Home Parenting Berpendidikan Tinggi Tak Menjamin Terhindar Jadi Pelaku Kekerasan

Berpendidikan Tinggi Tak Menjamin Terhindar Jadi Pelaku Kekerasan

149
Evi Rinayanti
Foto : Evi Rinayanti, Advokat di Pusat Bantuan Hukum (PBH) Dompet Dhuafa di Sofiyan Hotel, Jakarta 29/11/2018. (majalahayah.com/DN)

Majalahayah.com, Jakarta – Tindakan Kekerasan terhadap perempuan dan anak tidak hanya berlaku di kalangan kelas sosial ekonomi bawah, meskipun memiliki gelar pendidikan tinggi tak sedikit masyarakat elit pun terlibat menjadi pelaku tindakan kekerasan. Hal tersebut disampaikan oleh Evi Rinayanti sebagai Advokat di Pusat Bantuan Hukum (PBH) Dompet Dhuafa di Sofiyan Hotel, Jakarta (29/11/2018).

 
“Ini bukan kasus dadakan yang tiba-tiba muncul, meskipun memiliki pendidikan yang tinggi, kelompok elit ternyata mempunyai masalah, misalnya dari kecil terlahir dari keluarga mampu, kemudian mereka merasa sendiri dan diabaikan oleh orang tuanya, akhirnya dia mencari pelampiasan ke pornografi ataupun masturbasi,” jelas Evi saat di Wawancarai Majalahayah.com (29/11/2018).
 
Selanjutnya, Evi katakan setelah anak tersebut menjadi dewasa dan menjadi penjabat sekalipun, ia belum mampu mengontrol diri. Sehingga besar kemungkinan dia akan menjadi pelaku KDRT secara fisik maupun verbal.
 
“Itu sebagai bentuk cara mereka menyalurkan perasaan-perasaanya bagi yang pendidikan tinggi namun kurang edukasi dan kurang pemahaman agama,” tuturnya.
 
Menceritakan bahwa belum lama ini terdapat laporan ada seorang kakek yang berprofesi sebagai dokter, sambung Evi, ia telah membiarkan pacarnya (laki-laki) mensodomi cucunya. 
 
“Itu kan orang terdidik dan seharusnya dia sudah mengetahui dampaknya karena profesinya sebagai dokter. Jadi gak ada hubungannya ketinggian ilmu, dengan pelaku kekerasan,” tukasnya.