Kuliner

Kuliner

Fun Opening Sang Pisang, Kedua Putra Jokowi Tak Ingin Menyusahkan Orang Tua

Majalahayah.com, Jakarta - Gibran Rakabuming (30tahun) dan Kaesang Pangarep (24tahun), kedua putra dari Presiden Joko Widodo patut mendapat jempol untuk urusan ‘foodpreneur’. Pada tahun 2015,...

Banjir Pengunjung, Fish Streat Depok Hadirkan Menu Baru

Majalahayah.com, Depok – Tak hanya dipadati dengan bangunan bertingkat, jalan Margonda Raya kini menjadi tempat wisata kuliner kalangan muda. Terlihat jelas saat melintas sepanjang...

Waktunya Bernostalgia, Makanan Legendaris Satu ini Sangat digemari Orang Dewasa

Majalahayah.com, Depok – Makanan Legendaris tahun 2000-an menarik minat tersendiri bagi masyarakat untuk bernostalgia, salah satunya adalah Pentol Kojek. Serupa dengan Cilok ( Aci...

Pengaruh Sertifikasi Halal Bagi Para Konsumen

Majalahayah.com, Jakarta – Maraknya kuliner di Indonesia yang beraneka ragam dari persoalan rasa, bentuk, serta dekorasi tempat menjadi suatu ketertarikan para konsumen. Mencicipinya serta...

‘Mameru’ Kopi khas Gunung Semeru Kini Bisa Kita Nikmati di Setu Babakan

Majalahayah.com, Jakarta – Kenikmatan kopi sudah tidak lagi asing bagi masyarakat Indonesia. Tidak hanya sekedar aromanya yang khas, kandungan kopi pun sering kali memberikan...

Kedai Bang Vian, Restoran Nuansa Betawi dengan Olahan Bumbu Khas Rumahan

Majalahayah.com, Jakarta – Para pengunjung Setu Babakan, kini mempunyai restoran baru bernuansa kebudayaan betawi. Kedai Bang Vian, terletak di Pintu Timur Setu Babakan, tepatnya...

Peralihan Teknologi Tidak Ubah Cita Rasa Dodol Betawi Bang Rizal

Majalahayah.com, Jakarta - Perkembangan zaman menjadikan rumah dodol betawi milik bang Rizal mengganti cara pemasakan berawal menggunakan kayu api kini cukup menggunakan kompor gas....

Dodol Betawi Legendaris Selalu Punyai Cara Menarik Minat Penggunjung

Majalahayah.com, Jakarta - Rumah dodol betawi bang Rizal berdiri sejak tahun 1879 sudah diwariskan turun-temurun hingga tiga generasi. Rumah dodol betawi tidak mengutamakan pelanggan...

Naik Turunnya Pendapatan Tidak Mengurangi Kesetiaan Seorang Ayah Dalam Mencari Nafkah

Majalahayah.com, Jakarta - Kesetiaan menekuni berwirausaha menjadikan penanaman buah pikir seorang ayah dalam mendidik anak-anaknya. Secangkir es selendang mayang dihargai Rp 8000 memperoleh keuntungan...

Mempertahankan Jajanan Khas Betawi Tidak Semudah Cara Pembuatannya

Majalahayah.com, Jakarta - Mempertahankan jajanan khas betawi seperti es selendang mayang dan kerak telur tidak semudah seperti membuatnya. Keluh kesah tidak terlontarkan dari mulut...

Baca juga :

Majalahayah.com, Jakarta - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Polhukam) Wiranto mengemukakan, penyelesaian secara yuridis dalam rekonsiliasi dengan para korban peristiwa Gerakan 30 September oleh Partai Komunis Indonesia (G30/S/PKI) jelas sudah tidak mungkin. Oleh karena itu pemerintah akan melakukan penyelesaian dengan proses non yudisial, dimana tidak ada lagi larangan bagi famili-famili yang terlibat dengan masalah PKI untuk jadi pejabat, jadi pegawai. “Sekarang kan sudah ada. Sebenarnya secara non yudisial penyelesaian pembauran kembali dari seluruh komponen masyarakat itu sudah terjadi sebenarnya,” terang Wiranto usai mengikuti Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila Tahun 2017 di Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya, Jakarta Timur, Minggu (1/10) pagi. Bagi Menkopolhukam sendiri penyelesian secara yudisial malah akan menimbulkan permasalahan baru. Sebab jika langka ini dipilih, nanti akan terlalu banyak yang mengklaim salah dan benar, dan sebagainya. “Tidak ada itu, tidak ada,” tegas Wiranto kepada wartawan Oleh karena itu, menurut Menko Polhukam, kemudian (pemerintah memilih) penyelesaian dengan non yudisial. Penyelesaian ini sebenarnya sudah berlangsung, proses (non yudisial) itu sudah berlangsung, dimana tidak ada lagi larangan bagi famili-famili yang terlibat dengan masalah PKI untuk jadi pejabat, jadi pegawai. “Sekarang kan sudah ada. Sebenarnya secara non yudisial penyelesaian pembauran kembali dari seluruh komponen masyarakat itu sudah terjadi sebenarnya,” terang Wiranto. Menko Polhukam Wiranto justru mempertanyakan apa yang diributkan? Ia mengingatkan, kalau kita salah menyalahkan terus energi kita habis untuk masalah ini. Wiranto mengutip Presiden Joko Widodo yang telah mengatakan bahwa, sudahlah itu merupakan sejarah kelam bangsa Indonesia yang merupakan suatu pembelajaran bagi bangsa ini ke depan. Untuk itu, Menko Polhukam meminta agar jangan sampai bahwa peristiwa G30/S/PKI ini justru menjadi komoditas politik, baik jangka pendek maupun dalam rangka Pemilihan Presiden (Pilpres) yang akan datang. “Tidak fair karena akan menimbulkan kegaduhan, menimbulkan suatu suasana yang saling salah menyalahkan yang akhirnya juga mengganggu stabilitas nasional, akhirnya mengganggu pembangunan nasional, akhirnya mengganggu kepentingan masyarakat,” pungkas Wiranto.