Bekal Pendidikan Terbaik, Menanamkan Cinta Ilmu pada Anak (Part-1)

Bekal Pendidikan Terbaik, Menanamkan Cinta Ilmu pada Anak (Part-1)

65
SHARE
Foto : Ilustrasi anak cinta belajar. Sumber www.istarenglish.edu.vn

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.”  (QS. An-Nahl [16]: 78)

Majalahayah.com – Tidak dipungkiri bekal cara orang tua dalam mendidik sangat berpengaruh terhadap perangai atau akhlak anak dan masa depannya. Di satu sisi, mungkin banyak anak yang mampu menguasai beragam keilmuan, namun disisi lain perangai mereka begitu buruk. Sebaliknya, ada pula anak yang memiliki perangai baik, namun mereka tidak begitu  pandai.

Hal tersebut sebenarnya disebabkan pembekalan dan metode pendidikan yang diterapkan oleh orang tua kepada anak-anaknya. Dengan kata lain, banyak orang tua yang ternyata gagal menemukan metode pendidikan yang tepat dan efektif untuk mengajar, mendidik dan membimbing anak-anak mereka agar mampu tampil sebagai pribadi unggul nan mulia.

Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhahu berkata:

“Perintahkanlah anak-anak kalian menuntut ilmu.” (Kitab Kanzul ‘Ummal 16/584)

Dalam sejarah, belum pernah ada agama seperti agama Islam dalam (kelengkapan) ajarannya kepada setiap pemeluknya. Tidak ada pemikiran di dunia ini yang memberikan bimbingan kepada para penganutnya seperti (metodologi dalam) pemikiran Islam. Hal ini di akui oleh musuh-musuh Islam sendiri. Dosen mata kuliah Islamic Scholarship di Cambridge University, Dr. Arthur Lawrence Foster (Dikutip dari mukadimah buku Tarikh At-Tarbiyah Al-Islamiyyah, karya Dr. Ahmad Syalabi) mengatakan:

“Pada manusia, Islam memiliki pengaruh yang cukup menakjubkan dan patut disyukuri. Kami memiliki banyak referensi yang menunjukkan peran serta kaum Muslimin dalam pengembangan seni, budaya, ilmu pengetahuan dan politik. Jelas bahwa kaum muslimin tidak akan bisa mencapai perealisasian tujuan ilmiah yang tinggi ini apabila mereka tidak memiliki semangat untuk belajar mengajar. Semangat inilah yang membedakan kaum muslimin sepanjang sejarahnya. Kaum laki-laki dan wanitanya menyambut ajakan Rasulullah SAW:

“Tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negeri China.”

Dalam aktifitas pembentukan ilmu dan pemikiran, harus disertai dengan kejelasan dasar yang dipakai sebagai landasan oleh kedua orang tua, agar upaya yang mereka lakukan terjamin keselamatannya, banyak pengetahuan dan shahih pemikirannya. Sebab, pembentukan keilmuan merupakan unsur terpenting dalam membentuk pribadi anak, karena terkait dengan pembentukan otak dan pola pikir anak. Apabila pembentukan yang dilakukan benar, tentu si anak akan menjadi baik dan merupakan kabar gembira bagi kedua orangtuanya. Begitu juga sebaliknya, yang bisa mengakibatkan mereka terseret dalam pintu neraka, Na’udzubillah.

Kita perhatikan bahwa dasar-dasar pembentukan ilmu yang akan kami jelaskan di bawah ini memberikan solusi bagi anak dari dalam agar dapat berjalan pada jalur ilmu: belajar dan cinta kepada ulama. Di sini menjadi jelas tentang pentingnya peran kedua orang tua dalam mencari guru yang shaleh bagi anak mereka, yang nantinya akan menjadi cermin bagi hati dan akal si anak. Apa yang dianggap baik oleh guru, akan dianggap baik pula oleh anak. Oleh karena itu, dasar-dasar yang dibutuhkan oleh kedua orang tua ini harus dikenali.

Baca juga :   Menuju Pernikahan, Menikah Tanpa Tujuan?

Menuntut ilmu adalah ibadah terbaik yang dipergunakan sebagai media oleh seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Rabbnya. Oleh karena itu, masa kanak-kanak adalah masa paling subur untuk pembentukan ilmu dan pemikiran.

Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu:

“Permisalan orang yang menuntut ilmu di masa kecilnya, seperti pahatan di atas batu, dan permisalan orang yang menuntut ilmu di masa tuanya, seperti orang yang menulis di atas air.”

Hadis ini disebutkan oleh Ibnu Abidin dalam Hasyiyah-nya. Kemudian dia katakan, “Di antara bait-bait syair yang dilantunkan oleh Nifthawaih untuk dirinya sendiri adalah

Aku lupa apa yang aku pelajari di masa tua

Tetapi, aku tidak pernah lupa pelajaranku di waktu muda

Tidaklah ilmu selain belajar di masa kecil

Dan tidaklah ketenangan selain belajar di waktu dewasa

llmu setelah beruban hanyalah keserampangan

Yang mengisi hati, pendengaran dan penglihatan setiap orang

Andai sang guru membelah dada di waktu kecil

Dia akan melihat di sana ilmu seperti terpahat di atas batu

Manusia hanya memiliki dua hal; akal dan bicara

Barang siapa yang kehilangan ini dan ini, berarti telah binasa

(Hasyiyah Ibnu Abidin [1/157] cetakan pertama; Al-Maqashid al-Hasanah, halaman 461)

As-Sakhawi dalam kitab al-Maqashid al-Hasanah mengetengahkan beberapa hadits yang mendukung hal ini.

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan secara marfu’ dengan lafal:

“Barang siapa yang belajar Al-Qur’an di masa mudanya, niscaya Al-Qur’an akan bercampur dengan daging dan darahnya. Dan barang siapa yang belajar al-Qur’an di masa tuanya dengan tingkat kesulitan yang tinggi namun dia tidak meninggalkannya, maka dia mendapatkan pahala dua kali.”

Diriwayatkan oleh al-Baihaqi, ad-Dailami dan al-Hakim.

Ibnu Abbas mengatakan, “Barang siapa yang dapat menghafal al-Qur’an sebelum mencapai usia baligh, maka dia termasuk orang yang mendapatkan hikmah di masa kecilnya.”

Para sahabat, tabi’in dan ahli hadis sangat sadar bahwa aktivitas anak-anak dalam belajar memiliki pengaruh yang cukup kuat dalam perkembangan pengetahuannya, menjadikannya lebih hafal dan tertancap kuat di ingatannya dibandingkan seseorang mempelajarinya setelah dewasa.

Baca juga :   Kemerdekaan Potensi Umat, Mendayagunakan Energi Sisa Menjadi Prioritas Utama

Al-Khathib al-Baghdadi mengetengahkan beberapa kisah tentang kehidupan salafus-saleh dan perhatian mereka terhadap anak-anak. Al-Hasan al-Bashri mengatakan, “Bawalah ke mari anak-anak muda kalian, karena mereka memiliki hati yang masih kosong dan lebih dapat menghafal apa yang mereka dengar.” (Kitab Al-Jami’ li Akhlaqi Ar-Rawi wa Adabis Sami’, tahqiq oleh Dr. Muhammad Ra’fat Sa’id. 1/245)

Sa’id bin Rahmat al-Ashbahi mengatakan: Aku yang paling dahulu sampai di majelis Abdullah bin Mubarak di malam itu. Teman-temanku juga datang, tetapi tidak ada yang dapat mengalahkanku. Kemudian beliau datang bersama orang-orang tua. Dikatakan kepada beliau “Anak-anak kecil ini telah mendahului kita duduk di majelismu.” Beliau menjawab, “Mereka lebih aku harapkan kehadirannya daripada kalian. Berapa lama lagi kalian akan hidup? Sedangkan mereka, semoga Allah memanjangkan usia mereka.” Sa’id berkata, “Dari yang hadir malam itu, yang paling panjang usianya adalah aku”.

Al-A’masy mengatakan, “Aku melihat Isma’il bin Raja’ mendatangi anak sekolah dan meriwayatkan hadits kepada mereka agar hadits nya tidak terlupakan.”

Yahya bin Humaid ath-Thawil atau yang lainnya mengatakan: Kami mengunjungi Hammad bin Salamah. Di hadapannya duduk anak-anak kecil yang mendengarkan ceramahnya. Kami ikut duduk sampai dia selesai berceramah. Kami katakan kepadanya, “Wahai Abu Salamah, kami ini adalah orang-orang tua dari kalangan kerabatmu. Tetapi, mengapa engkau tidak menghiraukan kami dan justru menghiraukan anak-anak kecil itu?” Dia jawab, “Aku bermimpi berdiri di pinggir sungai. Di tanganku memegang ember dan aku mengambilkan air untuk anak-anak kecil itu.” Diriwayatkan oleh lbnu Abid Dunya dalam kitab al-‘iyal (2/804).

Apabila ada seorang anak kecil datang kepadanya, Yahya bin Yaman meminta si anak itu untuk membaca tujuh puluh ayat pertama surat Al-A’raf, tujuh puluh ayat pertama surat Yusuf dan hadits yang dihafalnya. Apabila anak itu sanggup membacanya, maka dia meriwayatkan hadis kepadanya. Sebaliknya, apabila si anak tidak bisa membacanya, maka dia tidak meriwayatkan hadits kepadanya.

Selanjutnya…. Bekal Pendidikan Terbaik, Menanamkan Cinta Ilmu pada Anak (Part-2)