Jose Mourinho (Dok : Google)

Majalahayah.com, Jakarta – Sebuah anomali terjadi ketika Tottenham Hotspur menunjuk seorang Jose Mourinho sebagai pengganti Mauricio Pochettino sebagai nahkoda klub asal London Utara tersebut. 

Padahal, jauh sebelum penunjukkan dirinya sebagi pelatih Spurs, Mourinho pernah berucap hanya akan melatih klub dengan ambisi besar yang berbanding lurus dengan kekuatan dana yang besar. Chelsea, Real Madrid, Inter Milan, Manchester United adalah kriteria dari klub yang mempunyai ambisi besar tersebut. Mereka tak segan untuk memberikan dana melimpah di bursa transfer untuk memenuhi permitaan Mou memboyong pemain berkualitas dengan harga selangit demi membangun tim yang sesuai.

Untuk hal ini, Spurs bukanlah klub dengan sokongan dana melimpah seperti klu8b yang ditangani Mou sebelumnya. Dibawah pimpinan CEO Daniel Levy, Spurs terkenal sebagai klub yang rajin membeli pemain murah dan mengorbitkan pemain muda seperti, Gareth bale, Luca Modric, Michael Carrick, bahkan kapten klub Spurs dan Timnas Inggris Harry Kane berasal dari akademi klub tersebut.

Kemudian, sebuah anomali terjadi lagi ketika Tottenham Hotspurs dalam lima pertandingan pertamanya bersama Mourinho sudah kebobolan 9 gol meskipun sempat menang besar 5-0 pada saat melawan burnley namun dikandaskan Bayern 3-1 (2 gol vs Olimpiakos, 2 gol vs Bournemouth, 2 gol vs MU, dan 3 gol vs bayern munchen). Hal ini berbanding terbalik dengan reputasi seorang Jose Mourinho yang dikenal sebagai pelatih pragmatis dan mengandalkan pertahanan tangguh untuk memenangkan pertanding. 

Tentu kita masih ingat dengan final liga champions tahun 2010 antara Inter Milan vs barcelona yang berakhir dengan skor 3-1 untuk kemenangan I nerazurri. Saat itu Mourinho berhasil memenangkan pertandingan final dengan permainan bertahan untuk meredam agresivitas serangan Barcelona.

Ketika melihat skema permainan pun, Anomali kembali terlihat ketika kita hanya melihat Mourinho mengandalkan dua gelandang diatas lapangan walaupun diatas kertas terlihat memakai formasi 4-2-3-1 tapi pada dasarnya satu bek sayap dan tiga gelandang dibelakang penyerang bertugas untuk membantu serangan.

Ini berbeda dengan kebiasaan mourinho yang identik dengan 3 gelandang untuk mengendalikan permainan. Walaupun diatas kertas formasi Tottenham dengan Real Madrid terlihat sama (4-2-3-1), tapi dirinya memberikan tugas pada 3 gelandang yang biasanya ditempati oleh Xabi Alonso, Mesut dan Sami Khedira untuk mengontrol pertanding. Sementara lini serang mendapat kan bantuan dari kedua sayap yang berdiri dibelakang penyerang tungal.

Hal ini tidak berbeda jauh pada saat Mourinho melatih Chelsea. Di periode pertamanya melatih The Blues, Mourinho meberikan tugas menjaga lini tengah pada Michael Essien, Claude Makelele, dan Frank Lampard. Begitupun dengan periode kedua, tugas itu diberikan kepada Nemanja Matic, Cesc Fabregas dan Oscar.

Klub mana pun yang dilatih mourinho selalu mengandalkan tiga gelandang untuk mengatur lini tengah untuk menjaga kestabilan permainan. Tidak peduli dengan formasi apapun. Di Inter Milan tugas itu diemban oleh Esteban Cambiasso, Dejan Stankovic, dan Wesley Sneijder. Sedangkan di Fc Porto ada Deco, Maniche, Costinha yang bertanggung jawab menjaga kestabilan permainan.

Hanya di Manchester United Mourinho gagal menemukan komposisi 3 gelandang yang pas sesuai dengan skema yang diinginkan nya. Hanya Paul Pogba dan Nemanja Matic yang diandalkan, terkadang Ander Hererra masuk menggantikan salah satu diantara mereka. Tidak adanya sosok seperti Deco, Lampard, Ozil, atau Sneijder yang mampu menjadi penghubung anatar lini tengah dan depan. Juan Mata sempat dicoba namun gagal, sedangkan Pogba bermain terlalu bebas ketika “dibebaskan”. Sampai akhirnya Mou mendatangkan Fred ke Old Trafford dan mendapat label sebagai pembelian gagal.

Mungkin belajar dari kegagalan di MU, Mourinho tidak terlalu memaksakan bermain mengandalkan tiga gelandang. Apabila hanya dengan dua gelandang, Morinho telah mendapatkan permainan yang diinginkan di Tottenham. Sejauh ini duet Eric Dier dan Moussa Sissoko sering mengisi lini tengah The Lily Whites. 

Tetapi sepertinya kombinasi dua gelandang Mourinho masih belum padu terlebih mengingat jumlah kebobolan Tottenham yang sudah menyetuh angka 9 dalam 5 pertandingan terakhir. Menarik ditunggu duet racikan lini tengah sang “The Special One” mengingat di dalam skuad Spurs terdapat nama nama seperti Eric dier, Moussa Sissoko, Tanguy Ndombele, Harry Winks, dan Vincent Wanyama.