Bekal Pendidikan Terbaik, Menanamkan Cinta Ilmu pada Anak (Part-2)

Bekal Pendidikan Terbaik, Menanamkan Cinta Ilmu pada Anak (Part-2)

45
SHARE
Foto : Ilustrasi anak cinta ilmu. Sumber www.pinterest.com
Lanjutan dari … Bekal Pendidikan Terbaik, Menanamkan Cinta Ilmu pada Anak (Part-1)

Majalahayah.com – Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam meletakkan kaidah mendasar bahwa masa kanak-kanak adalah masa belajar dan menuntut ilmu. Hal ini diwariskan dari generasi ke generasi. Mendorong para orang tua untuk menganjurkan anak-anak mereka menuntut ilmu dan mencintai para ulama, karena “Menuntut ilmu adalah kewajiban atas setiap Muslim”, baik dewasa maupun anak-anak, Laki-laki maupun perempuan.

Al-Hasan bin Ali berkata kepada anak-anak dan para keponakannya,

“Belajarlah kalian. Sebab, kalian sekarang ini adalah anak-anak kecil. Esok kalian akan menjadi orang-orang dewasa. Barang siapa di antara kalian yang tidak sanggup menghafal, silakan mencatat.(Kitab Al-Khifayah fi ‘Ilmi Ar-Riwayah, karya Al-Khatib Al-Baghdadi, hal. 29)

Atha’ bin Abi Rabah berkata kepada anak-anak, “Catatlah! Barang siapa yang tidak bisa menulis, kami akan catatkan untuknya. Barang siapa yang tidak memiliki kertas, akan kami beri dari biaya kami sendiri.”

Badi’uz Zaman al-Hamadzani mengirimkan surat kepada keponakannya untuk serius dalam menuntut ilmu. Dalam suratnya tersebut dia katakan, Engkau adalah anakku, selama menuntut ilmu adalah kesibukanmu, madrasah adalah rumahmu, pena adalah temanmu dan buku adalah sahabatmu. Apabila engkau tidak melakukannya, maka orang lain yang akan menjadi pamanmu, Wassalam.” (Kitab Al-Hidayah Al-Islamiyyah, karya Asy-Syaikh Muhammad Khidhr Husain, hal. 228)

Ibnu Abdil Barr dalam kitabnya Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlihi (1/103) mengatakan: Luqman bertanya kepada anaknya, “Anakku, sampai di mana pelajaran yang engkau miliki? Si anak menjawab, “Aku tidak boleh membebani diriku dengan sesuatu yang tidak ada kaitannya dengannya.” Luqman berkata, “Anakku, tersisa satu pelajaran lagi. Duduklah di majelis ulama dan berkumpullah dengan mereka. Sebab, Allah Subhanahu wa Ta’ala menghidupkan hati yang mati dengan hikmah seperti menghidupkan bumi yang mati dengan air hujan.” (Diriwayatkan Imam Malik dalam Kitab Muwaththa’ [2/161])

Baca juga :   Bagaimana Islam Melihat Dunia? (Part 1)

“Anakku, jangan belajar ilmu karena tiga hal dan jangan meninggalkan ilmu juga karena tiga hal. Jangan belajar ilmu untuk mendebat para ulama, berdebat dengan orang-orang bodoh atau mencari popularitas. Jangan meninggalkan ilmu karena merasa tidak butuh, malu kepada orang lain atau ridha dengan kebodohan. Anakku, jangan mendebat ulama yang akibatnya engkau menganggap remeh mereka, sehingga mereka menolakmu (untuk menuntut ilmu dari mereka). Jangan berdebat dengan orang-orang bodoh, karena mereka akan melakukan kebodohan terhadapmu dan memakimu. Akan tetapi, bersabarlah terhadap orang yang tingkat pengetahuannya lebih tinggi darimu atau lebih rendah darimu. Orang yang dapat mengikuti para ulama adalah orang yang sabar terhadap mereka, selalu menemani mereka dan menyerap ilmu mereka dengan perlahan. Anakku, sesungguhnya hikmah itu menempatkan orang-orang miskin pada kedudukan para raja.” (Kitab Al-Lubbu fil Islam Wath Thib, hal. 38, Karya Dr. Syaukat Asy-Syathi’, penerbit Damascus University)

Yahya bin Khalid berkata kepada anaknya, “Pelajarilah segala macam pengetahuan. Sebab, manusia adalah musuh bagi apa yang tidak diketahuinya, dan aku tidak suka engkau menjadi musuh bagi salah satu  cabang ilmu pengetahuan.” Kemudian dia melantunkan sebuah syair;

Baca juga :   Mencari Ilmu bagi Seorang Perempuan itu Wajib

Pelajarilah segala macam ilmu pengetahuan

Karena seseorang berkedudukan tinggi

Pada setiap ilmu yang dikuasainya

Engkau adalah musuh bagi apa yang tidak engkau ketahui

Tetapi engkau memimpin apa yang telah engkau kuasai.

Abdul Malik bin Marwan berkata kepada anak-anaknya, “Anak-anakku, tuntutlah ilmu. Sebab, apabila kalian menjadi pemimpin, niscaya kalian akan dapat memimpin dengan baik. Dan apabila kalian menjadi rakyat, niscaya kalian dapat hidup dengan tenteram.

Para sastrawan, penulis, orang-orang bijak dan para ulama, seluruhnya mendorong anak-anak mereka untuk menuntut ilmu di masa kecil mereka.

Sastrawan Ahmad Syauqi menyeru para orangtua untuk memberikan perhatian yang cukup terhadap pendidikan anak dengan harapan semoga salah satu generasi mereka dapat membuat perubahan dan menyadarkan umat ini dari tidur panjangnya;

Bisa jadi anak suatu kaum yang mereka ajari

Sebelumnya adalah racun dan penyakit menular lagi mematikan

Dia bisa menjadi kebanggaan dan manfaat bagi kaumnya

Kalau mereka biarkan, niscaya menjadi aib dan penyakit

Ajarkanlah semampumu, karena semoga suatu generasi

Kelak melakukan sesuatu yang menakjubkan.

Setelah ilmu pengetahuan dan menuntut ilmu tertanam kuat dalam diri anak dan dipahami dengan baik, dia sendiri yang akan melakukannya. Dia akan sanggup memikul segala beban dalam menuntut ilmu. Dia akan begadang di malam hari untuk belajar, tanpa perlu didorong lagi oleh kedua orang tuanya.