Banyak Mainan Anak Tidak Kreatif, Mengapa?

Banyak Mainan Anak Tidak Kreatif, Mengapa?

35
0
SHARE
Keseruan permainan susun balok atau Jenga.
Foto : Keseruan permainan susun balok atau Jenga. Sumber www.malangvoice.com

Majalahayah.com, Jakarta – Weekend memang momentum yang pas untuk mengajak anak berekreasi bersama keluarga tercinta. Namun, para orangtua tak perlu heran jika saat menelusuri jalan di tempat pariwisata selalu ada beragam mainan anak yang amat menarik bagi si kecil

Memiliki banyak mainan jadi impian banyak anak dan orangtua pun selalu ingin membahagiakan anak dengan memberinya berbagai mainan yang disukai. Namun hal tersebut sangat tidak direkomendasikan.

Dilansir dari dream, memberikan sedikit mainan saja pada si kecil maka satu langkah lebih baik untuk dirinya dan tentunya bagi keuangan keluarga. Mengapa demikian? Terlalu banyak pilihan mainan malah bisa membuat anak kewalahan, sehingga ia tidak dapat fokus atau belajar dari mainan yang ada.

Hal tersebut menurut hasil penelitian tim dari University of Toledo, Spanyol. Mengurangi jumlah mainan justru akan anak membuat permainan yang lebih kreatif dan imajinatif.

Dalam penelitian ini, para peneliti memberi balita empat mainan atau 16 mainan. Anak-anak dengan lebih sedikit mainan bermain dengan masing-masing mainan untuk periode waktu yang lebih lama, belajar, mengamati dan bereksperimen dengannya.

“Banyaknya mainan yang tersedia mengurangi kualitas permainan balita. Lebih sedikit mainan sekaligus dapat membantu balita untuk lebih fokus dan bermain lebih kreatif,” ungkap penelitian tersebut.

Anak-anak dengan empat mainan menunjukkan satu setengah kali lebih banyak interaksi dengan mainan daripada anak-anak yang bermain dengan 16 mainan. Anak dengan sedikit mainan justru menunjukkan mereka bermain dalam cara yang lebih canggih.

“Peningkatan keterlibatan dengan mainan memiliki implikasi positif bagi banyak aspek perkembangan. Termasuk bermain imajinatif dan role play, ekspresi diri, keterampilan fisik seperti koordinasi motorik halus, dan pemecahan masalah,” kata psikolog Susan Newman untuk Psychology Today.

Untuk itu, bagi sahabat ayah yang memiliki anak balita, kurangi jumlah mainan di ruangan bermain. Taruh 2 sampai 5 mainan saja. Sisanya, taruh dulu dalam penyimpanan.

Terapkan konsep perputaran mainan, yaitu anak hanya bisa memainkan mainan yang ada di bawah. Sementara jika ia bosan, simpan mainan tersebut dan baru turunkan mainan yang baru.

Jika anak meminta mainan dan sulit untuk mengatasi tangisannya, cobalah dengan cara yang kreatif seperti mengajaknya lomba berlari ataupun hal yang menyenangkan si kecil

LEAVE A REPLY