Majalahayah.com, Jakarta – Bank Dunia memperkirakan ekonomi Indonesia nol persen (zero growth) pada tahun ini dari sebelumnya 5 persen pada 2019. Proyeksi ini lebih rendah dari beberapa negara di kawasan Asia Tenggara (ASEAN), seperti Kamboja, Vietnam, Myanmar, dan Filipina.

Secara rinci, proyeksi Bank Dunia memperkirakan ekonomi Kamboja akan tumbuh 2,5 persen dari sebelumnya 7,1 persen. Lalu, Vietnam tumbuh 4,9 persen dari sebelumnya 7 persen.

Kemudian, Myanmar tumbuh 3 persen dari sebelumnya 6,3 persen. Selanjutnya, Filipina tumbuh 3 persen dari 5,9 persen pada tahun lalu.

Ekonom Senior Bidang Makroekonomi, Perdagangan, dan Investasi Bank Dunia Ralph van Doorn mengatakan laju perekonomian Indonesia cenderung tidak bergerak pada tahun ini karena tekanan pandemi virus corona atau covid-19.

Menurutnya, tekanan ekonomi akibat virus corona di Indonesia lebih tinggi karena jumlah kasus dan tes pemeriksaan yang rendah.

“Pengujian sangat rendah dari jumlah tes per juta dibandingkan negara lain. Yang terdekat (dengan Indonesia) adalah Filipina, tapi Filipina memiliki sekitar tiga kali lebih banyak jumlah tes per juta. Lalu, dibanding Vietnam, tidak ada satu orang pun yang meninggal di Vietnam,” jelas Ralph saat diskusi virtual di BNPB, Selasa (2/6).

Selain itu, juga dipengaruhi oleh kebijakan penguncian wilayah (lockdown) yang tidak seperti negara-negara lain. “Manila di Filipina mengunci pulau utama mereka secara efektif,” imbuhnya.

Kendati begitu, ia mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan masih lebih tinggi dari beberapa negara ASEAN lain. Misalnya, Malaysia dan Thailand.

Ekonomi Malaysia diproyeksi hanya tumbuh di kisaran minus 0,1 persen dan Thailand minus 3 persen pada tahun ini. “Thailand pembatasannya jauh lebih longgar,” ujarnya.

Sementara untuk skenario terburuk, Bank Dunia memperkirakan ekonomi Kamboja akan menyentuh 1 persen, Vietnam 1,5 persen, Myanmar 2 persen, Filipina minus 0,5 persen, dan Indonesia minus 3,5 persen. Sedangkan Malaysia minus 4,6 persen dan Thailand minus 5 persen.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memperkirakan ekonomi Indonesia hanya akan tumbuh di kisaran 2,3 persen pada tahun ini. Sementara skenario terburuk, laju pertumbuhan akan minus 0,4 persen.