Belajar dari Cara Abu Hurairah Menyerap Ilmu dari Rasulullah

Belajar dari Cara Abu Hurairah Menyerap Ilmu dari Rasulullah

815
0
SHARE
Ilustrasi belajar. Sumber www.konsultasisyariah.com

Majalahayah.com – Di samping kehidupan Rasulullah ada seseorang yang senantiasa mendampingi Beliau sejak ia masuk Islam, Abu Hurairah namanya. Dia adalah salah seorang sahabat yang bisa membawa kita berinteraksi secara maknawi dengan Rasulullah karena banyaknya rahasia kehidupan ibadah dan keseharian Nabi yang diriwayatkannya.

Ia bukan termasuk tokoh awal yang bergabung dalam kafilah dakwah. Tetapi justru itu yang menjadi motivasinya untuk menggesa diri melejitkan potensi meraih prestasi.

Karena menyadari keterbatasannya sebagai orang yang masuk Islam belakangan, ia pun bertekad untuk menghabiskan sebagian besar waktunya mengikuti majelis Rasul terus-menerus, termasuk membawakan terompah Nabi kemanapun beliau pergi.

Abu Hurairah datang dan menjumpai Nabi pada tahun 7 H ketika beliau berada di Khaibar. Ia memeluk Islam karena dorongan kecintaan dan kerinduan. Sejak ia bertemu dengan Nabi dan berbaiat kepada beliau untuk masuk Islam, ia bisa dikatakan tidak pernah berpisah dari beliau kecuali pada saat tidur saja. Kejadian itu berjalan selama masa empat tahun yang dilaluinya bersama Rasulullah, sejak ia memeluk Islam sampai nabi perbi ke Rahmatullah.

Kita katakan, waktu yang hanya empat tahun itu tidak ubahnya bagai usia manusia seutuhnya. Empat tahun itu merupakan waktu yang cukup panjang lebar, penuh dengan segala perkataan, perbuatan, dan pendengaran yang baik. Dengan fitrahnya yang kuat, Abu Hurairah mendapat kesempatan yang besar yang memungkinkannya untuk memainkan peranan penting dalam berbakti untuk agama Allah.

Allah memberikan bakat padanya berupa kuatnya dan luasnya daya ingat ditambah do’a Rasulullah baginya. Salah satu nasihat Nabi yang menjadi pegangannya adalah

Barangsiapa membentangkan sorbannya hingga usai pembicaraanku, kemudian ia meraih dirinya, maka ia takkan terlupa suatu pun dari apa yang telah didengarnya dariku.”

Lalu bagaimana cara Abu Hurairah melakukan pembinaan diri? Kuncinya adalah optimalisasi waktu dan potensi.

Pertama, ia meluangkan waktu untuk menyertai Nabi lebih banyak daripada para sahabat lainnya. Para sahabat dari kalangan Muhajirin sibuk dengan perniagaan mereka di pasar-pasar, sementara kaum Anshar sibuk dengan pertanian mereka di sawah ladangnya. Sedangkan Abu Hurairah adalah orang miskin yang tidak berniaga dan tidak punya lahan garapan pertanian.

Kedua, Abu Hurairah memiliki daya ingat yang kuat, didoakan khusus oleh Rasulullah sehingga menjadikan semangat belajarnya semakin kuat. Ia menggunakan anugerah tersebut untuk banyak menghafalkan Al-Qur’an dan hadits langsung dari Nabi.

Ketiga, Abu Hurairah banyak meriwayatkan hadits bukan karena gemar cerita tetapi karena besarnya tanggung jawabnya terhadap agama dan keberlangsungannya di masa depan.

Sebab bila hal itu tidak bisa ditunaikan dengan baik berarti ia yang bakal menerima adzab Allah. Firman-Nya,

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa-apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, sesudah Kami nyatakan kepada manusia di dalam kitab, mereka itulah yang dikutuk Allah dan dikutuk oleh para pengutuk…” (QS. Al-Baqarah 2 : 159).

Keempat, Abu Hurairah adalah ahli ibadah yang cerdas dalam memberdayakan waktu bersama keluarganya agar bisa banyak taqarub kepada Allah secara kontinyu.

Ia membagi waktu malamnya bersama keluarganya menjadi tiga bagian. Mula-mula ia berjaga sambil shalat sepertiga malam yang pertama, kemudian dilanjutkan oleh isterinya sepertiga malam kedua, dan sepertiganya lagi dimanfaatkan putrinya.

Sehingga tidak ada satu pun yang berlalu setiap malam di rumah Abu Hurairah melainkan berlangsung di sana budaya ilmu, ibadah, dzikir dan shalat.

LEAVE A REPLY