Belajar dari Keluarga Pendidik Laki-laki Terbaik dalam Al-Qur’an

Belajar dari Keluarga Pendidik Laki-laki Terbaik dalam Al-Qur’an

121
SHARE
Ilustrasi Pendidikan anak. Sumber www.mimpipejuang.wordpress.com

Majalahayah.com – Lanjutan dari pembahasan sebelumnya, kali ini Ustadz Bendri Jaysurrahman menyampaikan bagaimana agar kita bisa mendidik anak laki-laki, belajarlah dari keluarga pendidik laki-laki terbaik. Dalam AlQur’an Surat Ali Imran ayat 33 Allah subhanahu wata’ala memberikan contoh keluarga :

سُوۡرَةُ آل عِمرَان

۞ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصۡطَفَىٰٓ ءَادَمَ وَنُوحً۬ا وَءَالَ إِبۡرَٲهِيمَ وَءَالَ عِمۡرَٲنَ عَلَى ٱلۡعَـٰلَمِينَ (٣٣)  

Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga ‘Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing),

Ayat tersebut bila dibahas akan menjadi dalam sekali maknanya, karena ayat tersebut memberikan petunjuk bagaimana pendidikan dalam sebuah keluarga.

Pertama : Allah subhanahu wata’ala kepada Nabi Adam dan Nabi Nuh tidak memberikan gelar  ‘Ala Adam wa Nuh tetapi kepada Ibrahim dan Imran membarikan gelar ‘Ala Ibrahim wa ‘ala Imran.   Tetapi Allah memuji Adam dan Nuh tetapi bukan keluarganya.

Sejatinya Keluarga Terbaik ada tiga ciri : Punya pasangan, anak dan cucu yang baik. Keluarga Ibrahim dan Keluarga Imran punya pasangan, anak dan keturunan yang baik-baik semua. Sementara Adam dan Nuh tidak dipuji sebagai keluarga yang baik, tetapi dilebihkan sebagai sosok ayah yang baik. Karena anak Adam (Qabil) sebagai pembunuh. Nabi Nuh ‘alaihissalam anaknya (Kan’an) menjadi kafir.

Nabi Adam ‘alaihissalam dipuji oleh Allah subhanahu wata’ala, karena meskipun beliau punya kesalahan,  beliau tidak pernah menuding pihak lain. Adam cepat mengakui kesalahannya. Ketika Nabi Adam di keluarkan dari surga dan diturunkan di bumi, terlunta-lunta di muka bumi,  tetapi beliau tetap mengakui kesalahannya sendiri, tidak pernah menyalahkan pihak lain,  misalnya dengan mengatakan : Ini gara-gara iblis maka aku dikeluarkan dari surga. Tidak.

Nabi Adam ‘alaihissalam tidak menyalahkan demikian. Melainkan mengakui kesalahannya sendiri sebagaimana dalam do’a beliau : Robbana dholamna anfusana wa illam taghfirlana watarhamna lana kunanna minal khosyirin – (Wahai Tuhanku, kami telah menganiaya diri kami sendiri, jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang yang merugi).

Sebagai teladan bagi kita, seorang bapak kalau ternyata anaknya bandel,  lalu menyalahkan pihak lain, gara-gara TV, gara internet, gara-gara gurunya, dan sebagainya. Tetapi hendaknya si bapak mawas diri, evaluasi diri terlebih dahulu.  Cepat akui kesalahan diri, tidak usah mencari kambing hitam. Itulah yang terbaik.  Kalau anda ingin seperti kualitas Nabi Adam ‘alaihissalam.

Nabi Nuh ‘alaihissalam, beliau dipuji Allah subhanahu wata’ala karena anak dan isterinya kafir, tetapi Nabi Nuh tidak putus asa dalam berdakwah kepada anak-isteri dan kepada umat beliau. Beliau berdakwah siang-malam, tiada pernah henti.

Maka orangtua yang baik bukan melihat hasilnya, melainkan yang dilihat adalah prosesnya. Kalau orang tua hanya memikirkan hasilnya, maka ia akan berpikir instan. Anaknya yang bandel lalu dipanggilkan dukun,  panggil ahli hipnotis dan seterusnya. Si bapaknya lupa bahwa Allahsubhanahu wata’ala meng-hisab prosesnya.

Baca juga :   13 Cara Jitu Untuk Anda GAGAL Dalam Kehidupan, DIJAMIN! (Seri Ketiga)

Si bapak melihat anaknya bandel tidak mau sholat, lalu dimasukkan ke pesantren, dan seterusnya. Maka pesantren seperti bengkel, memperbaiki anak-anak yang rusak.  Karena orang tuanya angkat tangan. Bahkan marah-marah kepada anaknya, berkata : “Bapak tidak akan mengakui kamu sebagai anak” ! 

Jangan demikian,  ingat, kelak hukumannya seperti Nabi Yunus yang marah kepada umatnya yang tidak mau beriman, lalu beliau meninggalkan umatnya itu. 

Lihat AlQur’an Surat Anbiyaa ayat 87 :

سُوۡرَةُ الاٴنبیَاء

وَذَا ٱلنُّونِ إِذ ذَّهَبَ مُغَـٰضِبً۬ا فَظَنَّ أَن لَّن نَّقۡدِرَ عَلَيۡهِ فَنَادَىٰ فِى ٱلظُّلُمَـٰتِ أَن لَّآ إِلَـٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبۡحَـٰنَكَ إِنِّى ڪُنتُ مِنَ ٱلظَّـٰلِمِينَ (٨٧)

Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), Maka ia (Yunus) menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha suci Engkau, Sesungguhnya aku adalah Termasuk orang-orang yang zalim.”

Nabi Yunus merasa bahwa kaumnya tidak prospektif, bandel,  tidak mau beriman, diberitahu agar sholat, tetapi tidak mau sholat.  Dilarang berzina, tetapi bahkan berzina berkali-kali, maka Nabi Yunus ‘alaihissalam kesal sekali, marah dan meninggalkan kaumnya, dengan maksud mencari kaum yang lain, yang kira-kira mau mendengarkan dakwahnya.  Maka Allah hukum Nabi Yunus dengan dimasukkan ke dalam perut ikan paus.  Kehidupannya terasa gelap.

Maka jangan sekali-kali seorang bapak marah-marah kepada anak dan keluarganya, lalu meninggalkannya.  Akan mengalami kegelapan hidup.  Usahanya kandas terus, bisnisnya selalu merugi, dst. Maka orangtua jangan sampai putus asa mendidik anak-anak terutama anak laki-laki. Hidayah adalah milik Allah subhanahu wata’ala.  Maka orangtua sebagaimana Rasul Ulul ‘Azmi adalah bekerja saja secara sungguh-sungguh, mendidik  anak dengan benar, sebagaimana Nabi Ibrahim dan keluarga Ali Imran yang sukses mendidik-anak-anaknya.

 

Catatan :

  1. Ibrahim adalah Nabi, sedangkan Imran bukan Nabi.  Maknanya, meskipun kita bukan Nabi, kita bisa sukses seperti keluarga Imran.
  2. Ibrahim ber-poligami, menurut Imam Ibnu Ishaq meriwayatkan bahwa Nabi Ibrahim punya  isteri 4 : Sarah, Hajar, Qondura dari Bani Madyan, dan Hajun binti Amin tinggal diwilayah sekitar Yaman.   Dari empat isteri melahirkan anak 12 orang tetapi ada yang meriwayatkan 13 orang anak.
  3. Ibrahim sukses berpoligami, anak-anak beliau semua menjadi tokoh pada zamannya. Bahkan seluruh nabi-nabi nasab-nya adalah Nabi Ibrahim a.s.  Maka Nabi Ibrahim disebut : Bapak semua nabi.
  4. Nabi Ibrahim adalah keluarga yang berpindah-pindah (Nomaden). Beliau tinggal di Babylonia pindah ke Syam, pindah lagi ke Mesir, lalu ke Hijaz.  Sementara Keluarga Imran, tidak berpindah-pindah menetap di Baitul Maqdis. 
  5. Nabi Ibrahim ‘alaihissalamanaknya laki-laki semua.  Maka mengurus anak laki-laki belajarlah dengan Nabi Ibrahim.  Sedangkan Keluarga Imran anaknya perempuan (Maryam).  
Baca juga :   Terinspirasi Ketegaran Sosok Ibu Penjual Kopi Keliling, Lazismu Berikan Bantuan

 

Target Pengasuhan.

Berbeda target antara pengasuhan anak laki-laki dan perempuan, karena pada dasarnya  anak laki-laki secara fitrahnya berbeda (tidak sama) dengan anak perempuan. Maka targetnya-pun berbeda.  Oleh karena itu paham Emansipasi itu merusak. Banyak keluarga rusak karena melaksanakan Eamansipasi yang tidak punya patokan dalam Syari’at.

Oleh karena itu dalam Islam ada patokan cara mendidiknya.  Anak laki-laki berbeda, sebagaimana disebutkan di atas keluarga Ibrahim dengan anak laki-lakinya dan keluarga Imran yang punya anak perempuan.  Keluarga Ibrahim punya tokoh anak laki-laki terbaik, yaitu Ismail dan  Ishaq. Sementara itu keluarga Imran punya tokoh perempuan terbaik, yaitu Maryam.

Ismail dan Ishaq menjadi Nabi sedangkan Maryam yang punya predikat “perempuan suci” tidak menjadi Nabi tetapi mendukung kenabian, yaitu melahirkan Nabi yaitu Nabi ‘Isa‘alaihissalam.

Artinya, khusus untuk anak laki-laki target pengasuhannya adalah mencetak menjadi “nabi”.  Maknanya, anda punya anak laki-laki didiklah menjadi “nabi” atau mendidik “ala nabi”.  Untuk anak perempuan, targetnya adalah : Didiklah ia menjadi “wanita suci”.Menjadi pendukung kenabian. Maka dalam Hadits disebutkan bahwa wanita terbaik ada empat :

  1. Asiyah, isteri Fir’aun. Suaminya tokoh kafir, tetapi ia tetap beriman.
  2. Maryam binti Imran, yang melahirkan Nabi ‘Isa ‘alaiahissalam,
  3. Khadijah binti Khuwailid, isteri Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam,
  4. Fatimah binti Muhammad, putri Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam

Ternyata keempatnya bukan Nabi, tetapi peran Asiyah (isteri Fir’aun) merupakan faktor pendukung proses kenabian, yaitu mengasuh Musa hingga menjadi Nabi.

Maryam binti Imran, berperan menjadi pendukung kenabian, dari rahimnya lahir seorang Nabi yaitu Nabi ‘Isa ‘alaihissalam.

Khadijah binti Khuwailid, suaminya menjadi Nabi dan Rasul, yaitu  Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam.

Fatimah, ayahnya menjadi Nabi, yang menjadi contoh keberhasilan seorang ayah mendidik anak perempuan.

Untuk mencetak anak laki-laki menjadi Nabi, adalah mustahil. Karena kenabian sudah selesai dengan ke-Rasulan Muhammad  shollallahu ‘alaihi wasallam.

Yang kita bahas adalah bagaimana nilai kenabian itu ada pada laki-laki. Yaitu :

  1. Seorang anak laki-laki dicetak menjadi Ahli Ilmu(Ulama). Sebab ulama adalah penerus para Nabi.  Maka bila ingin mencetak anak laki-laki di zaman ini  adalah mencetak menjadi Ulama, yaitu Ahli Ilmu bidang apa saja, bukan hanya bidang agama.   Didiklah anak laki-laki menjadi ahli di bidangnya. Maka Rasulullahshollallahu ‘alaihi wasallam mendidik para sahabat menjadi Ahli. Dalam pengertian ahli adalah seorang pemimpin yang bisa memahami dan memberikan solusi.
  2. Seorang anak menjadi Iqomatuddin,menegakkan agama (Islam). Didiklah anak laki-laki menjadi penegak Islam.  Orang ahli tetapi tidak punya jiwa pembelaan terhadap Islam, berarti gagal orangtua mendidiknya.