Bukan Genetik, Stunting Pun Bisa Disebabkan oleh Orang Tua

Bukan Genetik, Stunting Pun Bisa Disebabkan oleh Orang Tua

122
0
SHARE
Bayi Makan (Dok : Halosehat)

Majalahayah.com, Jakarta – Stunting merupakan gangguan pertumbuhan. Kini stunting menjadi salah satu penyakit yang masih banyak dialami oleh masyarakat Indonesia. Berdasarkan data yang diperoleh, sekira 15 provinsi di Indonesia masih memiliki angka stunting sebesar 30-40 persen.

Dokter Spesialis Nutrisi dan Penyakit Metabolik, Dr. dr. Damayanti Rusli Sjarif, SpA(K), menjelaskan saat ini banyak sekali orang yang kurang memahami nutrisi yang diperlukan bagi buah hatinya. Jika didiamkan dalam jangka waktu lama maka akan menyebabkan malnutrisi yang bisa berakibat stunting.

Dokter Damayanti mengatakan zat yang diperlukan oleh tubuh seorang anak untuk pembentukan otak adalah karbohidrat, lemak dan protein. Ketiga zat inilah yang sangat dibutuhkan seorang anak saat berusia kurang dari dua tahun.

Alih-alih ingin memberikan gizi yang terbaik untuk sang buah hati, para orangtua berusaha memberikan aneka makanan yang mereka yakini bagus untuk perkembangan si kecil. Hal inilah yang membuat salah kaprah dan berakhir pada kasus malnutrisi.

“Salah kaprah sering terjadi pada orangtua. Contohnya sayur mayur diberikan kepada bayi. Padahal makanan itu kan mengandung serat, dan waktu yang tepat untuk memberinya ketika di atas dua tahun. Harusnya anak diberi karbohidrat, lemak dan protein yang membentuk otak. Jadi makanan itu yang harus diberikan selama 2 tahun pertama,” kata dr Damayanti, dikutip dari Okezone dalam acara Milk Versation Frisian Flag, Rabu (23/1/2019).

Menurutnya, air susu ibu (ASI) adalah makanan yang tepat untuk sang buah hati. Meski demikian, kualitas ASI lama kelamaan akan menurun. Alhasil, anak harus mengonsumsi asupan pendukung ASI untuk memenuhi kebutuhan kabohidrat lemak dan protein.

Protein yang dibutuhkan seorang anak untuk tumbuh dan berkembang juga bukan sembarangan. Protein yang dipakai untuk pertumbuhan adalah yang memiliki asam amino esensial lengkap yakni berasal dari protein hewani. Kebutuhan protein yang dibutuhkan adalah sebesar 10%.

Ia juga menambahkan bahwa seorang bayi juga diizinkan untuk mengonsumsi makanan berminyak seperti santan dan lain-lain. Pasalnya sang anak sudah mulai mengenal rasa sejak ia berada di dalam kandungan.

“Air ketuban dan ASI juga memiliki rasa seperti apa yang dimakan oleh sang ibu. Jadi seorang anak itu sudah bisa mengenal rasa sejak ia berada di dalam kandungan,” ungkapnya.

Sebagian orang di Indonesia menilai bahwa stunting merupakan salah satu penyakit yang menular. Namun, dr Damayanti menilai bahwa stunting bukanlah penyakit yang timbul secara genetik. Penyakit ini bisa terjadi karena prilaku makan yang tidak baik.

“Stunting karena lingkungan dan bukan genetik. Jadi menurun dengan cara makan yang tidak baik. Pada dasarnya stunting tidak menurun tapi semuanya dipengaruhi oleh lingkungan. Jadi jika lingkungannya diperbaiki maka stunting bisa dicegah,” tukasnyaya.

LEAVE A REPLY