Majalahayah.com – AS telah kembangkan vaksin untuk obati COVID-19. Pejabat Kesehatan AS mengatakan siap untuk menguji kepada manusia untuk pertama kalinha. Ini merupakan harapan baru untuk perangi pendemi global tersebut.

Meski uji coba manusia sudah bisa dilakukan, para ahli masih membutuhkan waktu 12-18 bulan. Pasalnya, obat itu masih harus melakukan banyak uji klinis hingga vaksin dinyatakan benar-benar aman untuk dikonsumsi manusia dan siap dipasarkan. 

Melansir dari AFP, Rabu (18/3/2020), vaksin yang disebut mRNA-1273 itu dikembangkan oleh para ilmuwan dan kolaborator National Institutes of Health (NIH) AS di perusahaan bioteknologi Moderna yang berbasis di Cambridge, Massachusetts.

“Ada 45 sukarelawan berusia 18 sampai 55 tahun yang sehat akan menjadi bagian dalam uji coba vaksin. Peserta pertama menerima vaksin hari ini. Uji coba akan berlangsung selama enam minggu,” kata NIH dalam keterangan resmi.

Pendanaan uji coba ini diberikan oleh Koalisi untuk Kesiapsiagaan Epidemi Inovasi (CEPI) yang berbasis di Oslo. Hingga saat ini vaksin untuk COVID-19 masih belum di pasarkan secara umum

Untuk diketahui, hingga Selasa (17/3/2020) siang, virus yang pertama kali diidentifikasi di Wuhan, China, itu telah menginfeksi lebih dari 182.000 orang di 162 negara.

Menurut perhitungan Worldmeters, dari angka tersebut, lebih dari 7.100 orang meninggal dunia karena virus corona.

“Menemukan vaksin yang aman dan efektif untuk mencegah infeksi SARS-CoV-2 adalah prioritas kesehatan yang mendesak,” ungkap Anthony Fauci, kepala penyakit menular di NIH.

Studi fase 1 ini, kata Fauci, cukup cepat dilakukan. Menurutnya, fase itu merupakan langkah pertama yang penting. 

Percobaan pertama akan mempelajari dampak dari dosis yang berbeda ketika injeksi disuntikkan di lengan atas sukarelawan. Efek samping yang mungkin terjadi antara lain nyeri atau demam setelah diberi injeksi.

Seperti kita ketahui, virus corona berbentuk bulat dan memiliki duri menonjol di permukaannya. Tampilan ini membuat virus corona tampak seperti mahkota.

Penelitian vaksin

Farmasi dan laboratorium di seluruh dunia berlomba mengembangkan vaksin untuk Covid-19.

Pengobatan antivirus yang disebut remdesivir, yang dibuat oleh Gilead Sciences yang berbasis di AS, sudah dalam tahap akhir uji klinis di Asia. Dokter di China pun telah melaporkan bahwa obat itu terbukti efektif dalam memerangi penyakit ini.

Namun, hanya uji coba secara acak yang memungkinkan para ilmuwan untuk mengetahui secara pasti apakah itu benar-benar membantu atau apakah pasien akan pulih tanpa itu.

Selain itu, seorang ahli farmasi bernama Inovio mengatakan akan membuat vaksin berbasis DNA dan akan diuji klinis bulan depan.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), 80 persen kasus positif Covid-19 adalah kasus ringan, 14 persen parah, serta sekitar lima persen kritis yang mengakibatkan penyakit pernapasan parah dan membuat paru-paru terisi cairan yang pada gilirannya mencegah oksigen mencapai organ.

Pasien dengan kasus ringan dapat sembuh dalam satu atau dua minggu. Sementara kasus parah bisa memakan waktu enam minggu atau lebih.

Perkiraan terbaru menunjukkan sekitar satu persen dari semua orang yang terinfeksi meninggal.