Majalahayah.com, Jakarta – Sekertaris Jenderal Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Hafizh Syafa’aturrahman, sampaikan keprihatinannya fenomena anak berinisial RA, dengan usia 2 sudah candu rokok di Sukabumi, Jawa Barat.

Mampu menghabiskan 40 batang rokok dalam sehari, saat ini diketahui kondisi kesehatan RA sangat terancam. Hafizh nyatakan, peristiwa mengejutkan ini bukanlah hal yang pertama kalinya bagi anak Indonesia.

“Kondisi RA bukanlah hal yang pertama kalinya di Indonesia, perilaku kecanduan rokok diusia balita jelas hal yang mengerikan, sudah seharusnya taraf tumbuh kembang anak mendapatkan asupan gizi yang sehat dan pendidikan yang baik, bukan malah sebaliknya, terjebak pada adiktif rokok sehingga mengancam kesehatan dan tumbuh kembang anak,” ujarnya saat Konferensi Pers “Indonesia Darurat Rokok” di Aula Pusat Muhammadiyah, Jakarta (20/08/2018).

Berdasarkan angka dari Kementrian Kesehatan (Kemenkes) pada tahun 2017, Indonesia merupakan negara rokok terbesar di dunia lebih dari 60 juta perokok aktif, diantaranya ialah berusia 10-18 tahun.

“Menurut data atlas pengendalian tembakau ASEAN mengungkapkan lebih 30% anak Indonesia mulai merokok sebelum 20 tahun dan jumlah itu mencapai 20 juta anak,” tambahnya.

Iklan rokok yang dinilai sangat mendorong anak untuk mencoba menghisap hingga memgalami kecanduan, Komisioner KPAI, Jasra Putra tegaskan agar pemerintah mengesahkan RUU Perlindungan Anak, salahsatunya menghapus iklan-iklan rokok yang menyesatkan.

“Dalam iklan rokok itu cenderung mengatakan bahwa merokok itu macho, merokok bisa¬† menang dan berhasil, ini adalah penyesatan. Iklan rokok telah berhasil mengambil pasar anak-anak kita yang jumlahnya 87 juta anak, ini sangat penting kita perlu mengingatkan pemerintah termasuk DPR agar hukum RUU Perlindungan Anak segera disahkan,” ujar Jasra.

Keberhasilan dalam merehabilitasi anak candu rokok bisa memakan waktu 8 tahun, Jasra sampaikan dalam penyelesaian kasus di Sukabumi, Pemerintah pusat maupun daerah wajib hadir bersama instrumen daerah ramah anak dan kawasan tanpa rokok.

“Meskipun yang kita hadapi adalah industri kuat, kita harus bisa melawannya dan kita butuh keberpihakan pemerintah dalam mengawali kasus ini agar tidak kembali terjadi, anak Indonesia wajib dilindungi,” tuturnya.

Mengetahui tahun 2045 Indonesia akan mengalami bonus demografi, Jasra khawatir jika kasus rokok tak diatasi sejak saat ini, dipastikan Indonesia hanya mendapatkan ampasnya saja.

“Oleh karena itu kasus rokok ini harus kita kawal sejak saat ini, kalau anak-anak kita sudah dicekoki dengan rokok yang sangat beririsan dengan narkoba, hal ini sangat membuat khawatir dan kedepannya tak ada hal postif yang dapat diraih,” tutupnya.

Menghentikan agar anak-anak Indonesia tidak terancam candu zat adiktif rokok dan tidak lagi melahirkan generasi adiktif dan berpenyakit akibat rokok, maka Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muahmmadiyah (IPM) tegaskan ke Presiden Joko Widodo segera melakukan pelarangan iklan promosi sponsor rokok di semua media.

Tak hanya itu, penerapan 100% kawasan tanpa rokokpun sangat penting. “Sebagaimana yang menjadi komitmen presiden Jokowi pada Nawa Cita, bahwa kawasan tanpa rokok selain memberikan perlindungan kesehatan dan paparan asap rokok, sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat agar berhenti merokok, serta menciptakan lingkungan bebas rokok dari perilaku merokok yang dapat dilihat dan ditiru oleh anak-anak,” tutup Hafizh .