Ilustasi : http://www.skyhdwallpaper.com/

Majalahayah.com – Jakarta. Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembang-biakkan padanya segala macam jenis binatang. Dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik. Inilah ciptaan Allah, maka perlihatkanlah olehmu kepadaku apa yang telah diciptakan oleh sembahan-sembahan(mu) selain Allah. Sebenarnya orang-orang yang zalim itu berada di dalam kesesatan yang nyata.

Terdiam dalam renungan, mencoba menghayati alur kalam-MU.

Begitu mudah Kau mencipta.

Begitu hidup dalam aturan-Mu dan saling menghidup.

Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”.

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”

Yaa Robb yaa Latif… ada gambaran yang tersembunyi dibalik lanjutan ayat-Mu ini.

Antara bentangan alam semesta dan kehidupan keluarga Luqman.

Melalui alam sepertinya Engkau hendak memberikan pelajaran tentang bangunan keluarga dengan landasan nilai-nilai hakiki.

Ya ‘alimu, seolah langit adalah sosok ayah dan bumi adalah ibu. Gunung ibarat suatu ikatan yang kokoh antara seorang hamba dengan Tuhannya, yang berfungsi sebagai penyeimbang dalam keluarga. Keseimbangan antara peran ayah dan ibu agar tiada berguncang.

Subhanalloh, yaa Hayyu. Sosok ayah itu adalah sumber inspirasi bagi keluarga. Darinya tersampaikan nilai-nilai kehidupan, bagai air yang menumbuhkan tumbuhan.

Yaa Qoyyum, air itu turun ke bumi. Ibu adalah ladang tempat tumbuh kembangnya sang anak. Inilah ciptaan Allah dengan aturan-Nya Yang Maha Sempurna.

Maka bersyukurlah atas segala pemberian-Nya, yang berupa materi ataupun petunjuk-Nya. Mohon ampun yaa Ghofar karena tak pandai bersyukur dan lalainya hamba dalam mengabdi kepada-Mu.

Dalam landasan kalimat tauhid, nilai-nilai keluarga dibangun. Inikah pesan penting yang ditanamkan seorang ayah (Luqman)? “Janganlah mempersekutukan Allah karena itu adalah kezaliman yang besar”.

Ah, aku terhentak kembali, betapa nilai pondasi keluarga telah bergeser kepada kesuksesan duniawi, generasi yang brutal dan pola hidup yang hedon.

Dasar tauhid dalam keluarga ini ternyata adalah warisan dari orang-orang pilihan terdahulu sebagai nikmat dari-Mu.

Lalu bagaimanakah dengan kita? Maukah mengikuti mereka? ataukah tetap berpegang kepada nilai-nilai duniawi?

Pilihan itu ada pada sang pemimpin.