Fatherless, Sosoknya Ada Rangkulannya Tidak Ada

Fatherless, Sosoknya Ada Rangkulannya Tidak Ada

396
SHARE
Ilustrasi Fatherless, sosoknya ada rangkulannya tidak ada
Ilustrasi Fatherless, sosoknya ada rangkulannya tidak ada. Sumber www.theodysseyonline.com

Majalahayah.com – Kekuatan perkembangan kepribadian anak merupakan hasil dari pengasuhan dan penanganan yang baik dari kedua orangtuanya. Ketika salah satu dari kedua orangtua nya tidak hadir perannya, maka terdapat ketimpangan dalam perkembangan psikologisnya.

Dalam hal ini yang sering terjadi adalah dari kehadiran peran ayah. Para ayah sebaiknya memiliki kesempatan untuk berinteraksi dan bercengkerama dengan buah hati, minimal 15 – 30 menit per harinya. Keterlibatan dengan anak ini bisa termasuk mengajaknya bercerita, bermain, mengungkapkan rasa cinta dan sayang, serta mengajaknya berdiskusi ringan. Percayalah, ini akan sangat bermakna bagi perkembangan jiwa anak.

Sebagaimana yang diungkapkan Irni Kristianti, Pendidik Al-Ihsan Islamic School (AIIS) Bekasi. Pendidikan itu tidak hanya untuk tugas ibu, peran ayah juga sangat penting, jadi tidak mungkin anak dibimbing hanya dari ibu saja. Fatherless itu akan menimbulkan efek yang sangat berpengaruh pada anak itu sendiri. Fatherless, sosok itu pasti ada tapi rangkulannya itu yang tidak ada.

Baca juga :   Cina Keluarkan Larangan Anak-Anak Muslim Xinjiang Terlibat Kegiatan Agama

Secara pengertiannya pun seperti yang dijelaskan ustadz Bendri Jaysurrahman, Pakar Pendidikan Parenting. Fatherless atau ketiadaan ayah hakikatnya adalah ketika ayah hanya ada secara biologis namun tidak hadir secara psikologis di dalam jiwa anak. Fungsi ayah lambat laun menjadi dipersempit kepada dua hal yakni: memberi nafkah dan memberi izin untuk menikah. Sementara fungsi pengajaran atau transfer nilai-nilai kebaikan justru hilang yang mengakibatkan anak tak mendapatkan figur ayah dalam dirinya secara utuh.

Kekosongan atau ketidakhadiran peran ayah dalam kehidupan anak, menghadirkan kekosongan dalam diri anak, terlebih dukungan yang diharapkan akan datang dari ayah tidak didapatkan.
 
Seperti yang dikatakan Irma Gustiana A, M.Psi., psikolog Anak dan Keluarga dari Lembaga Psikologi Terapan UI. Peran ayah dalam kehidupan anak sangat berarti, terutama dalam membangun kecerdasan emosi, meningkatkan kemampuan komunikasi, dan motivasi anak di kemudian hari.
 
Dampak buruk dari ketiadaan peran ayah, seperti hasil studi tentang peran ayah dalam kehidupan anak yang dilakukan Kalter dan Rembar dari Children’s Psychiatric Hospital, University of Michigan.

Dikemukakan, apabila tak ada peran ayah dalam kehidupan anak, dampaknya tak bisa dianggap sepele. Apa saja?

Baca juga :   Waesah, Ibu Tangguh Mampu Gali Keunggulan Buah Hati Penderita Gangguan Spektrum Autisme

– 63 persen anak mengalami masalah psikologis seperti gelisah, sedih, suasana hati yang mudah berubah, fobia, dan depresi.

– 56 persen anak memiliki kemampuannya berada di bawah rata-rata.

– 43 persen anak melakukan agresi terhadap orangtua.

Kehilangan peran ayah dalam kehidupan anak berkaitan dengan kesulitan anak untuk menyesuaikan diri di sekolah, lingkungan sosial dan penyesuaian pribadi terhadap perubahan.