Gedung Kedutaan Besar Inggris. Foto : www.wikiwand.com

Majalahayah.com, Jakarta – Sejak mengumumkan referendum dari keanggotaan Uni Eropa pada tahun 2016 lalu, negara Britania Raya atau Inggris kini mengalami peristiwa yang memiliki singkatan populer Britain Exit “Brexit”, menjadi momok bagi negara-negara yang memiliki hubungan ekonomi dengan Inggris. Meskipun akan dilakukan pemungutan suara ulang kembali Brexit dalam waktu dekat oleh Inggris, para ekonom meyakini akan ada sejumlah dampak ekonomi baik itu jangka pendek, jangka menengah, maupun jangka panjang yang terjadi pada Inggris.

Dampak jangka pendek yang akan begitu terasa pasca keluarnya dari Uni Eropa pada bidang ekonomi yakni penurunan pendapatan perkapita riil bagi negara Inggris. Sedangkan dampak jangka menengah dan jangka panjang yang akan terjadi yakni pertumbuhan ekonomi Inggris akan terhambat 2-8% dalam 15 tahun pasca Brexit dan sebuah kajian yang dilakukan oleh ekonom dari Universitas Cambridge menyatakan jika Hard Brexit yang terjadi maka menimbulkan dampak berupa sepertiga ekspor Inggris ke Uni Eropa akan bebas tarif, seperempatnya akan terganjal tarif yang sangat tinggi, dan sisanya akan beresiko terkena tarif antara 1-10%.

Inggris yang saat ini menduduki peringkat 6 besar ekonomi dunia akan memiliki iklim ketidakpastian atau uncertainty pada pasar finansial dalam negerinya jika Hard Brexit terjadi karena belum ada gambaran yang jelas terhadap pengaturan akses pasar financial services antara Uni Eropa dan Inggris. Inggris harus bersiap-siap terhadap kemungkinan adanya kemunduran ekonomi yang mereka alami dalam jangka pendek pasca Brexit hal tersebut bisa mempengaruhi investasi Inggris di luar negeri.

Iklim investasi Inggris bisa melambat, atau kemungkinan tertarik kembali ke Inggris. Ini disebabkan perusahaan-perusahaan Inggris akan lebih mementingkan keberlangsungan usaha di Inggris yang dianggap sebagai markas besar, dibanding di negara lain. Hard Brexit akan menciptakan 2 yurisdiksi perdagangan yang terpisah antara Inggris dan UE.

Dampak Brexit kepada Indonesia

Menggunakan pendekatan kajian intelijen ekonomi pada pembahasan dampak Brexit terhadap Indonesia dalam perspektif Ekonomi dan Globalisasi, opini kali ini mencoba menjabarkan poin-poin krusial yang akan terjadi kepada Indonesia sebagai dampak Brexit. Mengenai teori Intelijen adalah suatu ilmu tentang pengumpulan informasi yang telah diolah sehingga berguna untuk pengambilan keputusan.

Dalam ilmu intelijen dikenal juga anatominya yaitu bagian-bagian penting dari kegiatan intelijen yakni: tugas pokok, peringatan dan penemuan dini (awal) segala bentuk Ancaman, Tantangan, Hambatan, dan Gangguan (ATHG) terhadap kepentingan nasional dari manapun datangnya dan bagaimanapun bentuknya untuk memungkinkan perencanaan dan keputusan terlebih dahulu.

Dampak Brexit yang akan dirasakan Indonesia dari pendekatan intelijen ekonomi yakni ancaman terkena beban tarif dan requirements perdagangan dua kali, yaitu di border Inggris dan di border Uni Eropa. Pada gilirannya akan menyulitkan para eksportir Indonesia yang menjadikan Inggris sebagai export hub ke Uni Eropa.

Mereka harus melakukan efisiensi dengan mengalihkan jalur ekspornya, yang semula melalui Inggris, menjadi langsung ke Uni Eropa. Akibatnya, jumlah ekspor ke Inggris bisa berkurang karena efisiensi tersebut.

Hal ini juga membuat para eksportir Indonesia yang mempergunakan Inggris sebagai penetrasi ke Uni Eropa juga perlu mempertimbangkan lokasi kantor cabang/perwakilan. Tidak menutup kemungkinan juga para eksportir di Inggris harus membuka kantor baru di Uni Eropa untuk menangani ekspor ke UE pasca Hard Brexit.

Dari sisi peluang intelijen ekonomi memandang perdagangan Indonesia ke Inggris bisa juga menjadi lebih mudah. Karena bila lepas dari Uni Eropa, Inggris juga lepas dari kesepakatan-kesepakatan dengan Uni Eropa yang mengikat dengan mengambil contoh tentang ekspor sawit yang saat ini sedang hangat dibicarakan.

Setelah Inggris lepas dari Uni Eropa, Indonesia justru bisa melakukan deal dengan Inggris terkait ekspor ini, tidak perlu melakukan deal-deal yang lebih kompleks dengan Uni Eropa yang peraturan-peraturannya kerap kali memberatkan Indonesia.

Brexit bila dilihat secara negatif menjadi ancaman Indonesia menurut intelijen ekonomi karena perekonomian negara Inggris bila benar Brexit terlaksana secara tidak langsung membatasi ruang lingkupnya dalam lingkup globalisasi di mana perputaran barang dan jasa tidak lagi terbatas pada suatu negara dan wilayah.

Pasca Brexit, perekonomian Inggris bisa saja tidak stabil dan Inggris tidak bisa menanganinya. Pada akhirnya akan menciptakan pengangguran dan memperlambat laju perekonomian negara Inggris sendiri. Jika pertumbuhan Inggris  melambat, nanti akan berdampak pada permintaan terhadap produk-produk impor.

Kemudian akan berimbas kepada permintaan ekspor dari Indonesia kepada Inggris yang juga menurun. Karena sebelum Brexit neraca perdagangan Indonesia terhadap Inggris selalu surplus. Artinya nilai ekspor Indonesia ke Inggris lebih besar ketimbang impor Indonesia dari Inggris.

Brexit bila dilihat secara positif menjadi tantangan Indonesia menurut intelijen ekonomi karena Inggris mengalami kemajuan pesat dan menjadi peluang yang bagus untuk kepentingan nasional Indonesia terutama pada bidang ekonomi. Indonesia bisa mengambil keuntungan dari Brexit jika pemerintah Indonesia secara proaktif melobi pemerintah negara Inggris.

Salah satu strategi yang bisa dilakukan adalah membuat bilateral Free Trade Agreement (FTA) dengan Inggris. Kesimpulannya, dalam jangka pendek, pasar keuangan Indonesia mungkin agak bergejolak gara-gara Brexit. Namun dalam jangka panjang, Brexit justru bisa menguntungkan Indonesia secara fundamental.

Oleh : Vakeh Elfa
(Mahasiswa S2 UI, Sekolah Kajian Stratejik dan Global, Ketahanan Nasional)