Ilustrasi perbaiki diri kita dulu dari hati. (MA/HA)

Majalahayah.com – Setiap waktu orang disibukkan dengan berbagai hal, dan terlibat berbagai masalah juga. Dari sini banyak yang gamang, galau dan kebingungan harus dari mana menyelesaikan problem hidup dan memperbaikinya.

Berikut kita simak kajian Ustadz Hanan Attaki, Lc mengenai bagaimana kita memperbaiki berbagai masalah yang ada dalam hidup.

Kata Ulama, Bagaimana Bayangan itu akan lurus sedangkan pohonnya bengkok, lalu ulama menjelaskan yang dimaksud pohon itu hati, iman, jiwa. Sedangkan bayangan adalah perbuatan kita, akhlak kita, amal-amal kita itu adalah bayangan kita. 

Jadi seolah-olah ulama mengatakan bagaimana mungkin amal seseorang akan lurus kalau niatnya tidak ikhlas. Itu sama tidak mungkin bayangan itu lurus sedangkan batang kayunya bengkok. Bagaimana amalan itu akan istiqomah, akan lurus, akan baik kalau hatinya tidak ikhlas. 

Supaya hati tidak bengkok doa nya “robbana la tuzigh qulubana ba’da idz hadaitana minladunka rohmah innaka antal wahhab” ya robbana.. janganlah engkau condongkan hati kami kepada kesesatan, keduniawian, hawa nafsu dan seterusnya (QS. Al-Imran 3 : 8). Supaya lurus kita berdoa “yaa muqalibal qulub sabbit qolbii ‘aalaa diinik”. Ada juga ulama yang menyebut bagaimana hidup seseorang akan bahagia sedangkan hatinya sedang galau. Kalau hati kita sedang sedih kita ditempat manapun dalam kondisi dan tempat apapun tetap saja sedih. Karena bahagia dan sedih itu berawal dari hati. Bukan yang ada disekeliling kita.

Begitu juga ulama menyatakan tentang bagaimana bayangan akan lurus kalau bengkok begitu juga berarti bagaimana akhlak akan mulia kalau hati mendengki. susah kalau ingin punya akhlak mulia tapi hati mendengki. orang nya mulia banget tapi hati nya mendengki itu dua hal yang tidak akan ketemu. Seperti tidak bertemunya kayu bengkok dengan bayangan yang lurus. 

Sehingga kalau kita ingin memperbaiki amal kita perbaiki dulu hati kita. perbaiki dulu jiwa kita perbaiki dulu batin kita. Sehingga saya sebutkan jangan coba meluruskan bayang-bayang, enggak akan mungkin lurus. Banyak orang yang sibuk untuk mendapatkan kebahagiaan dia mencoba meluruskan bayang-bayang. Lari antara Bukit Shofa dan Marwah, bukanya itu sibuk dengan bayang-bayang. Ketika Siti Hajar naik ke Bukit Shofa mencari air untuk bayinya Ismail. Lalu diatas Bukit Shofa dia melihat fatamorgana. Melihat ada bayang-bayang seolah-olah ada genangan air. lalu dia lari kesana naik lagi ke Bukit Marwah. Sampai Bukit Marwah dia lihat lagi ada genangan air ternyata tidak ada. 

Ketika ada orang yang ingin bahagia banyak yang ingin meluruskan bayang-bayang. Mencari fasilitas hidup ternyata kebahagiaan bukan dari situ. Walaupun bisa berasal dari situ tapi bukan faktor nya dari sana. Kebahagiaan berasal dari hati seseorang.

Saya pernah baca artikel untuk motivasi seorang ayah atau ibu.

Kenapa sih ayah sibuk banget cari siang dan malam bekerja pergi pagi pulang malam. Sampai tidak ada waktu bertemu anak-anaknya. Biasanya jawabnya demi anak.

Kenapa ibu sibuk sekali dengan karirnya home bisnisnya dengan jualan online kata dia demi anak. 

Sibuk ayah ibu demi anak-anak. Tetapi anak tidak butuh semua fasilitas mewah tersebut. Sehingga saat ulang tahun bisa berikan kado yang mahal weekend bisa jalan jauh menginap di hotel bintang lima segala macam. Tetapi ditinggal dalam waktu yang lama. Lalu saat dibuat survei anak itu tidak butuh semua kemewahan seperti itu. 

Mereka hanya butuh ditemani, butuh figur seorang ayah yang bisa menjadi figur ideal yang mereka tiru kalau mereka anak laki-laki. Mereka hanya butuh rasa aman dan nyaman kalau mereka anak perempuan. Sehingga tidak mencari kenyamanan dari lelaki lain. Intinya banyak orang yang mencari kebahagiaan sibuk meluruskan bayangan. 

Jadi dalam Islam itu amal terbagi menjadi dua. Baik itu disebut sebagai ibadah atau disebut sebagai muamalah. Pertama disebut amal bathi, kedua amal Zahir. Kalau kita membaca sejarah Nabi Muhammad itu terbagi menjadi dua. Amal bathin nabi disebut syariroh, kalau amal zahir nabi disebut sirah. Selama ini kita belajar nabi sirah-nya saja. Zahir-nya saja misal memakai apa secara fisik tapi kita lupa dengan syariroh-nya. Ini menunjukan kita belum utuh dalam menjalankan sunnah Nabi Muhammad.