NU

Majalahayah.com, Jakarta – Nahdlatul Ulama (NU) sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia bersama dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang juga partai terbesar ketiga saat itu, pernah mengalami hubungan pasang surut. Bahkan sejarah mencatat sejak peristiwa 1965 yang memakan 6 jenderal dan satu orang kapten tersebut, hubungan kedua lembaga menjadi rona-rona kelam. Tercatat ratusan (jumlah resminya berbeda versi) kader hingga simpatisan PKI menjadi korban. TNI dan NU sendiri khususnya dianggap menjadi eksekutor atas kejadian yang masih terselubung misteri hingga sekarang.

Tapi hanya berbicara setelah 1965, hingga peristiwa-peristwa setelahnya tidak akan lengkap jika tak berbicara ihwal kejadian yang melatarbelakangi kejadian itu, terkhususnya hubungan antara NU dengan PKI. Hubungan kedua lembaga dengan massa yang cukup besar itu memang sudah berbeda sejak awalnya. Hal ini bahkan ditegaskan oleh Rais Aam PBNU, KH Hasyim Asyari pada Khutbah Iftitah saat Muktamar NU ke 14 di Madiun 1947.

“Telah tersebarnya ajaran materialisme-historis sebagai suatu prinsip yang mencanangkan bahwa kebahagiaan di dunia ini hanya bisa diraih dengan materi dan tidak percaya dengan hal-hal yang ghaib. (metafisis, ekstra empiris) serta tidak percaya akan adanya kehidupan setelah mati. Bahaya laten ini tak mungkin terelakkan lagi bila sudah tertanam dalam hati dan sanubari anak-anak kita, dan yang demikian ini bisa mengubah tatanan awal dasar keyakinan mereka terhadap agama Islam yang kita peluk,” jelas pendiri NU tersebut.

Bahkan dalam buku Berangkat dari Pesantren, mantan Menteri Agama Republik Indonesia pada era Presiden Soekarno dan juga mantan Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Saifuddin Zuhri menyatakan penolakan kerasnya terhadap partai yang dipimpin oleh Dipa Nusantara (DN) Aidit tersebut. Bahkan tidak hanya PKI, tapi segala bentuk ajaran yang mengarah kepada nilai-nilai ateisme haruslah disingkirkan.

“Dengan dalil: Agama sebagai unsur mutlak dalam nation building maka kita dapat menyingkirkan kiprah PKI di mana-mana. Bahkan kita bisa menumpas segala bentuk ateisme, baik ateisme yang melahirkan komunisme maupun ateisme yang melahirkan kapitalisme, liberalism atau fasisme. Setiap ideologi yang berbahaya tidak hanya bisa dilawan dengan menggunakan kekerasan dan senjata, tetapi harus dihadapi dengan kesadaran agama,” tegas ayah kandung dari Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin tersebut.