Bangsa Kuat, Masyarakat Kuat, Mustahil Terbangun Tanpa Kepemimpinan Keluarga Yang Kuat

Bangsa Kuat, Masyarakat Kuat, Mustahil Terbangun Tanpa Kepemimpinan Keluarga Yang Kuat

701
SHARE
Foto: www.betterparenting.com

Majalahayah.com – Bekasi. Sebuah bangsa disebut sebagai bangsa yang besar karena memiliki masyarakat yang kuat. Salah satu ciri masyarakat yang kuat adalah memiliki karakter. Ujung tombak karakter yang ada dalam masyarakat tidak lain adalah keluarga. Oleh sebab itu pengajaran, pendidikan dan pembinaan dalam sebuah keluarga menjadi penting, karena berdampak besar terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara.

Berbicara mengenai karakter tidak terlepas dari watak atau perilaku manusia. Ada yang mengatakan bahwa karakter adalah lukisan sang jiwa. Karakter merupakan representasi dari cetakan dasar kepribadian seseorang yang berhubungan dengan kualitas moral. Begitu pentingnya nilai karakter bagi eksistensi seseorang, sehingga dalam peribahasa Inggris dikatakan, “When wealth is lost, nothing is lost; when healt is lost, something is lost; when character is lost, everything is lost.” Apapun yang dimiliki seseorang, kepintaran, keturunan, keelokan, kekuasaan menjadi tak bernilai jika seseorang tak bisa lagi dipercaya dan tak memiliki keteguhan sebagai ekspresi dari keburukan karakter.

Dalam lingkup yang lebih luas, karakter yang baik bukan saja mampu meningkatkan keberadaan seseorang, tetapi juga mampu mengangkat derajat sekelompok masyarakat yang dalam konteks kehidupan bernegara disebut bangsa.  Bahkan, pendiri bangsa Indonesia Ir. Soekarno sering mengajukan pertanyaan dengan mengutip pernyataan H.G. Wells – seorang sejarawan Inggris, “Apa yang menentukan besar kecilnya suatu bangsa?” Kemudian dijawabnya sendiri dengan mengatakan bahwa hal yang paling menentukan besar kecilnya suatu bangsa bukanlah seberapa luas wilayahnya dan bukan pula seberapa banyak penduduknya, melainkan tergantung pada kekuatan tekad yang merupakan pancaran karakternya.

Kepemimpinan Dalam Keluarga

Dalam sebuah keluarga harus ada kepemimpinan. Tanpa adanya kepemimpinan, jangan harap kehidupan keluarga bisa berjalan dengan mulus. Justru akan terjadi kekacauan dalam keluarga, karena semua orang berjalan sendiri-sendiri sesuai dengan keinginannya.

Apa yang dimaksud dengan kepemimpinan? Kepemimpinan adalah proses mengarahkan perilaku orang lain dalam sebuah komunitas atau kelompok untuk mencapai tujuan tertentu. Seperti dalam sebuah keluarga, sudah menjadi sebuah kelaziman kalau suami berperan sebagai pemimpin dalam sebuah keluarga. Dia harus mengarahkan anggota keluarga yang dipimpinnya agar mengikuti arahan atau aturan yang dibuatnya. Tentu saja aturan tersebut wajib memiliki nilai-nilai yang hakiki dan norma-norma lain yang berlaku umum di masyarakat.

Namun tindakan pemimpin keluarga tidak boleh membuat peraturan seenaknya sendiri (zalim). Dia harus memperhatikan kepentingan istri dan anak-anaknya, serta anggota keluarga lainnya yang kebetulan tinggal serumah dengannya. Seorang pemimpin keluarga sudah sepantasnya menjadi teladan bagi keluarganya dengan melakukan tindakan yang bijak dan bisa diterima semua pihak.

Baca juga :   Ketika Keberadaan Ayah Lebih Penting dari Siapa Pemenang Olimpiade

Keberadaan seorang pemimpin yang baik dalam keluarga harus mampu membuat kehidupan anggota keluarganya menjadi teratur, berjalan sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. Setiap anggota keluarga merasa mendapat keadilan dan bebas melaksanakan aktivitasnya, tanpa merasa terganggu oleh aktivitas anggota keluarga lainnya. Justru aturan yang sudah dibuat pemimpin keluarga sebaiknya mampu memberikan rasa aman, adil,  dan penuh kasih sayang, sehingga tercipta iklim yang kondusif.

Dalam sebuah keluarga, ketika keberadaan seorang pemimpin atas satu dan lain tidak ada dirumah, maka istrilah yang berperan untuk menggantikan kepemimpinan tersebut. Misalnya ketika suami sedang tidak ada di rumah karena sedang bekerja, maka istri yang menggantikan posisi suami sebagai pemimpin di dalam rumah. Istri bisa mewakili suaminya melakukan pembinaan terhadap anak-anaknya dan anggota keluarga lain yang tinggal serumah dengan mereka (misalnya orangtua, mertua, saudara, atau asisten rumah tangga). Tentunya istri tetap menggunakan kebijakan yang telah ditetapkan oleh suami.

Peran suami dan istri dalam kehidupan rumah tangga tidak perlu dipertentangkan. Tidak perlu ada yang merasa lebih tinggi atau lebih berperan dibandingkan dengan lainnya. Keduanya justru harus sinergi, saling melengkapi dan bahu-membahu mewujudkan cita-cita bersama. Keduanya harus mampu bekerjsa sama dan saling melengkapi, sehingga kehidupan rumah tangganya menjadi indah.

Tugas Pemimpin Keluarga

Menjadi pemimpin dalam sebuah keluarga bukan perkara mudah. Namun semua itu bisa dilaksanakan jika sang pemimpin memiliki keilmuan yang memadai. Seorang pemimpin keluarga setidaknya memiliki kemampuan untuk memberikan solusi terhadap berbagai persoalan yang terjadi dalam kehidupan rumah tangganya, baik persoalan kecil maupun besar.

Pemimpin keluarga adalah tulang punggung keluarga. Tugasnya, jika dianalogikan mirip seperti tugas seorang nahkoda kapal yang sedang berlayar. Dialah yang mengatur anak buah kapal, membuat kebijakan dan menentukan ke arah mana kapal tersebut berlayar. Dalam menjalankan tugasnya, nahkoda tidak boleh bertindak sembarang. Dia wajib memiliki buku pedoman yang menjadi aturan baku dalam berlayar sekaligus tuntunan baginya dalam mengambil keputusan.

Sebagaimana analogi tersebut, maka seorang pemimpin keluarga harus berpikir bagaimana cara mengatur kehidupan rumah tangganya, sehingga mampu mengatasi berbagai dinamika persoalan kehidupan. Tidak selamanya kehidupan itu mulus seperti halnya mobil yang berjalan, kadang melewati jalan lurus, kadang juga harus melewati beberapa belokan yang tajam. Bahkan tidak jarang melewati tepi jurang yang dalam, sehingga memerlukan ketelitian dan kehati-hatian dalam mengemudikannya. Untuk itu wajib seorang pemimpin keluarga memiliki pedoman guna mendasari setiap keputusannya.

Baca juga :   Pengamat Yakin Suara Ahok Tergerus Karena Lecehkan Ayat Al-Qur'an

Peran Pemimpin Keluarga

Banyak sekali peran yang wajib dilakoni oleh seorang pemimpin keluarga dalam rumah tangga. Selain sebagai pencari nafkah, beberapa peran lain di antaranya adalah:

  1. Pengajar, pendidik dan pembina terhadap istri dan anak-anaknya

Selama ini karena suami terlalu fokus bekerja mencari nafkah, hingga sering kali melupakan tugasnya sebagai pengajar, pendidik dan pembina bagi anak-anaknya. Peran ini sering kali diserahkan kepada istri ataupun pihak guru ketika anaknya sedang bersekolah. Kondisi ini tidak boleh dibiarkan terus terjadi. Bahkan istrinya-pun tidak boleh luput dari pembinaan yang seharusnya dilakukan oleh seorang suami. Kelalaian dalam membina istri akan berakibat fatal dalam sebuah rumah tangga.

  1. Hakim yang adil dan bijaksana

Peran pemimpin dalam keluarga adalah mengambil keputusan yang terkait dengan berbagai persoalan. Bisa saja persoalan itu menyangkut urusan istri, anak-anak atau anggota keluarga lainnya. Sosok pemimpin harus memiliki sifat yang tegas, tetapi juga adil dan bijaksana dalam dalam menyelesaikan setiap persoalan. Pemimpin tidak boleh ragu dalam membuat sebuah keputusan.

  1. Sahabat anak-anaknya

Disamping berkewajiban dalam mendidik anak-anaknya, wajib pula baginya untuk bisa berperan sebagai sahabat bagi anak-anaknya. Terbangunnya komunikasi ataupun dialog antara ayah dan anak akan menjalin hubungan batin yang sangat dibutuhkan dalam proses pendidikan ataupun pembinaan.

  1. Pelindung anak-anaknya

Pemimpin keluarga berperan melindungi anak-anaknya dari berbagai gangguan yang mampu membuat mereka terluka, baik hati maupun fisiknya (Bullying). Misalnya dari gangguan anak-anak yang sering mengejek atau menghinanya sehingga membuatnya malu, takut, minder, dan kehilangan rasa percaya diri.

 

Memimpin Keluarga Wajib Dengan Ilmu

Jika menyikapi pentingnya tugas dan peran seorang pemimpin keluarga guna membangun keluarga yang kuat, tentunya mustahil dapat dilaksanakan dengan baik amanat tersebut tanpa adanya bekal ilmu. Kesadaran untuk membekali diri dengan ilmu-ilmu yang dibutuhkan menjadi sangat penting dan merupakan prioritas utama dalam menahkodai bahtera rumah tangga.

 

Referensi:

“Dan janganlah engkau turut apa-apa yang engkau tidak ada ilmu padanya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan ditanya,” (QS. Al-Isra:36).

Rasulullah saw. berkata “Barang siapa beramal tanpa ilmu maka apa yang dirusaknya jauh lebih banyak dibandingkan yang diperbaikinya” (Muhammad bin Abdillah Ad-Duaisy,1998:15-26).

***