Berdoa

Majalahayah.com, Jakarta – Sulaiman Alaihissalam adalah seorang Nabi dan Rasul yang dianugerahi kekayaan melimpah yang tidak dimiliki manusia mana pun di muka bumi. Allah Subhanahu wa ta’ala memberinya kerajaan hingga jin, hewan, serta angin tunduk kepada Beliau.

Mengutip dari Sindonews, Jumat (29/5/2020), Nabi Sulaiman tetap menjadi hamba yang bersyukur dan tidak lupa diri dengan nikmat tersebut. Beliau mengajarkan hakikat bersyukur.

Meski diberi limpahan nikmat besar, Nabi Sulaiman selalu taat dan tidak lupa bersyukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Inilah doa Nabi Sulaiman yang diabadikan dalam kitab suci Alquran Al Karim:

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحاً تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ

Artinya: “Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal salih yang Engkau ridai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang salih.” (QS An-Naml: 19)

Ustadz Muchlis al Mughni mengatakan doa tersebut diucapkan Nabi Sulaiman sambil senyum mengingat aneka nikmat Allah Subhanahu wa ta’ala yang diberikannya terkhusus saat mendengar percakapan raja semut dengan rakyatnya agar segera masuk lubang persembunyian khawatir akan terinjak oleh bala tentara Nabi Sulaiman.

Ayah Sulaiman juga seorang Nabi dan raja. Dia adalah Daud Alaihissalam. Limpahan nikmat berupa kerajaan, kekayaan, dan ilmu pengetahuan tidak membuat mereka lupa bersyukur kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, justru membuat mereka semakin mendekat kepada Allah dan takut kepada-Nya.

“Begitulah idealnya sikap manusia ketika diberi nikmat bukan sibuk menikmati kenikmatan itu, tetapi sibuk dengan bersyukur dan mengingat Yang Maha Pemberi kenikmatan,” kata Ustadz Muchlis yang juga Imam Masjid Cut Meutia Menteng Jakarta Pusat ini.

Semua kenikmatan yang diberikan mulai dari ayahnya, Daud sampai kepada diri Nabi Sulaiman tidak membuatnya menjadi raja tirani dan lupa diri. Kenikmatan yang begitu besar tidak membuat Sulaiman lalai.

“Sudah seharusnya kita malu karena baru sedikit memiliki kekayaan, pangkat, ilmu dan popularitas justru lalai dan lupa diri, bahkan malas berdoa kepada Allah Ta’ala,” pungkas Ustadz Muchlis yang merupakan lulusan Universitas Al Azhar Kairo, Mesir, ini.