Majalahayah.com, Jakarta – Penyakit kejiwaan merupakan perilaku yang bukan bagian dari perkembangan normal manusia. Bayak orang yang belum memahami lebih tentang penyakit kejiwaan. Padahal, hal tersebut berbahaya layaknya penyakit fisik lainnya.

Hal tersebut juga disampaikan oleh Psikoterapis Amerika, Aaron T. Beck dan Arthur Freeman yang mendefinisikan rahasia temperamen manusia di mana ada penyakit mental yang sering dianggap remeh hanya sebagai kebiasaan buruk, padahal ternyata ada makna besar di baliknya.

Berikut adalah 7 penyakit kejiwaan yang sering dianggap sebagai kebiasaan buruk, dikutip dari Idntimes

1. Kurangnya tanggung jawab

Penyakit ini disebut antisocial personality disorder. Golongan ini terdiri dari orang-orang yang selalu ingin memiliki lebih sedikit pekerjaan dan lebih banyak waktu untuk istirahat. Memang, itu adalah keinginan manusia yang paling umum namun beberapa orang terus merasa tidak cukup dan terus merasa membutuhkan lebih.

Gejala-gejala lain yang menandakan kalau kelalaian ini bukan sekedar kebiasaan buruk namun sudah menjadi penyakit mental adalah keinginan untuk hidup dari kerja keras orang lain, sering berhenti kerja tanpa ada perencanaan masa depan yang jelas hingga sering melakukan pembelian yang tidak direncanakan.

2. Sering menunda-nunda

Orang-orang yang tidak mau mengikuti aturan di masyarakat merupkan bagian dari hal tersebut. Sedikit menunda-nunda tugas di sekolah atau perguruan tinggi adalah hal yang normal dan tidak perlu mencari penyakit di dalamnya. Tapi, keseringan menunda-nunda bisa berkembang menjadi penyakit mental yang dinamakan passive-aggressive personality disorder  bila diikuti gejala-gejala seperti:

A. Respon yang sangat tidak menyenangkan saat diminta untuk melakukan aktivitas yang biasa walaupun sedikit menyulitkan seperti membuang sampah, membersihkan kandang hewan peliharaan atau sekedar mencuci piring.
B. Kecepatan kerja yang sangat lambat dan kualitas yang buruk
C. Tidak bisa menerima saran yang berguna dari orang sekitar tentang cara membuat pekerjaan menjadi lebih baik dan lebih cepat.

3. Tidak sabaran dan impulsif

Seseorang yang tak bisa mengendalikan emosi mereka memiliki risiko tinggi menderita borderline personality. Gejala-gejalanya dapat berbentuk hubungan pertemanan dan percintaan yang tidak stabil, pengeluaran yang impulsif, mengemudi dengan tidak hati-hati sampai sering hampir kecelakaan hingga perubahan suasana hati tanpa alasan yang jelas dan rasa bosan yang kronis.

4. Sering memarahi diri sendiri

Dalam psikologi sindrom ini disebut avoidant personality disorder. Panic attack, depresi, dan gangguan tidur bisa muncul dalam kasus-kasus yang sudah parah. Mengkritik diri sendiri memang sangat membantu dalam dosis kecil dan mendorong kita untuk bisa lebih mengembangkan diri sendiri. Namun hal ini bisa membahayakan kesehatan mental jika dilakukan dalam jumlah yang berlebihan.

5. Sering curiga

Paranoid dari waktu ke waktu dan itu cukup normal. Tetapi beberapa orang mengalami paranoid dengan dosis yang terlalu tinggi sampai mereka melakukan aksi-aksi untuk menghilangkan ketakutan mereka.

Mereka bisa meretas akun media sosial hingga  menyewa detektif swasta. Seseorang dengan kecurigaannya membuat mereka melakukan tindakan putus asa seperti itu bisa jadi menderita paranoid personality disorder.

6. Sangat bergantung pada orang

Menjadi tergantung pada teman-teman dekat dan anggota keluarga adalah ciri dari semua mamalia termasuk manusia. Sangat normal bergantung pada orang lain, namun ketergantungan yang berlebihan ini disebut dependent personality disorder. Orang dengan penyakit mental ini mengalami kesulitan atau bahkan ketidakmampuan untuk membuat keputusan tanpa mendapatkan persetujuan dari orang yang kepadanya ia bergantung.

7. Perfeksionis

Seseorang yang terlalu perfeksionis mungkin sedang dalam perjalanan untuk menjadi penderita obsessive-compulsive personality disorder (OCD). Pada awalnya  orang dengan penyakit ini mungkin berusaha memenuhi keinginan masyarakat atas dirinya sehingga ia berusaha untuk terus sempurna. Kemudian akhirnya berkembang hingga menjadi kebiasaannya untuk bisa melihat segala sesuatu dengan sempurna.

Mungkin anda pernah menghadapi situasi dimana kepribadianmu mencegahmu untuk menjalani kehidupan normal? Jika dalam batas yang wajar, bisa jadi itu memang hanya kebiasaan burukmu. Namun bila dirasa hal tersebut sangat mengganggu, jangan enggan untuk pergi mencari pertolongan profesional sebelum gejala tersebut makin parah.