ajaran agama keluarga anak
Ilustrasi keluarga muslim. Dok. Istimewa

Majalahayah.com – Miris rasanya menyaksikan anak-anak para aktivis yang tak menunjukkan komitmen yang kuat terhadap agamanya. Merokok, pacaran, pamer aurat, menggunakan narkoba, homoseks, hamil di luar nikah, gangster, bahkan atheis, bukan lagi barang langka. Benar-benar tersentak ketika membayangkan siapa orangtua mereka dengan segala kiprahnya dalam dakwah.

Apakah orangtua mereka lalai mendidik mereka dengan agama? Sama sekali tidak!!! Mereka bukan saja sangat serius mendidik anak-anak mereka dengan Al-Islam, bahkan ketat dan keras. Beberapa di antara anak-anak mereka malah telah masuk pesantren sejak usia dini, berjilbab tak lama setelah lahir sebagai perempuan, masuk Islamic Fullday School, hafal Juz ‘Amma sebelum 7 tahun, hafal Hadits Arba’in Annawawiyyah ketika masih TK, dan segudang “prestasi edukatif” lainnya.
Pergaulan anak-anak mereka sangat terjaga. Untuk itu mereka sengaja bikin komunitas sendiri, tinggal di kompleks perumahan yang sama dan sekolah yang sama. Seorang anak berusia 3 tahun pernah dicubit bibirnya hingga berdarah oleh ibunya karena dari bibirnya keluar kata “Pacaran”. Tayangan-tayangan televisi di rumah mereka juga sangat terkontrol, begitu pula dengan bahan bacaan. Bahkan, ada yang mengharamkan televisi sama sekali.
Lalu, apa yang salah?
Pertama, syari’ah dipandang sebagai sesuatu yang “given” dalam rumah tangga.
Karena telah dianggap terberi dan menjadi keseharian, maka tak perlu lagi ada penjelasan: apa, kenapa, bagaimana? Anak diminta berjilbab tanpa ada penjelasan “kenapa?”. Begitu pula tentang tauhid, akhlaq dan sebagainya. Akhirnya terbentuklah anak-anak yang bagaikan sebuah rumah yang indah namum pondasinya rapuh. KELIHATANNYA TELAH ISLAMI, PADAHAL HANYA TRADISI. Lalu, suatu saat mereka akan mencari momen yang tepat untuk MEMBERONTAK.
Kedua, mimpi yang terlalu tinggi.
Mereka memimpikan anak-anak yang tumbuh seperti para sahabat, atau shalafush-shalih, atau sekurang-kurangnya seperti Hasan AlBanna dan Sayyid Quthb. Mereka bukan saja bermimpi menghasilkan anak-anak “beyond generation”, bahkan “above generation”. Lalu setelah itu para orangtua menjadi stres sendiri dengan mimpi yang dibuat, panik melihat kesenjangan antara “das sein” dengan “das sollen”. Mulailah anak diasingkan, kalau perlu disterilisasi melalui pendidikan antah-berantah. Apakah lahir anak shaleh? Ternyata tidak. Yang terbentuk adalah GENERASI STERIL NAMUN TAK IMUN TERHADAP GODAAN DUNIA. Anak-anak itu bahkan tak diijinkan untuk menjalani COBAAN KEIMANAN.
Ketiga, Tadribusy-Syar’ie (pelatihan syari’ah) yang terlalu cepat.
Allah dan RasulNya selalu benar, bahwa pelatihan syari’ah itu baru dimulai saat anak berusia 7 tahun. Dalam hal ini tak berlaku anggapan “lebih cepat lebih baik”. Tiba-tiba saja, atas nama agama, para orangtua telah merampas hak-hak anak yang telah Allah berikan kepada mereka. Mereka berjilbab sangat dini, belajar shalat sangat dini, menghafal Hadits sangat dini. Padahal, Abdullah Nasih ‘Ulwan dalam kitab Tarbiyatul Awlad telah menegaskan bahwa itu semua selayaknya dimulai pada usia 7 tahun. Akhirnya anak telah dirampas kebebasannya sejak dini. Mereka bukan saja telah di-tadribkan oleh orang tuanya, bahkan telah di-taklifkan jauh sebelum aqil-baligh. Pada saatnya kelak MEREKAPUN AKAN MENINGGALKAN SYARI’AH SEDINI MUNGKIN. Andai anak-anak itu kelak di Yaum Mahsyar mengadu kepada Allah tentang HAK-HAK YANG DIRAMPAS ORANGTUANYA, bagaimana kita akan menjawabnya?
Keempat, rumah tak lagi menjadi surga (baitii jannatii) bagi anak.
Terlalu banyak aturan, teralu banyak larangan, telalu banyak kekangan. Ini bukan model rumah tangga surgawi, tapi neraka. Akhinya, anak tak berkesempatan menyalurkan naluri-naluri instingtifnya di rumah. Mereka tak punya ruang untuk meluapkan dan mengeluarkan “kejahilyyahannya” di balik dinding rumah. Sebaliknya, di rumah mereka begitu santun, Islami, syar’ie, akhlaqi. Luar biasa. Nah, ketika mereka keluar dari rumah, mereka justru MEMAPAR AURAT DAN MENGUMBAR NAFSU DI LUAR RUMAH. Dunia publik akhinya menjadi dunia di mana borgol dipatahkan dan tirani dihancurkan.
Kelima, tidak ramah terhadap fitrah.
Para orangtua aktivis biasanya sangat pro “ajaran langit” dan kurang peduli terhadap “realitas bumi”. Yang pertama kali terpikir oleh mereka saat akan mendidik anak adalah “Apa maunya Allah”, bukan “apa maunya fitrah”. Padahal, toh fitrah manusia itu pada dasarnya islami. Tampaknya, mereka kurang menguasai ayat-ayat Insaniyah (kemanusiaan) yang lebih dahulu turun di Makkah (yaa ayuhan-naas..), dan lebih fokus kepada ayat-ayat imaniyah (keimanan) yang turun belakangan di Madinah (yaa ayyuhalladziina aamanuu..). Akhirnya, Islam yang sama sekali tak bertentangan dengan kemanusiaan itu, justru dihayati oleh anak sebagai sebuah kontradiksi: ISLAM VS EGO.
Akhirnya, justru ketika para aktivis mendidik anaknya dengan ketat dan keras, yang lahir adalah anak-anak yang memberontak terhadap agamanya sendiri. Sedih membaca “Tagline” seorang anak dari “Syaikhul-Kabiir” di Facebook miliknya: Aku tak percaya pada Tuhan! Seorang anak dari “assabiquunal-awwaluun” harus mendapatkan perawatan psikiatrik. Di tempat lain, saya harus mengantarkan putra seorang senior pergerakan ke pondok rehabilitasi narkoba. Sedangkan anak dari seorang ustadzah kaliber nasional hobi betul melakukan bullying dan pemerasan terhadap teman-temannya. Kenapa tidak kita tanamkan Al-Islam ini dengan rileks dan manusiawi, untuk membentuk generasi yang targetnya tidak neko-neko: terbaik untuk zamannya?
*Oleh: Ust. Adriano Rusfi
Sumber: Buku Fitrah Based Education karya Ust. Harry Santosa