4 Hal Salah Kaprah Orang Tua dalam Pola Pengasuhan

4 Hal Salah Kaprah Orang Tua dalam Pola Pengasuhan

228
0
SHARE
Ilustrasi Keluarga. Sumber www.pinterest.com

Majalahayah.com, Jakarta – Refleksi dalam menjalani hubungan keluarga perlu dimulai dari miskonsepsi yang dimiliki. Hal ini dijelaskan oleh Najelaa Shihab sebagai pegiat Relawan Keluarga Kita (Rangkul) bahwa banyak hal yang orang tua percaya, namun sebetulnya itu hanyalah asumsi berdasar yang alami, bukan yang didukung data dan bukti.

Mengetahui hal tersebut, untuk mengedukasi para orang tua atau calon orang tua, Najelaa tuliskan 4 hal penilaian salah kaprah orang tua dalam menjalin hubungan dengan buah hati dalam buku Keluarga Kita.

1. Hubungan atas dasar cinta dan persaudaraan adalah hubungan yang selalu erat, tanpa usaha pun dapat terus berkualitas.

Najelaa tuliskan pada faktanya, kualitas dalam hubungan apa pun perlu dijaga dengan cara berinteraksi dengan baik. Seperti memperhatikan kuantitas pertemuan, saling mengapresiasi, mengkritik tanpa melemahkan dan berkonflik secara sehat.

“Penting untuk sensitif terhadap kebutuhan tiap anggota keluarga dan memberikan respon yang tepat atas kebutuhan tersebut. Tidak setiap anak butuh pelukan dan perlakuan dalam jumlah yang sama,” imbunya.

Begitupula dengan orang tua, orang tua sering merasa kesepian saat tidak bercakap walau ditelepon, namun sering tidak enak berterus terang. Makin beragam peran dan hubungan, makin banyak yang perlu diusahakan.

2. Menjaga perasaan satu sama lain dalam keluarga, kita hanya perlu bersabar dengan apa yang dirasakan. Kalau dekat, pasti saling tahu tanpa perlu dibicarakan.

Sebenarnya, kita perlu menerapkan komunikasi efektif agar dapat menyampaikan yang dirasakan dengan tepat. Konflik dalam semua hubungan membutuhkan penyelesaian dengan cara terbaik serta waktu yang tepat, hal ini turut serta akan menjadi contoh yang baik untuk anak

“Prinsip waktu akan menyelesaikan semua masalah adalah prinsip yang bukan saja menggampangkan masalah, tetapi menunjukan ketidakpercayaan pada kekuatan hubungan,” tulis Najelaa.

Banyak masalah kecil yang menjadi besar dengan waktunya kerenggangan hubungan suami istri yang tidak segera diperbaiki. Hal ini Najelaa sampaikan secara jelas tindakan tersebut menunjukan apatis dan kebaikan dari tanpa peduli.

3. Keluarga besar tidak perlu terlalu dekat dengan anak-anak kita, nanti mereka ikut campur urusan rumah tangga.

Riset menunjukan bahwa anak membutuhkan hubungan yang beragam dan kaya dengan berbagai anggota keluarga. Semakin utuh hubungan antara kakek dan nenek, pakde dan bude, serta seluruh keluarga hubungan dengan lingkungan lain.

“Karena itu hubungan dengan keluarga besar harus diusahakan. Konflik dengan keluarga besar biasa terjadi karena keinginan untuk mendapatkan peran dalam mengasuh cucu atau keponakan,” tambahnya.

Oleh karena itu, lomunikasikan dengan baik dan berikan peran yang tepat untuk masing-masing pihak.

4. Dalam keluarga perlu adanya pembagian peran sebagai “si galak” dan “si baik” saat berinteraksi dengan anak.

Praktik baik penumbuhan karakter menunjukan bahwa konsistensi adalah kunci. Anak perlu paham bahwa kesepakatan dibuat untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan kebutuhan bersama sehingga berlaku dalam situasi apapun meski ayah dan ibu tidak hadir lengkap pada kondisi tertentu.

Kebingungan anak terhadap perbedaan sikap orang dewasa akan membuat disiplin tidak efektif, terutama setalah anak mulai mampu membaca situasi, bahkan memanipulasi.

“Di usia dini pun anak dengan cepat mengobservasi, ayah atau ibu yang lebih mudah menyerah saat ia merengek atau meminta bantuan untuk tugas harian. Usahakan semua yang terlibat dalam pengasuhan dapat hadir bersama saat anak tantrum,” tulisnya.

Sambung Najelaa, ia contohkan seperti saling belajar teknik yang tepat dan anak membiasakan konsistensi perilaku dengan siapa pun yang mengasuh.

LEAVE A REPLY