Home Parenting Demi Masa, Inilah Perjalanan Panjang Seorang Ayah

Demi Masa, Inilah Perjalanan Panjang Seorang Ayah

1627
Ilustrasi. Sumber: kuliahislamonline.com

Majalahayah.com – Layaknya seorang manusia yang memiliki perjalanan mulai dari dalam kandungan hingga dewasa, maka seorang ayah, sebagai manusia juga memiliki perjalanan panjang. Perjalanan yang bukan hanya sekedar pertumbuhan dari bayi hingga dewasa, melainkan sebuah perjalanan panjang dalam membentuk jati dirinya sebagai seorang ayah. Perjalanan yang juga ikut menentukan pola pikir, sikap hidup dan tindakan saat ia menjadi seorang ayah. Disebut perjalanan panjang sebab perjalanan ini memiliki rentang waktu yang panjang serta terus berlangsung meski ia sudah meninggal dunia. Segala proses yang ia jalani selama perjalananya akan menjadi nilai-nilai yang akan diteruskan oleh generasi sesudahnya.

Begitu besar tanggung jawab yang dimiliki, maka perjalanan ini menjadi penting, sehingga seorang ayah wajib memahami substansi tanggung jawab tersebut. Termasuk mempelajari tentang visi dan tujuan hidup, untuk kemudian menyiapkan segala kebutuhan guna mencapainya. Rentang waktu perjalanan dimulai saat seorang ayah adalah anak laki-laki kecil hingga empat masa setelahnya. Secara garis besar ayah mengalami lima masa dalam rentang waktu perjalanannya.

Masa pertama adalah MASA AYAH KECIL. Rentang waktu ini adalah masa dimana seorang laki-laki kecil menjadi cerminan sikap, tutur kata, dan karakter orang tuanya, khususnya ayah. Masa ini akan berlangsung hingga ia menjelang dewasa. Ia akan senantiasa menyerap apa yang dicontohkan dan diajarkan. Semua ingatan tentang bagaimana ayahnya mendidik akan tersimpan dengan sangat baik dalam memori di otaknya, kelak memori ini akan menjadi dasar ia bertindak. Jika memori yang tersimpan adalah memori kebaikan maka kebaikan itulah yang akan keluar saat ia dewasa, begitupun sebaliknya. Sehingga dapat dikatakan memori tersebut menjadi dasar saat ia bertingkah laku.

Kedekatan seorang ayah terhadap ayah kecilnya (baca : anak lelakinya) adalah salah satu faktor meningkatnya kecerdasan intelektual, emosional, serta sosial dari si anak. Inilah masa yang sangat krusial untuk seorang ayah dan anak laki-lakinya.

Masa kedua adalah MASA AYAH MUDA. Berbagai dinamika dalam kehidupan akan terus dialami. Tempaan, pembelajaran, pendidikan pengetahuan, dan pergaulan hidup menjadi hal yang sangat penting. Ia akan menjelma menjadi laki-laki baru (pemuda) saat rentang masa ini. Namun, masa ini juga akan menjadi boomerang jika laki-laki baru tadi tidak menempa diri tentang siapa dan untuk apa tujuan hidupnya. Bekal yang didapat saat masa ayah kecil akan banyak digunakan di masa ayah muda ini.

Masa ketiga adalah MASA PRA AYAH. Bekal yang ia peroleh pada dua masa sebelumnya senantiasa ia gunakan dalam masa ini. KECERDASAN, KEJUJURAN, DAN KEPEMIMPINAN sebagai suami menjadi prinsip yang harus selalu dipegang. Saat prinsip ini hilang, tentunya akan menjadi masa yang penuh konflik, karena prinsip tadi bertujuan untuk menciptakan kondisi rumah tangganya agar selalu dipenuhi dengan kedamaian dan ketenangan. Ketiga prinsip ini lahir sebagai hasil dari masa-masa sebelumnya yang ia alami serta ditambah keilmuan yang wajib dipelajari, yang bersumber dari nilai-nilai hakiki.

Bukti kesungguhan untuk menjadi ayah terbaik bukanlah hanya dimata keluarga, tetapi yang lebih utama adalah dihadapan Tuhannya. Ketika kecerdasan berpikir, sikap, kejujuran dan jiwa kepemimpinannya telah teruji di masa ini, maka ia baru selesai melewati masa pra ayah.

Masa keempat adalah MASA AYAH. Memulai sebuah gelar terhormat, yaitu satu masa yang didalamnya terdapat tanggung jawab besar yang diberikan oleh Allah SWT. Juga sebagai bentuk aplikasi dan ujian terbaru dari tiga prinsip sebelumnya yaitu KECERDASAN, KEJUJURAN, DAN KEPEMIMPINAN agar dapat menjaga salah satu amanatnya, yaitu berupa hadirnya seorang anak. Memori saat masa ayah kecil, ilmu dan pengetahuan saat masa ayah muda dan masa pra ayah akan menjadi dasar baginya untuk beramal.

Dengan bekal ilmu tersebut, kelak ia akan mulia jika semakin mendekatkan diri kepada Tuhannya atau dia akan terhina ketika semakin jauh dari Tuhannya. Dan  bagi mereka yang belum diamanatkan anak, rasa syukur dan sabar adalah obat agar senantiasa ridho atas apapun takdir-Nya.

Masa kelima adalah MASA PASCA AYAH. Masa ini, selain keilmuan juga membutuhkan keikhlasan, sebagai bekal saat menjalani masa pasca ayah. Ia akan melihat anaknya mulai menjalani apa yang ia pernah jalani dan melakukan apa yang ia ajarkan. Ia akan senantiasa mulai memikirkan kembali, apakah sudah benar amalnya dalam upaya menjaga amanat/titipan-Nya? Masa ini adalah masa harap dan cemas, yaitu berharap bahwa amalnya berhasil untuk mendapatkan ridho-Nya dan cemas jika ternyata amal tersebut tidak mendapatkan ridho-Nya.

Selanjutnya dia akan terus memikirkan, apakah istri dan anaknya sudah berproses untuk menjadi pribadi yang memuliakan Allah SWT atau malah sebaliknya? Masa ini hanya ada dua pilihan, yaitu menikmati atau menyesali.

Kelima masa diatas adalah siklus masa bagi seorang ayah yang tidak akan pernah berhenti, selama dunia masih berputar. Sekalipun Allah SWT belum mengamanatkan seorang anak, tetaplah anda para suami adalah seorang ayah bagi keluarga dan lingkungan anda. Sebab, sebutan ayah bukan hanya kepada laki-laki yang sudah menikah dan punya anak, melainkan juga untuk anda para suami dan pemimpin yang berupaya menjaga diri dan keluarga anda dari api neraka. Itulah ayah sejati, seorang pemimpin sejati.

Referensi:
QS Al-Asr (103): 1-3
1. Demi masa.
2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

QS Al-Anfal (8): 27-28
27. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.
28. Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.

Al-Hadist:
“Apabila seorang anak Adam telah mati, terputuslah amalannya, kecuali tiga perkara; sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang selalu mendoakannya.”

(TS/Novery Dwirachmat)