3 Trik Berbahasa Tubuh Agar Komunikasi dengan Anak Berjalan Efektif

3 Trik Berbahasa Tubuh Agar Komunikasi dengan Anak Berjalan Efektif

98
SHARE
Ilustrasi ayah dan anak. Sumber www.digitaloffice.thailife.com

Majalahayah.com, Jakarta – Komunikasi terbaik dengan anak-anak adalah saat tersambung antara jiwa mereka dengan jiwa orangtuanya. Hal ini yang dijelaskan Irawati Istiadi dalam bukunya “Ayo Bicara, Buku Komplet Komunikasi Efektif”.Yaitu jelasnya ketika orangtuanya mampu mengadakan bahasa komunikasi sesuai dengan gaya bahasa mereka.

“Karena anak-anak kecil, khususnya yang berusia di bawah dua tahun, belum pandai berkomunikasi secara verbal, maka mereka pun lebih banyak berkomunikasi dengan bahasa tubuh,” jelasnya dalam buku tersebut.

Maka menurutnya jika orangtua menguasai trik berbahasa tubuh yang baik dengan anak, maka komunikasi yang dilakukan akan menjadi efektif. Beberapa diantaranya adalah :

1) Tatap Mata Anak Saat Berbicara

Pandang dengan antusias mata anak saat orang tua sedang berbicara kepadanya, menurutnya itu akan membuat mereka turut menjadi antusias pula. Bukan saja pesan komunikasi orangtua yang mudah tersampaikan, bahkan nuansa emosi orangtua pun bisa lebih terhantar mengalir kepada anak karenanya.

“Pernahkah anda membayangkan jika diri anda harus berbicara dengan raksasa yang tnggi besar, sementara tinggi anda hanyalah setinggi pinggangnya? Tentu sama sekali tak nyaman, karena anda merasa kecil dan tak berharga. Komunikasi akan menjadi timpang karenanya. Begitu juga perasaan putra-putri mungil anda saat berkomunikasi dengan orangtua, dimana tinggi anak-anak itu hanyalah setinggi pinggang orangtua.Semua serba tak nyaman,” ungkapnya.

Sangat bijak jika orangtua yang sedang berkomunikasi dengan anak kecil bersedia menundukan badan, menurunkan batas pandangnya, sehingga saat berbicara dengan anak, tinggi mata orangtua pun setinggi anak. Orangtua tak segan untuk duduk di lantai agar pandangannya bisa dekat dengan mata anak.

2) Expresi Wajah Lebih banyak Bicara

Wajah manusia mengandung begitu banyak rahasia. Sepasang mata, hidung dan mulut, bisa jauh lebih banyak berbicara daripada kata-kata yang keluar dari bibir mereka. Itu sebabnya, orangtua harus banyak belajar untuk mengefektifkan gerak wajahnya agar bisa menghasilkan ekpresi wajah yang diinginkan.

Baca juga :   Fimosis Sebabkan Infeksi Pada Penis Anak, Orangtua Harus Awasi Sedari Dini

Tanpa mengeluarkan kata-kata pun, senyum manis yang tersungging di bibir ibunya sudah cukup buat ana untuk memahami bahwa ibu menyetujui apa yang dikerjakannya. Sebaliknya, saat sudut bibir ibu menurun ke bawah, anak pun faham bahwa ibu ingin ia menghentikan perbuatanya.

“Sementara itu, bahkan konsep diri anak pun bisa terbentuk positif hanya melalui partisipasi acungan jempol ibu saat anak memperlihatkan hasil kerjanya. Percaya diri anak pun tumbuh, hanya berkat acungan jempol tersebut. Sementara rona wajah memerah serta pandangan mata tajam ibu pun sudah bisa membuat anak paham bahwa ibunya sedang marah,” terangnya.

Selain itu, orangtua pun tidak bisa bersandiwara di balik kata-kata manisnya kalau ternyata ekspresi wajahnya berkata lain. saat orangtua sedang banyak pikiran, misalnya, anak datang menghampiri ingin membanggakan hasil lukisanya, orangtua pun menyempatkan untuk berkomentar,”Iya, bagus”, namun kata-katanya datar dan tanpa ekpresi. Maka anak pun faham bahwa orangtua hanya berbasa-basi saja. Ini akan membuatnya enggan mengulangi perbuatan serupa.

3) Gunakan Bahasa Tubuh yang Positif

Jika orangtua marah sambil berkecakpinggang, itu akan menambah intensitas marahnya. Maka jika orangtua ingin bisa marah dengan smart, tidak perlu harus berkecak pinggang, cukup dengan ekspresi wajah tak suka dan kata-kata marah yang tegas saja. Posisi kecak pinggang, hanya dilakukan jika menghadapi kesalahan besar anak, yang membuat orangtua perlu sesekali marah dengan intensitas tinggi.

Orangtua yang sedang ingin berkomunikasi intensif dengan anak, sedang berusaha mengajak anak untuk berbicara lebih banyak, akan sangat terbantu dengan bahasa tubuh seperti badan orangtua yang dicondongkan ke depan saat berbicara, tangan orangtua yang menyentuh paha anak, atau tangan dilingkarkan ke pundak kursi tempat anak duduk saat keduanya duduk bersanding. Bahasa-bahasa tubuhh seperti itu akan ditangkap oleh anak sebagai sebuah ajakan untuk lebih bersikap terbuka. Orangtua telah membuka diri memberikan keamanan dan kenyamanan.

Baca juga :   Sutopo Humas BNPB: Libur Telah Tiba, Lalu Bagaimana Nasib Liburan Anak-Anak di Pengungsian?

“Suatu waktu ketika sedang diketemukan indikasi bahwa anak berbuat kesalahan tertentu. maka orangtua pun memanggilnya khusus dan mengajaknya berbicara empat mata, dengan tujuan agar si anak mau berbicara terus terang dan jujur. Tak mudah bagi orangtua untuk mengorek keterangan yang mereka butuhkan dalam kondisi tersebut kecuali jika mereka berhasil menumbuhkan suasana aman dan nyaman bagi anak,” paparnya.

Maka selanjutnya,seperti apa bahasa tubuh orangtua akan cukup banyak menentukan disini. Jika orangtua memilih untuk berdiri sambil bersedekap di dada, sementara anak duduk di kursi dengan kepala tertunduk, dengan jaraj antrara keduanya sekitar 2 meter, maka suasana yang tercipta lebih mirip suasana interograsi antara polisi dengan penjahat. Ini akan membuat anak enggan berkata jujur.

Sebaliknya jika orangtua memilih duduk di samping anak, sehingga matanya dapat menatap sejajar ke mata anak, sementara dengan badan yang dicondongkan sedikit ke arah anak dan tangan orangtua yang sesekali menepuk paha anak, Maka posisi dan bahasa tubuh ini lebih mengesankan persahabatan dan pemahaman, yang akan membuat anak lebih merasa dekat dan diterima oleh orangtua sehingga mau berbicara terbuka.

Benar, bahwa untuk urusan bahasa tubuh ini orang tua harus lebih banya belajar, karena kenyataannya, dalam banyak kondisi ternyata komunikasi jenis ini bahkan jauh lebih efektif daripada komunikasi verbal