Cinta Masa Gitu? Inilah Cinta Sesungguhnya

Cinta Masa Gitu? Inilah Cinta Sesungguhnya

81
SHARE
Ilustrasi cinta masa gitu?

Majalahayah.com – Hidup begitu indah jika dengan cinta, yaitu dengan cinta yang tepat pada tempatnya dan pada hakikatnya. Namun apa dan bagaimana dengan cinta yang tidak tepat? Dan bagaimana berhati-hati dengan cinta?

Simak uraian lengkap yang menyejukkan dari kajian Ustadz Hanan Attaki, Lc berikut:

Dalam Al-Qur’an Surat At-Taubah Ayat 24,

Qul in kaana aabaa’ukum wa-abnaa’ukum wa-ikhwaanukum wa-azwaajukum wa’asyiiratukum wa-amwaalun iqtaraftumuuhaa watijaaratun takhsyawna kasaadahaa wamasaakinu tardhawnahaa ahabba ilaykum mina laahi warasuulihi wajihaadin fii sabiilihi fatarabbashuu hattaa ya’tiya laahu bi-amrihi walaahu laa yahdii lqawma lfaasiqiin.

Katakanlah: “jika ayah-ayah, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.

Teman-teman yang dirahmati Allah SWT, ayat ini menjelaskan kepada kita tentang resiko kalau kita mencintai sesuatu melebihi cinta kepada Allah dan Rasul. Pokoknya kata Allah, disini tidak mungkin kalian akan bahagia kalau kalian mencintai sesuatu melebihi cinta kalian kepada Allah dan Rasul.

Tidak mungkin kalian akan dapat apa yang kalian inginkan, kalau kalian mencintai seseorang atau sesuatu melebihi cinta kalian kepada Allah dan Rasul. Itu tidak mungkin, bukan hanya tidak mungkin, bahkan Allah mengancam dengan ancaman ‘fatarabbasu’, hati-hati kalian, kata Allah. Artinya tidak boleh seorang hamba itu menduakan cintanya kepada Allah dengan cintanya kepada makhluk, itu tidak boleh. Kalau dia mencintai makhluk haru karena Allah, kalau dia mencintai makhluk bukan karena Allah. Allah bilang ‘fatarabbasu’ hati-hati. Makhluk itu kata Allah bukan orang yang jauh. Orang itu kata Allah orang yang dekat dengan kita, orang yang layak kita cintai, dan tidak dosa mencintai mereka, kecuali kalau bukan karena Allah.

Orang tua, bukankah kewajiban seorang anak mencintai orang tua tapi kalau bukan karena Allah atau melebihi cintanya kepada Allah daripada cintanya kepada Allah, maka itu akan fatarabbasu hati-hati kata Allah, tunggu aja kata Allah. Ini tegas bahasanya dan ada meletakkan ayat ini di dalam surat At-Taubah, dan salah satu diantara ciri khas dari surat At-Taubah, isinya adalah tentang orang-orang munafik, bisa jadi teman-teman kalau kita mau jujur menilai diri kita mukmin apa engga. 

Coba lihat jangan-jangan kita yang selama ini kita rasakan itulah yang menjadikan tanda-tanda kemunafikan kepada diri kita. Kalau kita mau tau, kita ini mukmin atau munafik salah satunya liat aja dalam urusan cinta.  Apakah kita mencintai seseorang atau sesuatu melebihi Allah dan Rasul? Atau sama pun tidak boleh apalagi melebihi.

Baca juga :   Ketua NSEAS: Pemprov DKI Gagal Urus Pengangguran dan Kemiskinan

Kalau itu ternyata ada didalam hati kita dan tidak bisa dibuat-buat, dan kita tidak mungkin membohongi diri kita sendiri berarti kita termasuk orang yang diancam di surat-surat Bara’ah, surat Al-Munafiqun. Kalau surat Al-Munafiqun itu pendek ini ada surat lebih panjang daripada Al-Munafiqun yaitu surat At-Taubah, isinya tentang orang munafik, dan Allah bilang tidak mungkin bahagia orang yang mencintai sesuatu atau seseorang yang melebihi cintanya kepada Allah dan Rasul.

Kalau kita mencintai ayah dan ibu kita harus karena Allah dan Rasul, maksud karena Allah dan Rasul apa? Satu, karena perintah Allah dan Rasul, kalau perintah Allah tidak mencintainya, maka kita tidak mencintainya. Emang Allah pernah menyuruh hambanya untuk membenci orang tua? Atau membenci keluarganya? Membenci pasangannya? Membenci anaknya?

Pernah di dalam perang Badar. Perang badar itu bisa dibilang perang saudara yang sebenarnya. Seorang ayah berperang dengan anaknya. Ayahnya dipasukan kaum musrikin, anaknya dipasukan kaum muslimim, pamannya dipasukan kaum musrikin, ponakannya dikaum muslimin, saudara kakanya dikaum musrikin, adeknya dikaum muslimin, dan itu banyak. Salah satu yang terkenal adalah Abdullah bin Suhail. Ayahnya di barisan orang Abu Jahal, anaknya di barisan Rasullullah SAW. Sehingga banyak yang terjadi adalah seorang ayah membunuh anaknya, atau anaknya membunuh ayahnya dalam kondisi seperti itu Allah menyuruh membuang rasa cinta kepada keluarga karena cinta kepada Allah lebih berharga dari pada cinta kepada siapapun, siapa mereka yang memusuhi kaum muslimin, yang mendzalimi, yang memfitnah, yang memerangi kaum muslimin.

Tetapi jika mereka hanya berbeda agama, tidak memerangi kaum muslimin, maka Allah menyuruh kita berbakti kepada mereka walaupun mereka beda pemahaman dan ideologi bagi kita. Ini namanya cinta karena Allah, jangan mentang-mentang orang tua kita sama muslim, cuma mungkin beda pemahaman, yang satu agamanya setelah belajar di ta’lim, yang satu lagi dulu belajarnya dan lebih banyak campuran budaya, terus akhirnya kita tidak mencintai orang tua kita banyak menghujat, banyak mendebat. Itu bukan karena Allah walaupun alasannya agama, tapi itu bukan karena Allah.

Allah tetap menyuruh kita “wala kullu tahuna ufin.” Allah tetap menyuruh kita untuk “wa asyiru bil ma’ruf”, berbuat baik kepada istri kita kepada anak kita walaupun mereka belum menjadi orang yang taat, karena itu beda lagi urusannya. Makanya cinta karena Allah pertama, cinta karena perintah Allah, siapa yang harus dicintai siapa yang tidak perlu dicintai.

Siapa yang kalau kita mencintainya berpahala, siapa yang kalau kita mencintainya maka berdosa. Bagaimana kalau kita mencintai idola-idola yang sebetulnya ketika kita mencintainya justru membuat hati kita terganggu, khusyu’ kita jadi berkurang.

Baca juga :   Pendidikan Seksualitas dalam Islam untuk Anak Laki-laki

Mencintai seseorang yang kita tiru perilakunya yang tidak baik, berarti bukan karena Allah. Cewek-cewek misalnya ikut konser seorang penyanyi yang keren, terkenal, lagi ngetop, sudah gitu seksi lagi, suaranya bagus, kalau lg main gitar keren banget, pas kita nonton konsernya histeris. Jangankan itu, histeris terhadap mayat suami aja dilarang, meratapi mayat itu tidak boleh termasuk dosa besar. Apalagi histeris terhadap manggungnya orang yang bukan siapa-siapa bagi kita. Itu lebih tidak boleh lagi. Cinta ini pasti bukan karena Allah. Dan ini kalau ada dihati kita pasti tidak akan bahagia. Sudah ngga berpahala, ngga ngebahagiain, ngga nambah amal soleh.

Terus bagaimana terhadap yang seperti gitu? Biasa saja tidak usah pakai perasaan. Kalau mau nikmati hiburan pun tidak apa-apa asal tidak baper.

Tidak usah sampe nangis-nangisan di bandara gara-gara nungguin Justin Bieber datang, ternyata dia ambil jalur lain, dia nangis-nangis, “sudah seharian saya nunggu di bandara gak ketemu”. Artinya itu sudah baper dan perasaan itu pasti akan mengganggu ke khusyu’an kita dalam ibadah kepada Allah.

Yang terjadi sekarang banyak kaum muslimin cintanya bukan lagi karena Allah, dia tidak mencintai orang tuanya, padahal Allah menyuruh dia mencintai orangtuanya. Dia tidak lagi mencintai ulama, padahal Allah menyuruh mencintai ulama “wakunu sodikin,” kata Allah, dan tetaplah kamu, jadilah kamu. Bersamalah kamu dengan orang-orang yang sholeh, dia tidak lagi menjadikan para sahabat menjadi idolanya, ini pasti cinta karena hawa nafsu atau godaan iblis.

Makanya coba kita revolusi cinta kita, dari cinta yang karena hawa nafsu menjadi cinta karena Allah, tapi tetap bisa nikmati hiburan. Segala macam yang sifatnya masih mubah silahkan nikmati, tetapi jangan pakai perasaan karena itu berbahaya. Sebagian besar hiburan itu mubah. Mubah artinya tidak dilarang, tidak disuruh, secara pahala, tidak berpahala, tidak berdosa. Seperti kita nyanyi sendiri atau dengar musik yang masih wajar, ini tidak nambah pahala, dan dosa.

Maka tidak masalah kita tetap menikmati hiburan tetapi jangan libatkan perasaan cinta, karena hati itu adalah wadah yang kosong dan dia bisa diisi dengan satu hal kalau sudah penuh dengan satu hal tidak akan bisa diisi dengan hal lain. Kalau sudah penuh dengan cinta yang bukan karena Allah maka keluarlah cinta karena Allah, biarkan dia kosong dulu, nanti diisi cinta kepada Allah dan Rasul.

Mencintai orang tua, ulama, orang sholeh dan mencintai amal-amal yang membuat kita dicintai oleh Allah SWT. Ini cinta yang kita revolusi, kita bangun dalam hati kita dan kalau sudah dapat insyaa Allah beramal sholeh akan ringan banget.