat keuntungan melaksanakan pernikahan saat pendemi. Harga kebutuhan untuk menikah mengalami penurunan harga seperti, dekorasi pernikahan, perias pengantin, dan katering. Mereka bisa menghemat budget dan mengalihkannya untuk membeli perabotan rumah tangga.

Tentunya disaat kondisi pendemi seperti ini ada baiknya kita melihat sisi negatif dan positif untuk mengambil langkah selanjutnya. Berkonsultasi dengan keluarga serta mencari tahu dari berita yang relevan untuk dijadikan bahan pertimbangan. Semoga kita semua selalu diberi kesehatan.