Majalahayah.com, Jakarta – Masyarakat Indonesia akan menjalankan lebaran yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Pasalnya, kali ini tidak ada mudik demi mengurangi resiko penularan pendemi COVID-19. Pemerintah pun sudah mengeluarkan larangan mudik pada hari Idul Fitri.

Meski begitu, beberapa orang tua tetap ingin anak-anaknya pulang ke kampung untuk merayakan Idul Fitri bersama. Hal ini mendatangkan dilema antara ingin menghindari penularan Covid-19 dan tak tega menolak permintaan orang tua.

Lalu bagaimana memberi pengertian pada orang tua yang tetap ingin anaknya mudik?

Psikiater, dr. Andri SpKJ, FAPM, melalui acara live Instagram bersama Gue Sehat menjelaskan bahwa kita bisa memberi pengertian pada orang tua tentang bahaya mudik di tengah pandemi.

“Orang tuanya dikasih tahu. Kalau orang tua kan seringkali enggak paham, karena dia pikir yang lain kok cuek aja keluar,” ujar Andri.

Dokter yang berpraktik di Omni Hospital Alam Sutera ini menambahkan, sebagai anak seharusnya bisa memberi pengertian pada orang tua agar percaya pada anjuran ahli medis dan pemerintah.

“Banyak yang bilang (pandemi) ini konspirasi dan segala macam, saya bilang, selalu coba serahkanlah segala urusan pada ahlinya,” ujarnya.

“Misalnya ahli epidiomologi, ahli yang berkaitan dengan kesehatan, kalau bilang begini ya sudah diturutin. Jangan mikirin yang teori-teori,” imbuhnya.

Andri memberi saran untuk memilih kata dan kalimat yang baik agar orang tua tidak berpikir bahwa kita tidak mudik karena menghindari bertemu dengan mereka dan keluarga yang lain.

Ia juga mengajak agar kita tidak berpikir macam-macam jika orang tua tetap memaksa anaknya untuk pulang saat Lebaran.

“Saya pikir yang terpenting memberi tahu mereka bahwa keadaan ini memang harus begini,” ujar Andri.

Walau tidak ada pertemuan fisik, tetapi tradisi saling meminta maaf dan bersalam-salaman tetap dapat dilakukan, diganti silaturahim daring: melaui pesan singkat, voice call, atau video call.