Majalahayah.com, Jakarta – Peneliti Forum Masyarakat Perduli Parlemen Indonesia (Formappi), Lucius Karus menilai aksi demonstrasi pelajar STM dan Mahasiswa untuk menolak sejumlah Rancangan Undang-undang (RUU) merupakan tamparan yang keras bagi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sekaligus Pemerintah.

“Tuntutan mereka mahasiswa dan pelajar menegaskan untuk menampar wajah DPR sesungguhnya. Tamparan ini bahkan membuat wajah DPR menjadi memar,” ujarnya saat di Kantor Formappi, Matraman, Jakarta timur, Kamis (26/9/2019).

Bukan hanya tamparan, Lucius mengatakan aksi demontrasi yang dilakukan oleh sejumlah pelajar STM dan Mahasiswa kemarin membongkar sleuruh kedok anggota DPR RI selama ini yang hanya mengumbar janji, namun kenyataannya menindas rakyat.

Apalagi hal tersebut dilakukan oleh pelajar STM yang selama ini mungkin anggota DPR anggap mereka sebagai orang yang apatis dan acuh tak acuh terhadap politik.

“Ini menelanjangi basa basi politik DPR selama ini. Mereka mencurahkan ekspresinya melalui karton, spanduk, hingga media sosial,” pungkasnya.

Menurutnya, aksi demonstrasi yang dilakukan oleh pelajar STM dan mahasiswa juga merupakan suatu luapan emosi. Pasalnya, DPR RI membuat peraturan seperti Rancangan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (RKUHP) yang mengancam kehidupan privat mereka.

Apalagi isu tersebut beredar melalui media sosial dan pemberitaan di media online. Sehingga gerakan aksi unjuk rasa yang mereka lakukan di depan Gedung DPR/MPR 
secara masif untuk menolak adanya sejumlah RUU tersebut.

“Ketika ada aksi dan reaksi, menurut saya ini rentetan yang bisa dijelaskan, ada emosi yang dibangun sejak awal dari diri mahasiswa dan pelajar. Bahkan seluruh rakyat Indonesia yang waras menilai ada yang salah dengan proses yang terjadi dan ada misi yang bertentangan dengan misi reformasi terkait dengan pemberantasan korupsi,” terangnya.

Lebih lanjut menurut Lucius, aksi yang dilakukan oleh sejumlah pelajar STM dan mahasiswa beberapa waktu lalu tidak bisa semata-mata dinilai sebagai unjuk rasa yang ditunggangi kepentingan politik. Namun, merupakan sikap kritis mereka dan juga bentuk solidaritas terhadap kawan seperjuangan.

“Menurut saya itu bukan ditunggangi, itu berdasarkan hati nurani mereka,” tegas dia.