Ilustrasi mengasuh anak. (Foto: Kompas)

Majalahayah.com, Jakarta – Berbicara menjadi ayah memang tidak ada fakultas dan jurusan khusus yang mengkaji bidang keayahan. Semua natural, mengalir dan kadang-kadang hanya mencontoh.

Terlepas apakah contoh tersebut ideal atau tidak, layak diserap atau tidak, terkadang yang dipikirkan bagaimana peniruan terhadap pola yang sudah ada dapat dipraktekan pada anak sendiri.

Menurut Miarti Yoga dalam buku Best Father Ever bahwa konteks pengasuhan yang ada lebih berupa trail and error alias coba-coba. Oleh karena itu, tidak heran bila kemudian terjadi maal pengasuhan. Terlebih jika sosok ayah bukan tipikal manusia pembelajar dengan kata lain malas memperbaiki diri dan anti terhadap perubahan.

“Cukup repot memang, bila laki-laki yang tiba-tiba harus menjadi ayah tanpa pengkondisian sebelumnya. misalnya mengurus adik atau mengurus keponakan dan sebagainya. Pengalaman menjaga keponakan atau adik sebetulnya menjadi bekal tersendiri,” tulisnya dalam buku.

Jika tidak pernah berusaha melakukan usaha apapun, Yoga ungkap bahwa penyikapan yang ia berikan kepada anaknya akan salah dengan kata lain, ayah semacam ini hanya mahir dalam memarahi, mengintrogasi atau barangkali sangat mahir dalam menuruti keinginan anak tanpa kecuali.

Nah, agar meminimalisir hal tersebut, yoga mengimbau untuk menetapkan strategi cerdas bagi para pria yang berstatus ayah. Ya! Meregulasi diri. Apa itu?

“Meregulasi diri artinya memahami pola keseharian terkait aktivitas kerumahtangga atau bisa juga diartikan dengan memiliki pola pikr yang bijak tentang makna pembagian tugas dalam rumah tangga,” tambahnya.

Ia contohkan seperti mulai anak bangun, bersiap menuju sekolah, memberi asupan dongeng sebelum tidur, hingga memastikan mereka pulas tanpa ada lagi permintaan atau rengekan.