Ilustrasi Keshalihan orangtua dengan anaknya. Sumber : hautehijab.com

Majalahayah.com – Duhai sobat Ayah, siapa yang tidak ingin mendapatkan jaminan kebaikan hidup dalam diri, keluarga dan terutama anak keturunannya. Harapan para orangtua pasti menginginkan penanaman sikap hidup terbaik pada anak-anaknya hingga kelak menjadi bekal peninggalan setelah tiada nanti.

Terlebih menjadi orangtua yang shalih yang amal kebaikannya menjadi ganjaran hingga mampu dirasakan oleh anak keturunannya kelak. Keshalihan dan amal kebaikan orangtua memiliki dampak besar dalam jiwa anak-anaknya, serta memberikan manfaat di dunia maupun akhirat. Sebaliknya jika amal-amal jelek dan dosa besar yang dilakukan orangtua akan berpengaruh buruk terhadap Pendidikan dan perjalanan anak-anaknya, Naudzubillah.

Pengaruh-pengaruh tersebut diatas datang dengan berbagai bentuk. Diantaranya, berupa keberkahan amal shalih dan pahala yang Allah sediakan untuknya. Bentuk ganjaran dan pahala tersebut biasanya dirasakan oleh anak dapat berupa penjagaan, rejeki yang luas, kemudahan, karunia dan pertolongan dari berbagai kesulitan. Begitu halnya sebaliknya dengan ganjaran orangtua yang beramal jelek atau dosa besar dan bisa menjadi orangtua durhaka.

Seorang anak yang melihat ayahnya senantiasa berdzikir, mengucapkan kalimah thayyibah, bertasbih, tahmid, dan takbir niscaya anak akan meniru mengucapkan kalimat laa ilaha illallah, subhanallah dan sebagainya. Begitu juga seorang anak yang terbiasa melihat orangtuanya mengaji Al-Qur’an, shalat, berpuasa, mengucap salam, hadir dalam kajian dan mencontohkan memberikan sedekah. Betapa sangat berpengaruhnya apapun amal perbuatan yang dilakukan orangtuanya sehari-hari dan bias menjadi inspirasi anak-anaknya.

Baca juga : Ayah, Bagaimana Cara Memperlakukan Al-Qur’an?

Seorang anak yang melihat ayahnya bangun shalat di malam hari, menangis takut kepada Allah, lalu membaca Al-Qur’an, maka anak pasti akan berfikir, “Mengapa ayah menangis? Mengapa ayah harus shalat? Untuk apakah Ayah meninggalkan tidur dikasur yang enak lalu berwudhu dengan air dingin ditengah malam seperti ini? Untuk apakah Ayah sedikit tidur dan berdoa dengan khusyu’ penuh pengharapan dan ketundukan?”

Semua pertanyaan ini akan bergejolak dibenak anak dan akan selalu hadir dalam pikirannya. Hingga selanjutnya kelak anak akan mencontoh dengan hikmah apa yang dilakukan ayahnya.

Demikian juga seorang anak perempuan yang melihat ibunya berhijab dan menjaga diri dari laki-laki yang bukan mahramnya, serta menutup aurat dihadapan mereka. Begitu juga saat berhias pun dengan akhlak malu, ketenangan dan menjaga kesucian diri. Sang anak akan mempelajari dari ibunya akhlak tersebut dan menjadi hikmah yang baik untuk perilaku anak.

Oleh karena itu, dengan keshalihan kedua orangtua kepada Allah SWT kemudian disertai dengan usaha saling membantu antara keduanya dan dihiasi akhlak yang mulia, maka pengaruhnya si anak akan tumbuh dengan ketaatan dan keshalihan kepada Allah SWT.

Baca juga : Dialog Ayah dan Anak, Cara Unik Menanamkan Keyakinan kepada Allah

Bahkan para malaikat akan mendoakan orang shalih berikut kedua orangtuanya dan anak keturunannya,

“Ya Tuhan kami, dan masukkanlah mereka ke dalam surga ‘Adn yang telah engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang shalih di antara bapak-bapak mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ghafir [40] : 8)

Apabila anak keturunan tumbuh dalam ketaatan kepada Allah SWT dan mendakwahkan agama-Nya, mreka semua akan bertemu di surga yang kekal sebagaimana diberitahukan oleh Firman Allah SWT,

“Dan orang-orang yang beriman, dan yang ank cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. Ath-Thur [52] : 21)

Ibnu Abbas RA mengatakan “Allah Azza wa Jalla mengangkat derajat anak keturunan orang-orang mukmin sederajat dengannya di surga, walaupun amalan mereka masih di bawah si mukmin tersebut.” Kemudia dia (Ibnu Abbas RA) membaca QS. Ath-Thur ayat 21 tersebut.

Sa’id bin Musayyib berkata “Sewaktu shalat, aku teringat anakku, maka aku tambahkan shalatku. Karena telah diriwayatkan  bahwa Allah menjaga orang shaleh berikut keturunannya”. Demikianlah yang ditunjukkan oleh Firman Allah SWT :

“Sesungguhnya pelindungku ialah Allah yang telah menurunkan Al-Kitab (Al-Qur’an) dan Dia melindungi orang-orang yang shalih.” (QS. Al-A’raf [7] : 196)

Disisi lain hendaknya orang tua tetap dalam ikhtiar agar hati tetap sadar dan waspada serta tetap tunduk kepada Allah SWT mengharapkan karunia anak yang shalih.

Baca juga : Anakku Sayang, Bercita-citalah yang Paling Tinggi