sosok dan peran ayah
Ilustrasi sosok dan peran ayah. Sumber : www.123rf.com

Majalahayah.com, Jakarta – Dalam hubungan keluarga, komunikasi secara efektif dan baik adalah kunci utama. Jika saat ini kamu sedang dilanda rasa kecewa dan hubungan keluarga menjadi ‘kaku’ kemungkinan penyebabnya ialah kamu kurang mempunyai kemampuan untuk mengekpresikan diri dengan baik.

Nggak perlu gelisah terlebih menyalahkan orang lain loh sobat! Najelaa Shihab sebagai penulis buku Keluarga Kita memberikan beberapa kompetensi dasar yang perlu kamu praktikkan saat berkomunikasi dengan keluarga. Yuk simak!

1. Mengungkapkan kebutuhan diri tanpa menyerang dengan i-message.

Kebanyakan komunikasi antar suami dengan istri, ayah dan anak, serta ibu kepada anak atau sebaliknya lebih sering mengeluarkan kata-kata yang sifatnya menyerang. Padahal alangkah baiknya kita mengungkapkan dengan komunikasi yang baik.

Contoh :

– Aku merasa sedih saat kamu berbicara sambil main HP, aku ingin kita berbicara dengan serius karena ngobrolnya jadi lebih fokus dan bisa jadi contoh kepada anak-anak.

Atau 

– Saya khawatir saat ayah tidak membalas pesan, saya ingin ayah membalas meski singkat supaya tidak terjadi salah paham antara kita.

2. Mengungkap maaf karena sadar bahwa apa pun yang terjadi dalam hubungan adalah kontribusi banyak pihak

Meskipun rasanya berat untuk meminta maaf, sobat ayah harus tau bahwa sulitnya meminta maaf hanya faktor gengsi loh! Nah, mulai sekarang coba yuk kita mengakui kesalahan. Sebab apapun yang terjadi di keluarga tidak hanya berbicara kamu dan dia, tapi kita.

Contoh:

– Aku minta maaf, ya.

– Maaf kalau sikapku berlebihan

– Boleh aku coba perbaiki?

– Aku sadar ini salahku juga.

3. Menyatakan persetujuan walaupun tidak harus 100% hal sependapat, pasti ada unsur yang kita bisa bersepakat

Berbeda pendapat tentu hal yang sering terjadi di keluarga terlebih antar suami-istri. Perbedaan pendapat yang akan menuai dampak buruk, bisa loh kita ubah menjadi positif dengan cara saling sepakat terhadap pendapat masing-masing pihak meskipun tidak 100%.

Contoh :

– Pendapatmu benar juga

– Aku setuju dengan pendapatmu

– Yuk, kita buat kesepakatan 

4. Mengungkapkan kebutuhan diri di saat sulit tanpa khawatir ditolak atau gengsi

Setiap anggota keluarga pastinya mempunyai kebutuhan diri di saat kesulitan. Meminta tolong walau hanya sekedar miminta dukungan sangat sulit terucap. Hal ini timbul karena kekhawatir tidak direspon, ditolak dan terlebih hanya sekedar gengsi.

Meskipun terasa berat, namun untuk dicoba tidak ada salahnya loh!

Contoh:

– Aku membutuhkan dukungan

– Tolong bantu aku untuk tenang

– Tolong dengar dan pahami aku

– Aku merasa tidak nyaman

– Boleh berhenti dulu?

5. Menyatakan apresiasi/penghargaan dengan rutin, bahkan terhadap hal kecil

Saling merangkul, memberikan penghargaan, saling memahami satu sama lain tentu menjadi hal yang diinginkan setiap keluarga. Nah, meskipun sudah terlanjur terasa kaku, sobat ayah wajib merenggangkannya. 

Contoh:

– Ini bukan masalahmu sendiri, ini masalah kita bersama.

– Terimakasih sudah mau mendengarkan

– Aku mengerti maksudmu

– Idemu bagus. Aku nggak kepikiran sebelumnya.

Bagaimana sobat, tertarik mencobanya?