Foto : Pengamat politik Ichsanudin Noorsy. (Majalayah.com/KS)

Majalahayah.com, Jakarta – Pengamat politik Ichsanudin Noorsy melihat adanya upaya pemilihan kasus dalam lembaga Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Bahkan dirinya melihat adanya indikasi keterlibatan penguasa dalam pemilihan kasus di KPK.

“KPK hanya bisa menjadi pemadam kebakaran, tapi tidak pernah sungguh-sungguh mampu mematikan sumber api sepenuhnya,” ungkap Noorsy beranalogi ketika dihubungi awak media, Senin (4/4/2017).

“Jadi sumber api tetap hidup,” lanjutnya.

Tebang pilih kasus oleh KPK disebut sangat bertendensi politis. Pasalnya, munculnya beberapa kasus OTT dan e-KTP di tengah banyaknya kasus yang mandek, cenderung hanya menekankan citra saja.

“Penegak hukum bermain citra, kesannya sukses tapi pada akhirnya orang melihat kasus itu menumpuk karena diselesaikan menurut kepentingan politik,” jelasnya.

Pencitraan ini sangat tampak dalam beberapa kasus yang diangkat KPK. Noorsy pun mencontohkan operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan KPK terhadap beberapa pejabat, seperti mantan Ketua DPD RI, Irman Gusman dan Anggota Mahkamah Konstitusi (MK), Patrialis Akbar.

Dalam OTT tersebut, KPK tidak melakukan tangkap tangan ketika Irman Gusman sedang melakukan transaksi suap. Penangkapan ini disebutnya terlalu dipaksakan karena tidak ada bukti kuat untuk disebut sebagai OTT.

“Artinya Irman ditangkap bukan dalam rangka tangkap tangan, tapi lanjutan dari penerimaan uang yang sebelumnya tapi susah nangkep ya karena enggak ada bukti untuk OTT,” tutupnya.

Beberapa kasus besar yang masih jalan di tempat dan mandek dalam penanganan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Seperti Hambalang, Century dan Pelindo, sekarang KPK justru lebih memprioritaskan kasus e-KTP.