Anak Zaman Now Candu Gawai? Ini Penjelasan Psikolog Keluarga

Anak Zaman Now Candu Gawai? Ini Penjelasan Psikolog Keluarga

243
SHARE
Nadya Pramesrani, Psikolog Keluarga. (Foto: MA/Dini)

Majalahayah.com, Jakarta – Tidak ada orang tua yang tak menginginkan anaknya hidup bahagia dan berkecukupan. Hal ini menjadi dasar bagi mayoritas para ibu untuk turut serta mendampingi sang ayah dalam mencari nafkah. 

Pekerjaan yang membutuhkan banyak waktu dan tenaga sering kali membuat para ibu tak mampu memendam daya amarah, peristiwa ini sering terjadi sehingga anak menjadi korban.

Menurut Nadya Pramesrani, selaku Psikolog Keluarga menyarankan jika orang tua masih terlalu lelah untuk mendampingi anak bermain, lebih baik beristirahatlah.

“Istirahat sebentar sekitar 30 menit, kalau sudah mandi, sudah makan, baru deh jagain anak, dampingi anak bermain,” ujarnya saat dijumpai di Green Tower, Jakarta.

Tak hanya itu, sibuknya ibu bekerja menjadi suatu keharusan anak untuk dititipkan kepada pihak keluarga atau orang lain. Menurut Nadya, ini tak perlu dikhawatirkan, pola  komunikasi adalah hal yang terpenting.

“Tidak ada masalah jika anak dititipkan oleh kakek neneknya, jalin komunikasi yang baik antara orang tua dengan kakek nenek, karena kita harus mengecilkan gap antara anak dengan kakek nenek,” Tambahnya.

Baca juga :   KPAI : Konflik Perceraian, Jadikan Kualitas Pengasuhan Anak Minim

Jika anak di asuh bukan dari pihak keluarga, orang tua tak bisa menyalahkan pengasuh jika anak berprilaku yang tak diharapkan oleh orang tua.

“Terkait dengan pengasuhan dengan orang lain, orang tua sudah semestinya ada pengawasan dan peneampingan, sesuai atau tidak. Kalau tidak sesuai, orang tua harus memberitahu kepada pengasuh, bagaimana cara mendidik anak yang baik, saya kira orang tua sudah paham dengan resiko-resiko yang akan dihadapi,” sampainya.

Menyampaikan anak zaman now lebih candu terhadap teknologi digital, hal ini tak dibenarkan oleh Nadya. Lanjutnya bahwa anak selalu mencontoh apa yang dilakukan orang tua.

“Saat anak tertarik untuk memegang gawai, ini dikarenakan orang tuanya sering mengaplikasikan gawai didepan anak, sehingga anak mencontoh orang tuanya. Kebiasaan-kebiasaan orang tua akan tertular pada anak,” tegasnya.

Oleh karena itu, terkait dunia digital, Nadya sampaikan ini tak bisa dihindarkan. Anak tidak akan candu jika orang tua selalu memberi pendampingan dan pengawasan.

“Hal terpenting adalah pendampingan , jangan sampai orang tua menjadikan digital sebagai pengganti peran orang tua,” tuturnya.

Baca juga :   Yusuf Masyur Inspirasi Gaya Dakwah Dai Muda

Berperan sebagai Co-Founder Rumah Dandelion, Nadya katakan Penggunaan digitalpun harus disesuaikan dengan usia anak. Jika anak 1 tahun, teknologi digital bisa digunakan sebagai alat komunikasi dengan orang tua, seperti Video Call.

“Orang tua bisa menggunakan handphone untuk merekam aktivitas anak, di lain kesempatan video tersebut bisa di putar kembali dan ditunjukan bersama anak, tidak hanya video anak tetapi juga video orang lain, agar menciptakan dunia sosialnya,” paparnya.

Diakhir percakapan, Nadya katakan penggunaan teknologi digital pada anak  perbandingannya harus 1 : 5.

“5 menit anak menggunakan gawai, lalu berikan waktu 25 menit anak bermain di luar atau bersama keluarga di dalam rumah, seperti baca buku , main balok, main sepeda diluar, atau berlari-larian,” tukasnya.

Oleh karena itu jangan jadikan gawai menjadi hal yang menakutkan, sesuatu yang berlebihan hukumnya tidak pernah berujung baik. Cinta kasih orang tua, prilaku baik dan buruk terhadap anak tergantung cara pola asuh orang tua dalam mengatasinya. Semakin kreatif, akan meminimalisir prilaku buruk pada anak.