Ilustrasi peta persebaran virus corona. Sumber : indiatoday.in

Majalahayah.com – Beberapa bulan belakangan masyarakat negeri ini sudah di resahkan dengan kabar wabah virus corona di Wuhan, China yang di susul juga dengan menjalarnya di negara-negara lain. Berhari-hari mendapatkan informasi dari berbagai media tentang bagaimana kondisi dan situasi wilayah yang terserang wabah virus corona atau covid-19 ini.

Pada Senin 2 Maret 2020, Presiden RI Joko Widodo mengumumkan adanya dua WNI yang positif corona di Indonesia, tepatnya di daerah Depok, Jawa Barat mengawali info kepastian kondisi negeri akan aman atau tidaknya terhadap virus corona ini. Hingga per 17 Maret 2020 pukul 17.00 WIB dari data Kementerian Kesehatan menginfoka sudah ada 172 orang positif corona dan 7 orang meninggal dunia. Kecepatan persebarannya pun sudah menyebar ke beberapa wilayah.

Kasus seperti virus corona demikian ternyata pernah terjadi pada jaman Rasulullah dan para sahabatnya, dan bagaimana dalam hadist-hadist menjelaskan tentang tindakan yang diambil sebagai pencegahannya?

Baca juga : Cegah Penyebaran COVID-19, MUI Perboleh Masyarakat Tidak Sholat Jum’at

Berikut penjelasan kisah dan Fikih Prioritas (Fiqh Aulawiyyat) tentang maslahat dari mengambil tindakan pencegahan terhadap wabah virus atau penyakit menular.

Umar bin Khaththab RA berangkat menuju negeri Syam, di tengah perjalanan ketika sampai di daerah Sargh. Dia berjumpa dengan komandan pasukan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah beserta para prajuritnya. Mereka memberitahukan kepadanya bahwa di negeri Syam tengah dilanda wabah penyakit menular (tha’un), hingga dia memutuskan untuk berhenti di tempat yang tidak jauh dari Syam. Ada beberapa sahabat Anshar dan Muhajirin yang menemani perjalanannya, maka Umar RA mengumpulkan mereka untuk mengambil keputusan apakah harus tetap masuk atau kembali. Beberapa sahabat berkata, “Sesungguhanya engkau berangkat untuk mengharapkan keridhaan Allah, maka janganlahwabah ini mencegahmu dari mengharap ridha-Nya.”

Sahabat yang lain berkata, “Itu adalah wabah penyakit, maka janganlah kita masuk ke dalamnya.” Kemudian dia menghadirkan sesepuh Quraisy yang mendahului hijrah pada waktu penaklukan (Fathu Makkah) dan sekarang berada bersama mereka dan mereka mengisyaratkan untuk kembali. Kemudian Umar bin Al-Kaththab berkata kepada semua sahabatnya, “Sungguh aku akan mengendarai tungganganku untuk pulang esok pagi.” Lalu Abu Ubaidah berkata, “Apakah untuk menghindari takdir Allah SWT?”

Umar pun menjawab, “Ya, kita lari dari satu takdir Allah menuju takdir Allah yang lain. Apa pendapatmu seandainya engkau  mempunyai seekor onta yang turun di sebuah lembah yang memiliki dua lereng, salah satunya subur dan yang kedua tandus. Jika engkau menggembalakannya di tempat yang subur, bukankah engkau menggembalakannya dengan takdir Allah? Begitu pun sebaliknya. Kalua engkau menggembalakannya di tempat tandus, bukankah engkau menggembalakannya juga dengan takdir Allah?”

Tiba-tiba datanglah Abdurrahman bin Auf yang sebelumnya tidak hadir karena keperluannya. Dia berkata, “Sungguh, aku memiliki suatu ilmu tentang masalah ini. Aku mendengar rasulullah SAW bersabda,

“Jika engkau mendengar wabah tha’un di sebuah negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Dan, seandainya wabah tha’un terjadi di negeri yang engkau tinggali, janganlah engkau meninggalkan negerimu karena lari dari tha’un.” {Shahih Muslim (4/1737) no. 2218; Shahih Al-Bukhari (4/1068) no. 5728-5730}

Sesunguhnya Al-Faruq menjelaskan kepada kita cara pencegahan dalam Islam yang boleh dan yang tidak boleh, juga yang dilakukan dengan keharusan dan dengan keringanan. Oleh karena itu, Umar bin Khaththab memutuskan untuk tidak masuk ke negeri Syam karena adanya wabah tha’un. Hal ini adalah tindakan untuk menghindari keburukan yang terjadi karena tidak adanya tindakan pencegahan dan menjauhi sebab penyebaran.

Rasulullah bersabda,

“Janganlah kalian mencampurkan (binatang) yang sakit dan yang sehat.” {Shahih Muslim (4/1743) no. 2221, Shahih Ibnu Hibban (13/482) no 6115}

Rasulullah juga bersabda,

“Janganlah berlama-lama memandangi orang yang terkena penyakit lepra.” {Misbah Az-Zujajah (4/78) no. 28, Sunan Ibnu Majjah (2/1172) no. 3543}

Baca juga : Membandingkan Waktu Penyebaran SARS dan COVID-19

Yusuf Al-Qardhawi berkata, “Seorang muslim yang paham terhadap agamanya adalah yang menolak takdir Allah dengan takdir Allah dan menghindari takdir menuju takdir yang lainnya.” Seorang penyair dan filsuf berkata, “Orang mukmin yang lemah akan beralasan dengan takdir. Akan tetapi, orang mukmin yang kuat adalah yang melihat takdir Allah sebagai sesuatu yang tidak dapat dihindari dan ketentuan-Nya tidak dapat ditolak.”

Dia jugaa berkata , “Sunnah nabawiyah mengakui adanya penyebaran penyakit dan memerintahkan untuk menghindari dan mengambil tindakan pencegahan dari wabah yang bersifat umum seperti tha’un. Bahkan, sunnah nabawiyah memperluas cakupannya dalam hal ini hingga untuk binatang.” (As-Sunnah Mashdar li Al-Ma’rifah wa Al-Hadharah, Al-Qardhawi, hlm. 164)

Tindakan yang dilakukan oleh Umar bin Khaththab RA mengajarkan diantara suatu keharusan dan keringanan. Akan tetapi, kadang ada sesuatu penghalang hingga membobotkan tindakan yang berdasarkan keringanan daripada keharusan, begitupun sebaliknya.

Imam Asy-Syathibi berkata, “Prioritas dapat diberikan kepada tindakan meninggalkan hal keringanan jika terdapat alasan yang didasari prasangka kuat atau keyakinan. Akan tetapi, kadang mengambil keringanan lebih utama dalam beberapa kondisi atau bahkan keduanya ada dalam tingkatan yang sama. Adapun jika tidak terdapat prasangka kuat, maka tidak mengapa untuk melarang tindakan yang mengambil keringanan.” {Al-Muwafaqat, Asy-Syatibi (1/232)}

Umar Abdullah Kamil berkata, “Suatu hukum berputar diantara keharusan atau keringanan disebabkan ada atau tidaknya alasan. Sesungguhnya seseorang tidak akan salah dalam mencapai cinta Allah jika dia tahu kemampuan dirinya.” {Ar-Rukhshah Asy-Syar’iyyah fi Al-Ushul Al-Qawa’id Al-Fiqhiyyah, Umar bin Abdullah Kamil, hlm. 108}

As-Shalabi berkata, “Beberapa ulama telah mengambil tindakan yang benar ketika menerangkan hikmah dari pelarangan bagi seseorang untuk keluar dari tempat tinggalnya jika di tempat tersebut telah tersebar tha’un. Sesungguhnya jika orang-orang keluar dari tempat tinggal mereka yang sudah tersebar tha’un, maka orang-orang yang tidak mampu untuk keluar karena terjangkit wabah tersebut kehilangan maslahatnya yaitu tidak adanya seseorang yang menjaganya hidup atau mati. Jika keluar dari tempat yang tersebar wabah tha’un itu disyariatkan, maka orang-orang yang kuat akan keluar dan hal ini akan menyakiti hati orang-orang yang lemah. Para ulama berkata, “Sesungguhnya hikmah di balik ancaman kabur dari medan perang adalah karena hal tersebut dapat menyakiti hati orang-orang yang tidak mundur. Ringkasnya, menetap ataupun keluar sama-sama merupakan keringanan. Barangsiapa yang tempat tinggalnya dan dirinya terjangkit wabah ini, maka tidak ada gunanya untuk keluar dari tempat tinggalnya karena dia akan menyebarkan penyakitnya kepada orang-orang yang sehat. Sedangkan yang tidak terjangkit wabah tersebut, maka dia mendapatkan keringanan untuk keluar dari tempat tinggalnya. Akan tetapi, harus ada beberapa orang yang tinggal untuk memperhatikan nasib yang terjangkit wabah tersebut.” {Sirah Uman bin Al-Khaththab, Ash-Shalabi, hlm. 237-238}

Baca juga : Ustadz Abdul Somad : Wabah Itu Seperti Abu dalam Serbuk Kering

Dari paparan di atas, kita dapat memahami prioritas untuk mengambil tindakan pencegahan dan menghinadari sebab-sebab penyebaran penyakit. Semua ini merupakan syariat Islam yang berputar diantara keharusan dan keringanan; dan hal ini akan berbeda disebabkan perbedaan pelaku dan kondisi.

Perkara ini akan berbeda dari orang yang terjangkit wabah ditempat tinggalnya, orang yang tidak terjangkit wabah ditempat tinggalnya, dan antara seseorang yang keluar dari kota yang tersebar didalamnya wabah penyakit dan tidak masuk ke dalam desa yang lainnya. Mungkin saja keringanan lebih utama bagi seseorang sedangkan keharusan lebih utama bagi yang lainnya.

Qaidah Fiqhiyah

  • Tidak boleh membahayakan diri dan membahayakan orang lain
  • Menolak mafsadah (kerusakan) didahulukan daripada mencari kemaslahatan
  • Kesulitan menyebabkan adanya kemudahan
  • Bahaya harus ditolak
  • Kemudharatan harus dicegah dalam batas-batas yang memungkinkan
  • Kemudharatan dibatasi sesuai kadarnya
  • Kebijakan pemimpin (pemegang otoritas) terhadap rakyat harus mengikuti kemaslahatan

Pahala bagi Orang yang Sabar Ketika Terserang Wabah Penyakit Tha’un

Dari Yahya bin Ya’mur dari Aisyah, bahwa ia menyampaikan kepada kami bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah SAW perihal penyakit Tha’un. Kemudian Rasulullah menjelaskan kepadanya, “Sesungguhnya itu adalah adzab yang Allah timpakan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Akan tetapi Allah menjadikan sebagai rahmat bagi orang-orang mukmin. Misalnya, setiap yang negerinya tengah dilanda penyakit Tha’un namun ia bersabar tetap di negerinya, karena ia tahu betul bahwa tiada sesuatupun yang menimpa dirinya melainkan apa yang sudah ditetapkan oleh Allah untuknya, maka pasti ia bakal mendulang pahala sebanyak pahala orang yang gugur sebagai syahid.” {Shahih Al-Bukhari (4/1069) no. 5734}

Abu Hurairah berkata, Aku mendengar Rasulullah bersabda : “Apa saja yang aku larang kamu melaksanakannya, hendaklah kamu jauhi dan apa saja yang aku perintahkan kepadamu, maka lakukanlah menurut kemampuan kamu. Sesungguhnya kehancuran umat-umat sebelum kamu adalah karena banyak bertanya dan menyalahi nabi-nabi mereka (tidak mau taat dan patuh).” {Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim}

Sumber : Kitab FiqhuL Aulawiyyat fi Zhilal Maqashid Asy-Syari’ah Al-Islamiyah, DR. Abdus Salam Ali Al-Karbuli

Baca juga : Lockdown Ternyata Ajaran Rasulullah, Ini Hadistnya