Majalahayah.com, Jakarta – Hari Lanjut Usia (Lansia) Nasional pada Jumat 29 Mei 2020, Program Pembibitan Penghafal Al Quran (PPPA) Daarul Quran (Daqu) mengangkat kembali sosok-sosok pejuang Quran yang tetap istikamah menghafal kalam-kalam Illahi di usia senjanya.

Mereka yang sudah berusia setengah abad lebih, namun selalu mementingkan Alquran di setiap aktivitasnya. Meski lisan sudah mulai kelu, namun ucapan mereka tetap syahdu sebab lantunan ayat Quran selalu mengiringinya setiap waktu.

Mereka adalah wanita-wanita lanjut usia penghafal Alquran, yaitu di antaranya Nenek Madinah (76), Nenek Jusma (73), Nenek Armahinti (50), dan Nenek Asdawis (52). Meski usianya sudah tidak muda lagi, mereka adalah santri di Rumah Tahfidz Al-Wustho di Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat.

Pada Desember 2019, keempatnya menjadi ratu dalam perhelatan wisuda tahfidz yang digelar oleh rumah tahfidz. Bersama anak-anak dan cucu-cucunya, mereka didaulat sebagai wisudawati dengan kategori yang berbeda, mulai dari 1, 2, 3 hingga 5 juz.

Koordinator Daerah Rumah Tahfidz Sumatera Barat Ustadz Syukur Usman menyebut para santri tersebut sebagai Srikandi. Julukan itu tak lain karena semangat mereka dalam belajar dan menghafal Alquran meski usianya tak muda lagi.

“Nenek semangat, terus menghafal dengan ustadz,” ujar Nenek Madinah yang sudah menghafal 1 juz selama enam bulan di Rumah Tahfidz Al Wustho, dalam keterangan yang diterima Majalahayah, Sabtu (30/5/2020).

Bukan tanpa alasan, salah satu motivasi Nenek Madinah menghafal Alquran adalah agar meninggal dalam keadaan husnul khatimah. Sebab tidak ada yang mampu menyelamatkannya di akhirat, selain amal ibadah di dunia, termasuk dari hafalan Quran-nya.

“Menghafal, supaya nanti nenek waktu meninggal, bisalah husnul khatimah, bisa nenek moco (baca) Quran, insya Allah,” tuturnya.

Sementara itu, Nenek Jusma juga menginginkan hidupnya dihabiskan bersama Alquran. Ia berharap Alquran akan datang pada hari Kiamat kelak dengan syafaat untuk dirinya dan para ahlul Quran lainnya.

“Nenek ingin meninggal dalam keadaan menghafal,” ucap Nenek Jusma.

Menurutnya, usia tak menghalangi seseorang untuk belajar dan menghafal Alquran. Hal ini dibuktikan, ia dapat menghafal dengan bekal niat dan semangat. Bahkan, semangatnya melebihi ketiga rekannya.

“Kalau saya coba-coba, mudah-mudahan dapat (hafalan), jadi hafal. Setelah dihafal, diamalkan,” tuturnya.

Tak hanya para nenek asal Tanah Minang tersebut, banyak juga ditemukan para guru ngaji berusia lansia yang masih aktif berdakwah dan mengajarkan Alquran. Salah aatunya adalah Abah Husin, yakni seorang guru ngaji berusia 80 tahun yang berasal dari pelosok Banten.

Kemudian Uwa Halimah, lansia asal pelosok Palembang yang juga masih aktif mengajarkan masyarakat membaca Alquran.

Direktur Utama PPPA Daarul Qur’an Abdul Ghofur mengapresiasi semangat para lansia ini dalam dakwah Alquran. Pada Hari Lansia 2020 yang berada ditengah pandemi ini, Ghofur mengajak masyarakat untuk meneladani semangat mereka.

“Melalui keempat Srikandi dari tanah Minang dan para lansia dari seluruh pelosok tanah air yang masih aktif berdakwah, ada pelajaran penting yang dapat diambil berupa semangat pantang menyerah. Sebab, Allah hanya akan menolong hamba-Nya yang berusaha. Untuk anak muda, jangan mau kalah dengan para nenek ini. Sementara untuk Bapak dan Ibu yang sudah Lansia, tidak ada kata terlambat untuk menghafal Alquran,” katanya.

Ia melanjutkan, ditengah masa pandemi seperti saat ini, semangat para nenek ini harus ditiru. Tak hanya dalam menghafal Alquran tapi juga dalam menghadapi masa krisis akibat wabah, yaitu tetap optimis dan percaya bahwa Allah SWT akan memberikan pertolongan untuk segera mengakhiri wabah ini.

“InsyaAllah wabah akan segera usai. Ditengah pandemi ini, mari kita jaga para lansia agar tetap sehat, terhindar dari wabah, dan tetap semangat belajar serta mengajarkan Alquran.