3712 Anggota Suku Bersyahadat, Perjuangan Mencerdaskan Suku Pedalaman Irian dengan Islam

3712 Anggota Suku Bersyahadat, Perjuangan Mencerdaskan Suku Pedalaman Irian dengan Islam

440
SHARE
Foto : Ustadz Fadlan Garamatan bersama salah satu suku di Irian. Sumber www.kabarmakkah.com

Majalahayah.com, Jakarta – Sebuah cita-citanya sungguh mulia, yaitu mendengar suara azan Shubuh berkumandang di seantero tanah Papua alias Irian, sehingga mampu “membangunkan” kaum Muslimin di Indonesia. Berbagai upaya pun dilakukan oleh seorang pria ini bernama M Zaaf Fadlan Rabbani Al-Garamatan, Biasa disapa Ustadz Fadlan Garamatan. Asli Irian, berkulit gelap, berjenggot, kemana-mana memilih membalut tubuhnya dengan jubah.

Ustadz Fadlan lahir dari keluarga Muslim, 17 Mei 1969 di Patipi, Fak-fak, sejak kecil dia sudah belajar Islam. Ayahnya adalah guru SD, juga guru mengaji di kampungnya.

Pengetahuan ilmu agamanya kian dalam ketika kuliah dan aktif di berbagai organisasi keagamaan di Makassar dan Jawa. Anak ketiga dari tujuh bersaudara ini akhirnya memilih jalan dakwah. Dia mendirikan Yayasan Al Fatih Kaaffah Nusantara. Melalui lembaga sosial dan pembinaan sumber daya manusia ini, Ustadz Fadlan begitu ia kerap disapa mengenalkan Islam kepada masyarakat Irian sampai ke pelosok. Dia pun mengembangkan potensi dan sumber daya yang ada, mencarikan kesempatan anak-anak setempat mengenyam pendidikan di luar Irian.

Mengenai sejarah, ustadz Fadlan mengungkap bahwa sebenarnya Islam adalah agama tertua yang datang di tanah Papua.

“Agama yang tertua dan pertama di negeri ini adalah Islam,” kata ustadz Fadlan sambil menunjuk peta Papua yang dipancarkan dari lcd proyektor.

“Tanggal 17 Juli 1204 masehi Iskandar Syah dari Samudra Pasai melakukan dakwah ke Malaysia, Solok, Filipina, turun ke Tidore dan dari Tidore dia sampai ke Irian,” imbuhnya.

Ketika sampai ke Irian itulah Iskandar Syah bertemu dengan kepala suku dan dia mengajarkan dua kalimat syahadat kepada kepala suku itu. Islam masuk ke Irian pada tahun 1204, sementara agama Kristen masuk ke Irian dibawa oleh orang yang tidak beragama Kristen. Justru Sultan Tidore-lah yang membawa agama Kristen ke Irian kala itu.

Baca juga :   Bebaskan Warga Papua, Pramuka Apresiasi TNI dan Polri

“Tanggal 5 Februari 1885 (Kristen dibawa masuk Irian), tapi jauh sebelumnya Islam sudah masuk ke Irian,” terang ustadz Fadlan.

Ustadz Fadlan lalu menceritakan pengalamannnya mengislamkan pendeta bernama Alfonso di tanah Irian pada tahun 1980 an. Setelah gigih berdakwah selama tiga bulan di keluarga pendeta Alfonso, akhirnya pendeta itu bersama keluarganya mengucapkan syahadat. Akibatnya tanah Irian geger dan ustadz Fadlan ditahan selama tiga bulan tanpa pengadilan.

Keluar dari tahanan Ustadz Fadlan tidak kapok dan kembali berdakwah. Kali ini ia menuju tempat bernama Kampung Gayem. Baru sampai ditempat tersebut kepala suku langsung melempar tombak ke salah satu kaki ustadz Fadlan dan tepat mengenai betisnya. Ia pun harus masuk rumah sakit selama beberapa minggu. Setelah sembuh ia kembali datang ke Kampung Gayem lagi hingga akhirnya kepala suku yang menombak kakinya masuk Islam. Tapi lagi-lagi, setelah mengislamkan seorang tokoh, ustadz Fadlan ditangkap dan dipenjara lagi, kali ini selama enam bulan.

Ada fakta unik kenapa banyak anggota suku di Papua tidak memakai baju dan telanjang. Ternyata mereka dilarang oleh misionaris Kristen untuk memakai baju. Selain dilarang berpakaian, mereka juga dilarang mandi menggunakan air bersih. “Mereka (warga suku) hanya boleh mandi menggunakan minyak atau lemak babi saja,” ungkap ustadz Fadlan sambil menunjukkan foto warga pedalaman yang masih telanjang.

Barangkali kisah dakwah ustadz Fadlan yang fenomenal adalah saat 3712 anggota suku di Irian berhasil di-Islam-kan dan mengucap kalimat syahadat. Metode yang ia gunakan untuk mengislamkan penduduk pedalaman ini cukup unik, yaitu dengan mengajari para kepala sukunya mandi dengan sabun dan menggunakan sampo.

Baca juga :   Perundingan Freeport & Pemerintah, Komisioner Komnas HAM : Rebutan Kue Freeport

Usai mengumpulkan ribuan anggota suku, ustadz Fadlan dan tim da’inya memprakktekan sholat diatas panggung yang telah mereka buat.

“Begitu kami takbir, warga suku yang sudah mandi maupun yang belum mandi berdiri dan berputar mengelilingi panggung tempat kami sholat,” kata ustadz Fadlan menerangkan.

Usai sholat, kepala suku langsung loncat ke atas panggung dan bertanya kepada ustadz Fadlan, apa yang baru saja dia lakukan bersama tim da’inya. Dengan sabar ustadz Fadlan menjelaskan bahwa yang mereka lakukan baru saja itu adalah sholat untuk menyembah Allah subhanahuwata’alla.

“Dalam agama kami, kami diperintahkan sehari lima kali untuk menghadap Allah sang pencipta,” terang ustadz Fadlan kepada kepala suku itu.

“Begitu mendengar penjelasan saya, kepala suku meminta kami turun dari panggung. Kemudian kepala suku besar naik ke atas panggung bersama enam kepala suku lainnya untuk melakukan rapat adat membahas kehadiran kami,” lanjut ustadz Fadlan.

Satu setengah jam kemudian kepala suku berdiri diatas panggung dan berteriak kepada warganya,

“Hari ini kita senang, hari ini kita gembira, karena anak-anak ini datang mengajarkan kita agama yang benar. Dalam rapat adat kami sepakat bahwa kita semua yang berkumpul di lapangan ini mengikuti agama yang mereka ajarkan,” kata ustadz Fadlan menirukan logat perkataan kepala suku.

Mendengar penjelasan dari kepala suku, sontak ustadz Fadlan dan tim da’inya sujud syukur dan menangis kepada Allah Subhanahuwata’alla. Saat itulah sebanyak 3712 warga pedalaman mengucapkan kalimat syahadat dan memeluk Islam.