Authors Posts by RK

RK

351 POSTS 0 COMMENTS

PKS Akui Salim Al Jufri Figur yang Bisa Lengkapi Kepemimpinan Prabowo

Majalahayah.com, Jakarta - Ijtima Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama mengeluarkan rekomendasi Capres-Cawapres untuk Pilpres 2019. GNPF sendiri merekomendasikan nama Prabowo Subianto sebagai Capres...

Rekomendasi Ijtima GNPF Ulama, PBB : Cukup Sulit karena Yusril Tidak...

Majalahayah.com, Jakarta - Ijtima Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama mengeluarkan rekomendasi Capres-Cawapres untuk Pilpres 2019. GNPF sendiri merekomendasikan nama Prabowo Subianto sebagai Capres...

20 – 20 – 20 Pesan Bagi Anak-anak Pangandaran

Majalahayah.com, Pangandaran – BPBD Kabupaten Pangandaran mengenalkan jargon 20 – 20 – 20 kepada 207 anak-anak tingkat sekolah dasar pada Sabtu (28/7) di Desa...

Minta Habib Rizieq Capres, Kapitra Ampera Ancam Ijmak GNPF Ulama

Majalahayah.com, Jakarta - Kapitra Ampera mengatakan ijmak atau musyawarah ulama akan digelar pada akhir Juli ini untuk membahas calon presiden yang diinginkan umat. "Benar akan...

Akhir Juli, GNPF-Ulama Gelar Ijtima Bahas Kepemimpinan Nasional

Majalahayah.com, Jakarta - Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama (GNPF Ulama) akan menggelar Ijtima’ Ulama dan Tokoh Nasional. Acara itu insya Allah akan diselenggarakan pada...

Terkait OTT di Lapas Sukamiskin, Pemuda Muhammadiyah : Pak Presiden Perlu...

Majalahayah.com, Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan operasi tangkap tangan Kepala Lembaga Pemasyarakatan Sukamiskin, Bandung, Wahid Husen yang dijemput di rumahnya pukul 24.00...

JK Ingin Maju Lagi Sebagai Cawapres, Studi Empiris Jabatan Wapres Harus...

Majalahayah.com, Jakarta - Alasan Wakil Presiden, Jusuf Kalla mengajukan dirinya sebagai pihak terkait dalam pengujian pasal tentang batasan jabatan Wakil Presiden dalam Undang-Undang Nomor...

Kapal Nelayan Karam Dihempas Ombak Besar di Jember, Berikut Data Korban...

Majalahayah.com, Jember - Saat ini gelombang Samudera Hindia di selatan Jawa tinggi dan ganas sehingga memberikan dampak bagi nelayan, daerah wisata dan kawasan pesisir...

Soroti Pencalegan Kapitra, DPP PA 212 : Jelas Mana yang Taat,...

Majalahayah.com, Jakarta - DPP Persaudaraan Alumni (PA) 212 menegaskan tidak akan mendukung pihak manapun yang diusung oleh partai pendukung Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), termasuk...

Partai Bulan Bintang Daftarkan Eks Anggota HTI Jadi Caleg

Majalahayah.com, Jakarta - Partai Bulan Bintang (PBB) menggaet mantan anggota Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) sebagai calon legislator (caleg) Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019 ke Komisi...
Majalahayah.com, Jakarta - Ketua Komisi Dakwah MUI Pusat Cholil Nafis mempersoalkan kebijakan Pemprov DKI Jakarta yang akan menggelar salat tarawih di Monas pada 26 Mei, yang akan dihadiri oleh Gubernur Anies Baswedan dan Wagub Sandiaga Uno. MUI mempertanyakan acara tarawih di Monas ini. Cholil Nafis mempertanyakan kebijakan tersebut yang bertujuan untuk menjaga persatuan. Karena dirinya melihat masih ada Masjid yang mampu menampung para jamaah. "Saya kok ragu ya kalau alasannya tarawih di Monas untuk persatuan. Logikanya apa ya? Bukankah Masjid Istiqlal yang megah itu simbol kemerdekaan, kesatuan, dan ketakwaan. Sebab, sebaik-baiknya salat itu di masjid karena memang tempat sujud. Bahkan Nabi SAW selama Ramadan itu iktikaf di masjid, bukan di lapangan," tutur Ketua Komisi Dakwah MUI Pusat Cholil Nafis dalam keterangannya, Sabtu (19/5/2018). Dirinya menyatakan agar kegiatan kebangsaan dan keagamaan mampu ditempatkan pada logika yang tepat. Sehingga katanya tidak terjerumus kepada niat untuk menunjukan diri. "Marilah yang sehat menggunakan logika kebangsaan dan keagamaan. Jangan menggunakan ibadah mahdhah sebagai alat komunikasi yang memunculkan riya' alias pamer. Shalat Ied aja yang untuk syi'ar masih lebih baik di Masjid kalau bisa menampungnya. Meskipun ulama ada yang mengajurkan di lapangan karena syi'ar tapi Masjid masih lebih utama," ucapnya. Karena menurut Nafis, shalat tarawih lebih baik dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Hal ini ujarnya mencontoh perilaku Nabi saat melakukan sholat tarawih. "Shalat tarawih itu menurut sebagian ulama sebagai shalat malam, maka lebih baik sembunyi atau di masjid. Makanya Nabi saw hanya beberapa kali shalat tarawih bersama sahabat di Masjid. Makanya kalau shalat di Monas karena persatuan sama sekali tak ada logika agamanya dan kebangsaannya. pikirkan yang mau disatukan itu komunitas yang mana?" tegasnya. "Duh, yang mau disatukan dengan shalat tarawih itu komponen yang mana? dan yang tak satu yang mana? kalau soal jumlah rakaat yang berbeda sudah dipahami dengan baik oleh masjid-masjid bahwa yang 8 atau yang 20 bisa shalat bareng berjemaah hanya yang 20 kemudian meneruskan. Ayolah agama ditempatkan pada relnya jangan dibelokkan," tambah Nafis. Karena itu dirinya berharap Pemprov DKI mengurungkan niat untuk menerapkan kebijakan sholat teraweh di Monas. Karena menurutnya masih ada masjid besar yang mampu menampung. "Saya berharap pemprov DKI mengurungkan niat tarawih di Monas. Cukuplah seperti maulid dan syiar keagamaan aja yang di lapangan. Tapi shalat di lapangan sepertinya kurang elok sementara masih ada masjid besar sebelahnya yang bisa menampungnya. Ayo pemprov DKI lebih baik konsentrasi pada masalah pokok pemerintahannya yaitu mengatasi banjir dan mecet yang tak ketulungan dan merugikan rakyat," pungkasnya. Berkaitan dengan acara ini sendiri, Sandiaga menyatakan Pemprov DKI mengadakan tarawih pertama kalinya dengan harapan dapat mempersatukan warga. "Karena ini adalah simbol Jakarta dan Monas ini menjadi tempat pemersatu umat dan menjadi simbol Jakarta yang mudah-mudahan bisa meningkatkan ketakwaan kita selama bulan Ramadan," ujar Sandiaga. Sandiaga mengatakan telah berkoordinasi dengan pihak terkait dalam penyelenggaraan acara tersebut. Dia menegaskan hanya akan mengadakan tarawih dan bukan buka puasa bersama. Rencana ini juga sudah dikoordinasikan dengan Anies Baswedan.