Majalahayah.com, Jakarta – Gempa bumi dangkal berkekuatan 7,4 SR telah memicu tsunami setinggi 6 meter yang mampu menyapu wilayah Kabupaten Donggala dan Kota Palu. Menurut data terupdate, dari Aksi Cepat Tanggap (ACT), pada  Senin pagi (01/10/2018) sudah tercatat 1.203 warga dikabarkan meninggal dunia, 540 orang luka berat, dan lebih dari 16 ribu orang menjadi pengungsi.

“Atas nama kemanusiaan, untuk memiliki andil yang bisa kita lakukan, ini bencana yang sangat besar. Apa lagi sudah mencapai ribuan orang, mungkin akan terus bertambah lagi. Bencana ini, adalah mencana terbesar kedua setelah Aceh, sehingga akses menuju kota Palu dan Donggala tidak bisa di lalui melalui darat maupun udara,” ujar Ahyudin sebagai Presiden ACT saat konferensi pers dengan tema #IndonesiaBersamaPaludanDonggala di Menara 165 (01/10/2018).

Munculnya berita foto yang hoax, Ahyudin tuturkan hal ini disebabkan keterbatasan akses yang sangat sulit untuk diatasi, seperti transportasi, komunikasi, listrik padam, dan akses jaringan internet atau lokal.

“Kondisi di Palu dan Donggala itu lebih parah dari pada di Lombok, jadi akses sangat sulit, mulai dari jembatan yang terputus, dan sulitnya signal untuk berkomunikasi, kondisi seperti itu yang menyebabkan timbulnya berita-berita hoax, dan  kita mulai atasi dengan siapkan media center di beberapa wilayah, dekat di bandara dekat kota palu dan di Jakarta,” tambahnya.

ACT pun turut serta Memfasilitasi dengan adanya telepon satelit, sambung Ahyudin, dengan sarana telepon satelit, berharap akan disebar luaskan pemberitaan yang benar terjadi di kota Palu dan Donggala.

“Pusat komunikasi akan kita berikan telepom satelit. Mudah-mudahan sejumlah nama yang sudah ada, akan membantu menyambungkan komunikasi untuk publik terutama bagi masyarakat yang berdampak bencana,” tukasnya.