Majalahayah.com, Jakarta – Banyak orang menganggap kekayaan itu sebagai tanda kesuksesan, sementara miskin adalah bukti gagal dalam kehidupan. Lalu, bagaimana jika melihat dari pandangan Islam?

Sesungguhnya Allah SWT adalah dzat yang Maha Sempurna dan Maha Adil. Di antara semua sifatnya, Allah SWT melebihkan sebagian hamba dari yang lain. Salah satunya dalam hal rezeki. Ada yang diberi kaya dan miskin.

Menurut KH Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym dalam bukunya “Ikhtiar Meraih Ridha ALLAH”, pembagian hamba yang kaya dan miskin itu sesuai dengan takdir yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.

Dari semua yang telah ditetapkan di dunia, hal itu merupakan sebuah bentuk ujian-ujian dari Allah SWT kepada hambanya untuk menjaga dan menggunakan harta sebaik mungkin.

Rasulullah SAW pernah berdoa, “Ya Allah, hidupkan aku dalam keadaan miskin, matikan dalam keadaan miskin, dan kumpulkan saya bersama orang miskin”.

Miskin di sini, kata Aa Gym, bukan digambarkan sebagai seorang fakir.

Rasulullah SAW pun berdoa “Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari kekufuran dan kefakiran”. Namun harus diinggat bahwa miskin di sini artinya tawadhu, sikap batin yang harus senantiasa diwujudkan secara proporsional dan wajar, tidak silau pada gemerlap duniawi yang bisa membuat kita lalai.

Dalam bukunya itu, Aa Gym menulis “Saudaraku, kita ini siapa? Kemuliaan kita tidak jelas dan yang jelas hanya dosa. Mengapa kita harus malu kalau hidup miskin? Mengapa orang yang miskin kita anggap gagal? Seharusnya kita yang banyak bergaya dengan barang-barang pinjaman dan cicilan ini yang malu dan merasa gagal. Kita yang tidak bahagia. Jangan malu ketika terlihat kekurangan, karena itu merupakan ciri pecinta dunia.”

Sejalan dengan yang telah dijelaskan oleh Aa gym, realitanya banyak orang yang menganggap kemiskinan itu adalah sebuah kegagalan dan dapat dilihat bahwa manusia sesungguhnya selalu menginginkan hal yang lebih.

Qanaah merupakan salah satu sifat yang harus dimiliki seseorang. Qanaah berarti selalu merasa cukup dan menerima apa adanya kondisi yang dihadapi. Sifat cukup disini, dimaksudkan cukup untuk memenuhi keperluan, bukan cukup untuk memuaskan nafsu yang kita inginkan. Cukupnya keperluan ini tidak ada hubungannya dengan kaya atau miskin.

Tetapi, “Barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya). Sesungguhnya Allah melaksanakan urusannya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap waktu.” (QS. ath-Thalaq [65]:3).