Anak Pintar di Sekolah? Najelaa Shihab : Tak Menjamin Cerdas di Masa...

Anak Pintar di Sekolah? Najelaa Shihab : Tak Menjamin Cerdas di Masa Depan

27
SHARE
Foto : Najelaa Shihab. Sumber majalahayah.com/DN

Majalahayah.com, Jakarta – Kecerdasan masa depan akan membantu anak sukses dalam kehidupannya. Sebagai orang tua, segudang pengalaman sudah dilalui sehingga dapat menarik kesimpulan bahwa banyak sekali apa yang dipelajari kurang bermanfaat untuk kehidupan jangka panjang. Hal tersebut disampaikan oleh Najelaa Shihab sebagai pegiat Relawan Keluarga Kita (Rangkul) dalam buku Keluarga Kita.

Menyadari semasa lampau hingga kini sekolah masih menggunakan sistem kompetisi dan ranking untuk mengetahui pintar atau tidaknya seorang siswa, Najelaa sayangkan banyak dari mereka pintar disekolah namun tak mampu mengaplikasikannya di kehidupan nyata.

“Tak heran jika kita (para orang tua) mengenal banyak teman yang seolah-olah pintar di sekolah, tapi tidak di aplikasi kehidupan nyata,” ucapnya.

Menegaskan kondisi saat ini telah terjadi penumpukan informasi yang dikonsumsi masyarakat, Najelaa katakan ini merupakan tantangan dan kesempatan yang berdampak ilmu pengetahuan tak lagi berharga.

Baca juga :   Lipatan Tubuh Bayi Jangan Dikasih Bedak

“Anak cerdas bukan hanya perlu banyak tahu, tetapi perlu paham secara mendalam dan mampu mempraktikkan kompetisi diberbagai tempat,” tuturnya.

Menghimbau kepada para orang tua sebagai pendidik pertama dan utama perlu menetapkan tujuan pendidikan kepada buah hati.

“Apa yang kita harapkan dimilik anak sebagai hasil proses belajar. Efektivitas para orang tua sebagai pendidik, pemilihan mitra yang penting dalam pendidikan anak seperti sekolah, media, dll akan ditentukan oleh tujuan yang kita miliki,” sampainya.

“Setiap hari, semua pengalaman belajar anak perlu menumbuhkan kecerdasan yang relevan untuk masa depan, biak hanya kecerdasan terbatas untuk lulus ujian,” tambahnya.

Dalam pendidikan dan pekerjaan masa depan, keterampilan bertanya jauh lebih penting dari pada kemampuan menjawab. Sambung Najelaa, proses belajar diawali dan diakhiri pertanyaan dan setiap pertanyaan menggambarkan pemahaman awal dan berasal dari pengalaman yang berkesan.

Baca juga :   Perhatikan, Ini Manfaat Seragam Sekolah Bagi Psikologis Anak

“Setiap pertanyaan juga mengantar ke jawaban dan pertanyaan baru yang mendorong anak terus ingin tahu. Untuk bisa mengajukan pertanyaan yang baik, anak perlu teladan dari orang tau yang mengajukan pertanyaan-peryanyaan Ter Ika dan mencontohkan pemikiran mendalam,” imbuhnya.

Setiap pertanyaan, disesuaikan dengan apa yang diceritakan anak, tetapi secara umum ada beberapa pertanyaan dasar yang dapat digunakan dalam berbagai situasi. Misalnya :

1. Untuk menggali pengetahuan awal : Menurut kamu bagaimana?
2. Untuk mengklarifikasi : Tolong jelaskan lagi, apa maksudnya?
3. Untuk memahami esensi : Apa yang paling penting/paling menyenangkan/paling menggangu?
4. Untuk membiasakan keragaman prespektif : Kalau pandangan kamu bagaimana? Apa perbedaannya?
5. Untuk melatih imajinasi dan kreativitas : Aku ingin tahu kalau seperti ini kira-kira memungkinkah?
6. Untuk menyelesaikan masalah : Bisakah ita sepakat pada (solusi) ini saja?