Majalahayah.com, Jakarta – Bisa bekerja sesuai passion tentu menjadi keinginan semua orang, terutama anak muda. Akan tetapi, tidak semua orang berhasil mendapatkannya dan berani melakukannya.

Tapi Sasti Hapsari Nurdiana, pada usia muda telah memilih public speaker sebagai profesi. Baginya bukan hanya butuh passion, tapi juga pengalaman yang membentuknya selama ini.

Dara kelahiran Jakarta ini pun menerima wartawan Majalahayah di kantornya yang asri. Berbincang-bincang seputar pengalamanya sebagai public speaker, cara dirinya melatih sebelum tampil, juga pandanganya tentang perempuan pada era millenial. Berikut ini wawacara lengkapnya.

Inspirasi menjadi publik speaker?

Karena pertama kali tau passionnya sebagai public speaking. Awalnya aku mengikuti story telling pakai bahasa Inggris gak tau kenapa aku senang banget.
Selanjutnya, saat Sekolah Menengah Pertama (SMP) aku juga ikut banyak lomba-lomba news casting dan
story telling semakin lama jadi semakin suka. Dan saat Sekolah Menengah Atas (SMA) sering jadi Master of Ceremony (MC) di internal sekolah dan juga  di beberapa acara di sekolah lain. Kok jadi ngerasa suka banget sama nge-MC.

Memasuki dunia perkuliahan di Universitas Indonesia fakultas Komunikasi, jadi ada rasa keinginan untuk bekerja sebagai public speaker. Awalnya aku berpikir kerjaan seperti ini hanya part time. Tetapi, saat semester ke-2 aku mengikuti Abang None Jakarta Selatan dan disana sudah mulai terbuka networknya untuk jadi MC.

Dari semester ke-2 aku sudah kuliah sambil kerja, masuk ke semester ke-4 dan ke-5 jadwal semakin padat. Dan saat skripsian, aku udah mantap untuk disini (public speaker).

Apakah jadi publik speaker cita-cita dari kecil?

Awalnya aku ingin jadi guru bahasa Inggris atau story teller tapi akhirnya yang terwujud sekarang tidak jauh-jauh dari ranah situ. Menjadi publik speaker sudah dari tahun 2014.

Selama 4 tahun ini ada pengalaman menarik gak?

Sangat amat variatif banget entah itu dari client, company dan panitia acara. Pengalaman yang menarik, jadi ada pembelajaran banget buat aku. Jadi sebagai MC itu gak boleh percaya sepenuhnya oleh panitia acara. Akhirnya ga research sama sekali jadi ada salah penyebutan nama menteri.  bahwa kita tidak boleh percaya begitu aja dengan panitia acara.

Dulu juga pernah MC di luar negeri, dan nyebutin nama kebangsaan Thailand dan aku cuma terima yang dari panitianya, Saat aku ucapkan ternyata salah, jadi harus ada tekanannya. Jadi direkturnya ketawa-tawa dan itu jadi lucu dan jadi pembelajaran buat aku.

Itu sih yang paling berkesan buat aku

Apa aja tips-tips agar bisa belajar menjadi public speaker ?

Jadi pertama pernafasan, kalo public speaking beda dengan berbicara atau ngobrol. Public speaking itu pakai suara dari diafragma. Jadi diperut itu ada udara apa ga? Kalo ada dikeluarkan jadi suara. Kita bertugas untuk berbicara dengan durasi yang panjang sehingga publik speaker gabisa ngandelin dari suara biasa yang keluar dari tenggorokan atau leher.

Kedua Artikulasi, Jadi untuk menjadi public speaker  harus suka baca, nonton, belajar artikulasi yang sulit untuk dipraktekkan. Kalo kata mentor aku harus 10 kali mencoba berulang-ulang artikulasi. Karena kita juga memberikan service ke client yang optimal.

Bagaimana cara belajar anda hingga bisa meraih cita-cita ?

Sebenarnya orangtua suka memberi buku bacaan bahasa indonesia ataupun Inggris. Jadi sudah familiar dengan kata-kata termasuk bahasa Inggris. Aku juga kebetulan pernah les bahasa inggris dulu dari SD-SMA. Tapi lebih suka liat  pembawa acara di televisi. Jadi intinya hanya baca dan nulis. Karena aku juga suka nulis.

Bagaimana menurut anda tentang peran perempuan milenial?

Perempuan sekarang sudah berani menyampaikan pendapatnya. Peran perempuan sekarang sudah mulai shifting ke arah yang lebih egaliter dengan laki-laki.

Bagaimana tanggapan anda tentang diskiriminasi terhadap perempuan?

Aku juga pernah mengalami diskriminasi. Ada beberapa orang yang meragukan aku saat menjadi pemimpin. Mereka bilang ketua ikatan Abang None kok cewe?. Meskipun kesetaraan gender sudah terbuka, tetapi masih ada yang menutup atau membatasi hak-hak perempuan.

Harapan anda kedepan sebagai public speaker?

Kalo aku jadi publik speaker ini adalah passion  dan aku ingin berbagi. Cara aku untuk berbagi ialah dengan menjadi public speaker. Jadi akupun bersedia untuk berbagi dimanapun. Karena aku berpendapat bahwa semua orang berhak mendapatkan ilmu. Di Indonesia maupun di dunia tidak ada yang membeda-bedakan. Kita kalo mau sukses itu, harus kerja keras dan berhati baik.

Siapa tokoh inspiratif anda untuk mencapai target?

Aku punya role model ibu Tya Diran, dia adalah pembawa acara di istana negara, itu sebenernya goals aku. Waktu itu aku pernah ketemu dia di satu lokasi meskipun beda acara, itupun aku udah seneng banget bisa ketemu role model aku.

Tapi menurut aku role model itu bisa dari semua orang, baik yang punya pengalaman baik, atau buruk di aku, semuanya role model, karena kita bisa belajar dari mereka, apapun itu.