Ilustrasi kerja. Sumber www.pinterest.com

Majalahayah.com – Tiada hari dari manusia ini yang terlepas dari bekerja. Manusia merupakan makhluk yang bekerja (homo faber), bahkan manusia tidak akan mendapatkan suatu apa pun kecuali apa yang diusahakannya. Sehingga tidak mengherankan jika sering didengar bahwa masuk surga atau neraka sangat ditentukan oleh perbuatan seseorang, pekerjaan atau usahanya ketika hidup di dunia.

Berkaitan dengan kerja ini sebagaimana dalam Al-Qur’an surah An-Naba’ ayat 11 Allah berfirman:

“Kami jadikan waktu siang untuk mencari penghidupan.” (QS. An-Naba’ [78]: 11)

Melalui kerja manusia menyatakan eksistensi dirinya dalam kehidupan bermasyarakat. Bekerja pada dasarnya merupakan realitas fundamental bagi manusia dan karenanya menjadi hakikat kodrat yang selalu terbawa dalam setiap jenjang perkembangan kemanusiaannya, sebab dengan kerja manusia dapat melaksanakan pembangunan perekonomian masyarakat dan sekaligus sebagai cermin pelaksanaan perintah agama (Asy’arie, 1997: 40), dengan memberi berbagai kemudahan hidup dan jalan-jalan mendapatkan rezeki di bumi yang penuh dengan segala nikmat ini sebagaimana dalam firman_Nya:

“Dialah yang telah menciptakan bumi dan isinya agar selalu tunduk patuh, pergilah ke segala penjuru bumi dan makanlah rezeki_Nya. Hanya kepada-Nya tempat kembali.” (QS. Al-Mulk [67]: 15)

Selain itu terdapat perintah bertebaranlah di muka bumi untuk bekerja, sebagaimana disebut dalam surat Al-Jumu’ah ayat 10:

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu dimuka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah [62]: 10)

Ayat di atas dapat dipahami bahwa urutan aktivitas (‘amal) seorang muslim, setelah ibadah adalah kerja. Bekerja pada sisi lain dapat dipahami sebagai ibadah dalam pengertian umum.

Persepsi sebahagian masyarakat kita tentang kerja adalah keliru. Kerja dipahami sebagai suati kegiatan yang menghasilkan secara konkrit, mendatangkan keuntungan secara materi atau memperoleh jasa atau gaji (upah) dari pekerjaannya itu. Pemahaman tersebut adalah lebih bersifat formal. Kerja menurut konsep Islam amatlah luas, baik yang dapat menghasilkan atau tidak menghasilkan secara konkrit. Setiap muslim sejak dia bangun tidur, hingga dia tidur Kembali, apapun yang dilakukannya disebut dengan kerja.

Dasar kerja atau amal adalah niat yang akan membedakan suatu tindakan itu berupa kebajikan atau tidak. Ditegaskan bahwa merupakan satu kewajiban kepada setiap manusia untuk melakukan yang terbaik dalam memikul amanah dan tanggungjawab karena Allah tidak akan memberatkan seseorang dengan sesuatu yang tidak mampu dilakukannya (QS. Al-Baqarah [2]: 286). Dan oleh sebab itu setiap manusia dikaruniai suatu kelebihan dan untuk itu dia akan dimudahkan mengerjakan apa yang telah diketahuinya.

Lebih jauh dari itu, seorang yang secara fisik tidak bekerja atau dalam keadaan tidak bergerak, tapi akal dan fikirannya difungsikan secara aktif, maka dapat digolongkan kepada makna kerja. Demikian juga orang yang hatinya berdzikir kepada Allah SWT ini juga kerja. Allah telah memberikan paling tidak tiga daya kepada manusia, yaitu daya gerak, daya fikir dan daya qalbu.

Setiap gerakan positif yang dilakukan oleh seorang muslim adalah amal shaleh. Berfikir dan mencurahkan nalarnya untuk belajar, mengajar dan untuk kemaslahatan umat juga amal shaleh. Selanjutnya, niat yang timbul di dalam hati untuk mengingat Allah (Dzikir) juga merupakan amal kebaikan yang mendapat nilai di sisi Allah SWT.

Oleh sebab itu, kerja dalam pengertian luas adalah semua bentuk kegiatan, gerak atau usaha (ikhtiar) yang dilakukan oleh manusia, baik yang sifat materi maupun non materi, baik yang berdimensi duniawi maupun ukhrawi. Dalam kaitan ini, Al-Qur’an selalu mengaitkan antara iman dengan amal (kerja). Sedangkan pada bagian lain mengkaitkan antara kerja dengan kemaslahatan dan hukum. Al-Qur’an juga mendeskripsikan tentang kerja yang positif dan negatif serta diiringi dengan etika kerja.

Disamping itu kerja merupakan fitrah dan sekaligus merupakan salah satu identitas manusia, sehingga bekerja yang didasarkan pada prinsip-prinsip tauhid bukan saja menunjukan fitrah seorang muslim, tetapi sekaligus meninggihkan martabat dirinya sebagai abdullah (hambah Allah) yang mengelola seluruh alam sebagai bentuk dari cara dirinya mensyukuri kenikmatan yang telah diberikan Allah kepadanya.

Oleh karena itulah iman senantiasa dikaitkan oleh al-Qur’an dengan amal shaleh atau perbuatan baik. Ini mengisyaratkan bahwa Islam itu adalah akidah yang mesti diamalkan dan amalan yang mesti berakidah secara tidak terpisah (terintegrasi), sebagaimana dimaksud dalam firman Allah:

“Demi masa, sesungguh manusia pasti akan rugi, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh.” (QS. Al-‘Ashr [103]: 1-3).