Dulu dan Kini, Sistem Piramida Kekuasaan Fir’aun dan Para Penopangnya

Dulu dan Kini, Sistem Piramida Kekuasaan Fir’aun dan Para Penopangnya

701
SHARE
Ilustrasi kekuasaan Fir'aun. Sumber www.whatshotn.me

Majalahayah.com, Jakarta – Munculnya penguasa-penguasa dzalim yang menindas rakyatnya kini dapat disaksikan di berbagai belahan bumi. Khususnya di negara-negara muslim rakyatnya terus menderita akibat perang, penindasan dan penjajahan. Sejarah mencatat bagaimana umat Islam dihabisi di Bosnia, Kosovo, Irak, Afghanistan, Etnis Rohingya di Myanmar, Palestina dan Suriah. Bahkan di tempat lahirnya Fir’aun sendiri di Mesir, ribuan muslim terancam hidupnya dengan hukuman mati dan penjara seumur hidup. Mereka dikurung dalam ruangan kecil berkawat rapat tanpa diberi kesempatan membela diri.

Sejak dahulu hingga kini mereka yang menolak risalah Islam, senantiasa menghalangi tegaknya aturan Allah SWT. Mereka berusaha agar aturan Allah SWT tersebut tidak pernah terwujud dengan berbagai cara dan rekayasa. Para penguasa menggunakan empat pilar sebagai penopang untuk mempertahankan kekuasaannya, sekaligus menjadikan alat untuk menghalangi, menghambat dan melawan institusi atau jamaah penerus risalah. Disini penguasa dilambangkan dengan Fir’aun, empat pilar tersebut, yaitu Hartawan atau konglomerat; Ilmuan atau cendekiawan; Tokoh agama atau ulama; dan Tentara atau prajurit.

Dalam sejarah tercatat jelas bagaimana rezim kekuasaan Fir’aun pada masa Nabi Musa AS yang diabadikan dalam Al-Qur’an. Gambaran empat pilar yang senantiasa bersekutu menopang kekuasaan Fir’aun yaitu sebagai berikut:

Hartawan atau konglomerat, dilambangkan dengan Qarun
Qarun berasal dari kaum Nabi Musa AS, artinya dia berasal dari tengah-tengah masyarakat yang Nabi Musa AS diutus kepada mereka. Qarun dikaruniai kekayaan harta benda yang tidak terhitung jumlahnya. Ia hidup mewah dan selalu mujur dalam usahanya mengumpulkan kekayaan. Sebagaimana Firman Allah SWT,

Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.” (QS. Al-Qashash 28: 76)

Nabi Musa AS menyampaikan kepadanya bahwa Allah SWT telah mewahyukan perintah berzakat bagi tiap-tiap orang yang kaya dan berada. Tetapi Qarun menolak perintah itu dan menuduh Nabi Musa AS ingin memperkaya diri melalui agama barunya. Ia dengan sombong mengatakan bahwa harta kekayaannya adalah hasil usahanya sendiri. Al-Qur’an mengabadikan perkataan Qarun:

“Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku” (QS. Al-Qashash 28: 78).

Selain kaumnya Nabi Musa As, Qarun juga sangat dekat dengan Fir’aun yang memusuhi Rasul Allah itu. Bahkan ia memperoleh penghasilan besar dari posisinya yang mendua. Fir’aun memanfaatkan Qarun untuk menjadi mata-mata dan pengendali Bani Israil agar tidak berbuat macam-macam yang bisa membahayakan kedudukan Fir’aun. Qarun memainkan peran sebagai orang munafik, yang bekerja untuk kepentingan Fir’aun.

Ilmuan atau cendekiawan, dilambangkan dengan Haman
Haman disebutkan dalam Al-Qur’an sebanyak 6 kali. Sumber-sumber dalam Al-Qur’an menyebutkan kisah Haman terjadi setelah kembalinya Nabi Musa AS dari Madyan. Dalam kerajaan Fir’aun, Haman menempati beberapa posisi penting kerajaan sebagai menteri, penasehat raja, dan sebagai pelaksana proyek pembangunan menara dan infrastruktur lainnya.

Baca juga :   Bagaimana Islam Melihat Dunia? (Part 1)

Dan berkata Fir’aun: “Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta”. (QS. Al Qashas 28 : 38)

Di ayat lain Haman diperintah oleh Fir’aun untuk membuat menara yang akan digunakan Fir’aun untuk melihat “Tuhan Musa”. Pembuatan menara itu memerlukan 50.000 pekerja dan belum termasuk tukang untuk membina kuil-kuil. Fir’aun dengan berbagai tipu dayanya dengan segala yang buruk itu dipandang baik untuk menghalangi jalan kebenaran.

Dan Fir’aun pula berkata: Hai Haman! Buatlah untukku sebuah bangunan yang tinggi, semoga aku sampai ke jalan-jalan (yang aku hendak menujunya). (yaitu) ke pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan sesungguhnya aku percaya Musa itu seorang pendusta! Demikianlah diperhiaskan (oleh Syaitan) kepada Fir’aun akan perbuatannya yang buruk itu untuk dipandang baik, serta dia dihalangi dari jalan yang benar dan tipu daya Fir’aun itu tidak membawanya melainkan ke dalam kerugian dan kebinasaan. (QS. Al Mu’min 40 : 36-37).

Haman adalah simbol kecerdasan/intelektual tanpa moral. Ia menggunakan pengetahuan dan kepintarannya untuk mendapatkan kedudukan yang menguntungkan diri sendiri. Ia adalah tipe pejabat dan intelektual yang memilah-milah ilmunya hanya untuk menyenangkan penguasa.

Tokoh agama atau ulama, dilambangkan dengan Bal’am
Bal’am bin Bauraa, seorang ulama dan pembesar Bani Israil yang hidup semasa Nabi Musa AS, Bal’am orang yang terpandang, karena dia seorang ulama yang cerdik dan pandai. Kedudukannya sebagai rahib/ulama yang menguasai isi kandungan Kitab Taurat membuat Bal’am disegani dikalangan Bani Israil dan juga pengikut Fir’aun. Keberanian Nabi Musa AS menentang berbagai kejahatan dan kemusyrikan yang dilakukan Fir’aun dan para pengikutnya membuat Bal’am popularitasnya tersisih.

Firaun pun mencari ahli kitab yang mau menghentikan da’wah Nabi Musa AS. Hingga ahirnya Fir’aun menggunakan ketokohan Bal’am sebagai Rohib/ulama bani Israil untuk memerangi Musa. Bal’am bin Bauraa yang cinta dunia, gila harta dan jabatan, bersedia diajak Fir’aun menghadapi Musa. Bal’am diperalat untuk membungkam dan merebut keturunan bani israil dengan cara diberikan jabatan dan harta. Fir’aun dengan menggunakan Bal’am berusaha memecah belah Bani Israil dan berencana membunuh Nabi Musa AS.
Bal’am mati dalam keadaan kufur, keimanannya kepada Allah dan Kitab Taurat lepas tak berbekas, lepasnya iman dari Bal’am bagaikan kulit ular yang terlepas dari ular yang megganti kulitnya. Dari keturunan Bal’am inilah lahir keturunan Bani Israil yang terkutuk. Allah mengabadikan kisah ini dengan perumpamaan yang terkandung dalam Al-Qur’an,

Baca juga :   Kemerdekaan Potensi Umat, Mendayagunakan Energi Sisa Menjadi Prioritas Utama

“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri daripada ayat-ayat itu lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat) nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim.” (QS. Al A’raf 7 : 175-177)

Tentara atau prajurit
Dalam menghadapi keberanian para penegak risalah, Fir’aun mempunyai alat eksekusi yang kuat, terlatih dan bersenjata yaitu tentara atau prajurit. Tentara Fir’aun inilah berperan sebagai tangan-tangan Fir’aun yang langsung mengeksekusi, menangkap, menghukum, memenjarakan dan bahkan membunuh dengan kekuatan senjatanya. Bentuk kekuasaannya adalah dengan banyaknya kekuatan tentara yang siap berperang atau menyerang siapapun untuk membentengi kekuasaannya agar ditakuti.

“Dan berlaku angkuhlah Fir’aun dan bala tentaranya di bumi (Mesir) tanpa alasan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka tidak akan dikembalikan kepada Kami. Maka Kami hukumlah Fir’aun dan bala tentaranya, lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut. Maka lihatlah bagaimana akibat orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Qashash 28 : 39-40)

Kekuasaan dzalim Fir’aun akan stabil bila ditopang oleh keempat pilar tersebut, sebagaimana piramida tegak pada alasnya. Sebagai perekat antara kelima komponen dalam pemerintahan dzalim adalah “rasa takut” yang ada pada mereka. Para pemimpin takut kehilangan loyalitas dari rakyatnya. Para ulama yang takut kehilangan pengaruh para pengikutnya. Para hartawan takut kerugian dan kehilangan hartanya. Tentara takut kebutuhan hidupnya tak terpenuhi.

“Dan (juga) Qarun, Fir’aun dan Haman. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka Musa dengan (membawa bukti-bukti) keterangan-keterangan yang nyata. Akan tetapi mereka berlaku sombong di (muka) bumi, dan tiadalah mereka orang-orang yang luput (dari kehancuran itu).”(QS Al-Ankabut 29 : 39)

Mereka bekerja sama menolak dan menentang aturan Allah dengan berbagai cara dan memerangi para penerus risalah. Dengan berbekal potensi pendengaran, penglihatan dan hati, umat perlu membuka lebar pemahaman tentang yang tersirat dalam kisah di Al-Qur’an dengan mentafakuri kondisi dan gejolak yang ada. Memahami perkembangan di negara-negara baik negara yang minoritas muslim maupun mayoritas muslim, salah satunya di masyarakat sekitar.