Diperkirakan 1,5 Juta Etnis Uighur ditahan di Kamp Penahanan

Diperkirakan 1,5 Juta Etnis Uighur ditahan di Kamp Penahanan

49
SHARE
Muslim Uighur. (Foto: Fimadani)

Majalahayah.com, Seorang peneliti terkemuka dalam bidang kebijakan etnis China pada Rabu mengatakan bahwa diperkirakan 1,5 juta etnis Muslim Uighur dan Muslim lainnya saat ini ditahan di kamp penahanan yang disebut sebagai “pusat reedukasi” di Provinis Xinjiang. Perkiraaan itu meningkat dari estimasi sebelumnya sebanyak 1 juta orang.

Cina menghadapi sorotan dunia internasional terkait penahanan etnis Muslim Uighur dan kamp-kamp reedukasinya di Xinjiang, sebuah wilayah mayoritas Muslim yang berbatasan dengan Asia Tengah. Beijing mengatakan langkah-langkah itu diperlukan untuk membendung ancaman ekstremisme Islam.

“Meskipun spekulatif, tampaknya tepat untuk memperkirakan bahwa sampai 1,5 juta etnis minoritas – atau setara dengan hanya di bawah 1 dari 6 anggota dewasa dari kelompok minoritas Muslim di Xinjiang – telah atau telah diinternir dalam didetensi, diinternir dan ditahan di salah satu fasilitas penahanan, reedukasi, tidak termasuk penjara formal, ” kata peneliti independen Jerman, Adrian Zenz sebagaimana dilansir Reuters, Kamis (14/3/2019).

Baca juga :   Ketua MPR Tolak Wacana Penghapusan Pelajaran Agama

Perkiraan Zenz itu didasarkan pada pantauan foto-foto satelit, belanja publik untuk fasilitas-fasilitas penahanan tersebut dan keterangan saksi mata mengenai fasilitas yang kelebihan daya tampung serta laporan anggota keluarga yang hilang.

“Upaya China untuk memberantas ekspresi independen dan kebebasan berekspresi dari identitas etnis dan agama yang berbeda di Xinjiang tidak lain adalah kampanye sistematis genosida budaya dan harus diperlakukan seperti itu,” tambahnya.

Baca juga :   Ternyata Ini Alasan Gagalnya Pemprov DKI Dibawah Ahok Menurut NSEAS (bagian 2)

Pada Rabu, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat melayangkan kritik tajam terhadap pelanggaran hak asasi manusia di China. Washington mengatakan jenis pelanggaran yang dilakukan China terhadap minoritas Muslimnya belum pernah terlihat “sejak tahun 1930-an”.

Parlemen AS bahkan menuntut Washington untuk merespons apa yang mereka nilai sebagai pelanggaran hak asasi manusia oleh China itu dengan menjatuhkan sanksi terhadap Beijing.