Anak Terlibat Tawuran, KPAI : Minimnya Pola Komunikasi Antara Anak dengan Orang...

Anak Terlibat Tawuran, KPAI : Minimnya Pola Komunikasi Antara Anak dengan Orang Tua

60
SHARE
KPAI

Majalahayah.com, Jakarta – Masyarakat telah dikejutkan dengan sejumlah kasus tawuran pelajar yang kembali menelan korban jiwa. Seperti yang diketahui anak remaja dengan inisial AH usia 16 tahun telah meninggal dunia akibat tawuran pelajar di Jakarta Selatan.

Menurut keterangan dari Kepolisian, tewasnya AH diserang dengan celurit dan air keras dengan lawannya hanya bermula saling ejek di media sosial.

“Ada 29 orang ditangkap polisi, 10 orang diantaranya sudah ditetapkan sebagai tersangka. Polisi mengungkapkan adanya peran alumnus salah satu sekolah yang bertikai sehingga terjadi tawuran,” ucap Retno selaku Komisioner bidang Pendidikan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) saat di temui di Kantor KPAI, Jakarta Pusat (12/09/2018).

KPAI telah mencatat sejak 23 Agustus 2018 hingga Sabtu, 08 September 2018, sedikitnya telah terjadi empat kali tawuran di wilayah yang berbeda-beda, lanjut Retno, di Permata Hijau, Kolong Tol JORR W2, Jalan Ciledug Raya wilayah Kreo dan Jalan Ciliduk Raya wilayah Kota Tanggerang.

Mengetahui pola tawuran antar belajar akhir-akhir ini dipicu oleh masalah sepele seperti halnya saling ejek, membully di sosial media, Rita Pranawati selaku Wakil Ketua KPAI menegaskan bahwa hal tersebut dipengaruhi oleh pola komunikasi yang minim antara anak dengan orang tua.

Baca juga :   Kunjungi Anak Pelaku Teror, KPAI : Perlu Sentuhan Pemahaman Agama yang Tepat

“Tawuran pelajar itu faktor kurangnya komunikasi antara orang tua dengan anak, kebetulan saya itu mewawancarai anak-anak yang terlibat tawuran, jadi anak-anak itu sebenarnya kalau dari saya melihat bahwa orang tua tidak mempunyai komitmen. Anak tawuran lebih banyak dilakukan pada malam hari, tapi orang tua tidak mempunyai jam malam bagi anak, jadi jam 12 malampun anak keluar rumah tidak dicari, berarti dari hal itu, orang tua membiarkan anaknya keluar malam,” ucap Rita saat diwawancarai majalahayah.com diwaktu yang sama.

Selanjutnya, menurut Rita, orang tua yang tak mempunyai komitmen dalam mendidik anak membiarkan anak-anaknya keluar dengan kendaraan bermotor. Faktanya anak-anak yang terlibat tawuran pelajar masih duduk di kursi SMA, belum mempunyai Surat Izin Mengemudi (SIM).

Baca juga :   Berlakukan Sistem Semi Militer di Sekolah, KPAI : Para Siswa Diajarkan Pegang Senapan

Naasnya, tak berhenti sampai disitu, Rita tegaskan beberapa anak yang terlibat tawuran mempunyai senjata tajam (sejam) dirumahnya namun lagi-lagi dibiarkan saja oleh orang tuanya.

“Kepemilikan anak mempunyai senjata tajam, namun orang tua diam saja, sebenarnya orang tua penting dalam mengetahui kegiatan anak, kalau anak sudah terlihat mempunyai tindakan yang negatif berarti bisa disimpulkan si anak tidak mempunyai kegiatan positif. Termasuk orang tua sudah seharusnya berteman di media sosialnya anak,” ungkapnya.

Meskipun orang tua sudah menyatakan bahwa anaknya terdidik dengan pola asuh yang baik dan benar, namun masih melakukan tindakan yang negatif, Rita tuturkan kalau didikan tersebut masih bisa sepenuhnya tertutup.

“Kalau didikan orang tua sudah baik namun dari lingkungan si anak kurang baik, itu berarti didikan orang tuanya masih bolong-bolong masih ada gap antara anak dengan orang tua, orang tua harus paham kalau anak remaja pasti ingin mencari hal yang baru,” tutupnya.