Ilustrasi remaja bersama keluarga. (Foto: Ekonomipos)

Majalahayah.com, Jakarta – Rasa cinta orangtua terhadap anak memang ajaib. Bagaimana tidak? Ia berhasil mencintai tanpa terpaksa sejak si kecil belum hadir di dunia. Dilahirkan dari rahim ibu kandung maupun diadopsi nyatanya tetap saja sang ilahi sudah menetapkan rahmat cinta di dalam hati setiap orangtua.

Perjuangan untuk memiliki keturunan memang sangat luar biasa dan tak dapat terbayarkan oleh apapun. Mulai dari berusaha dalam kehamilan yang bermasalah, melewati porses bayi tabung, atau merindukan janinnya yang lahir tanpa nyawa.

Bukan keluarga jika tak mencari berbagai macam solusi. Sepanjang masa yang dilalui cinta dalam keluarga selalu berkaitan dengan rasa percaya.

Jika kamu saat ini sudah memiliki sang buah hati, dituliskan oleh penggiat sekolah cikal, Najelaa Shihab bahwa yang wajib dipahami adalah kebutuhan setiap anak selalu berbeda. Sebagian anak mengalami kesulitan sementara sebagian diantaranya memiliki perbedaan yang melekat selamanya.

“Bagi orangtua yang memiliki anak berbeda tak seperti anak kebanyakan seperti lambat berbicara atau diagnosis disleksia, dan tuli sejak dini maka harus diberitahu berkali-kali,” tulisnya dalam buku Semua Murid Semua Guru.

Berbicara peran orangtua, Kakak dari Najwa Shihab ini pun katakan mereka (orangtua) memiliki ujian yang hanya bisa dilalui dengan harapan yang berlebihan. Orangtua bisa memelihara curiga dan putus asa atau yakin dan memberikan kesempatan kepada anak untuk mencoba.

“Keluarga adalah tentang lompatan bersama, mengingat impian tinggi dari mana pun titik toloknya. Cinta dalam keluarga sendiri sering kali lebih sulit dipahami dibanding dengan skenario televisi. Mulai dari suami yang pulang ke rumah dengan cemberut seolah menanggung beban seluruh semesta, sementara istri menunggu giliran berbagai cerita, mertua yang ikut campur dalam pengambilan keputusan , perselisihan yang berujung perceraian, sakit berkepanjangan serta konflik keluarga yang tak berkesudahan,” papar Najelaa.

Hanya orang-orang naif yang berpikir bahwa krisis tidak mungkin terjadi dalam keluarga, sebab krisis adalah keniscayaan dan lolos darinya adalah pilihan.

“Cinta sejati adalah tempat teraman dan ternyaman untuk ekspresi dan eksplorasi. Percobaan dan penemuan adalah bagian dari pertumbuhan dan pengasuhan. Tidak ada orangtua dan anak yang menumukan formula ajaib untuk menyelesaikan semua persoalan,” tandasnya.