3 Prinsip Super Jitu Jamil Azzaini dalam Mendidik Anak

3 Prinsip Super Jitu Jamil Azzaini dalam Mendidik Anak

167
0
SHARE
Inspirator Sukses Mulia, Jamil Azzaini.
Foto : Inspirator Sukses Mulia, Jamil Azzaini. Sumber www.biem.co

Majalahayah.com – Dalam dunia entrepreneur dan leadership training, siapa yang tidak mengenal Jamil Azzaini? Sosok Inspirator Sukses Mulia, motivator, penulis, siciopreneur, trainer yang melahirkan banyak generasi pengusaha dan trainer di Indonesia.

Kali ini kita simak bagaimana sosok cemerlang Jamil Azzaini dalam membangun keluarga dan mendidik anak dengan 3 prinsip. Berikut penuturan Jamil Azzaini yang telah majalahayah.com transkrip :

Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh. Saya juga sebenarnya sedang berproses. Di keluarga saya, saya punya 3 prinsip ketika mendidik anak.

Prinsip yang pertama, di rumah tangga saya itu kita penciptakan yang namanya family value, jadi kalau di perusahaan ada coorporate value, dirumah tangga saya ada yang namanya family value. Yang seluruh anggota keluarga harus merujuk pada value ini.

Value di keluarga saya itu singkatannya ACI.

A-nya itu Agama. Semua anggota keluarga harus merujuk pada aturan agama yang kami anut yaitu agama Islam. Makanya di keluarga kami prinsipnya Allah dulu, Allah lagi, Allah terus. Makannya walaupun anak saya semuanya remaja, yang paling tua itu 23 tahun, tidak ada yang pacaran, karena dia tahu, bahwa menurut agama itu tidak boleh. Walaupun seluruh penduduk mengatakan jelek, tapi Allah bilang baik, ikuti Allah. Begitu juga kalau penduduk bumi mengatakan baik tapi menurut Allah buruk, ikuti Allah. Jadi Allah dulu, Allah lagi, Allah terus, agama menjadi panduan.

Yang kedua adalah Care (Customer Focus) saya adalah pelanggan buat anak saya, anak saya adalah pelanggan buat saya. Saya adalah pelanggan buat istri saya, istri saya adalah pelanggan buat saya. Makannya kalau istri saya meminta apa saja selama tidak melanggar prinsip yang pertama akan saya penuhi. Misalnya kalau pulang malam2 begini tiba2 istri saya bilang mas, mandiin kenapa, langsung saya mandiin. Kan tidak melanggar agama. Apalagi prinsip hidup saya lebih baik memandikan istri saya ketika masih hidup dibanding sudah meninggal. Karena kalau memandikan istri sudah meninggal tidak ada respon. Customer care focus, saya akan melayani anak saya. Kalau anak saya ngajak main petak umpet, walaupun usia saya sudah 47 tahun saya main petak umpet sama anak saya. Ketika anak saya bilang, pak saya mau curhat, walaupun sudah malam, saya sudah ngantuk saya bilang oke bapak ambil wudhu dulu bapak akan dengar curhat kamu. Karena saya care pada anak saya. Begitu juga kalau bapaknya capek, anak-anak care kepada bapaknya. Begitu juga, istri saya care kepada saya. Itu value yang kedua.

Value yang ketiga adalah integritas. Seluruh yang di rumah harus punya integritas, yang di ucapkan harus dilakukan. Tidak boleh jadi orang omdo, omong doang. Makannya kalau ada makanan di kulkas saya, walaupun itu makanan anak saya, saya harus minta ijin sama anak saya. Untuk melatih integritas. Kalau anak saya tidak mengijinkan saya tidak boleh ngambil walaupun saya orang tua.

Itu 3 value yang saya terapkan dalam keluarga saya. Jadi kalau dikeluarga harus ada family value, kalau di keluarga saya adalah aci (agama care integritas). Jadi saran saya sih keluarga2 juga harus punya family valuenya.

Prinsip yang kedua adalah saya akan mendidik anak saya sesuai dengan potensinya. Karena saya tidak mau jadi orang tua yang durhaka pada anak.

Jadi ada cerita, walaupun ini dongeng tapi dini meresap dalam pikiran saya. Jadi sewaktu-waktu penghuni hutan itu melakukan konferensi. Konferensinya adalah keterampilan apa yang harus dimiliki oleh penghuni hutan. Seluruh penghuni hutan berdiskusi karena hutan sering terbakar maka penghuni hutan harus bisa terbang. Hutan kadang banjir maka penghuni hutan harus bisa berenang. Dan hutan itu liar maka dia harus bisa melompat. Maka, akhirnya mereka sepakat mengadakan pelatihan terbang, berenang, lompat.

Hari pertama pelatihannya enjoy, hari kedua mulai gelisah, hari ketiga berantem, dan hari keempat training-nya di bubarkan. Kenapa? karena gajah di paksa terbang, ayam di paksa berenang, cacing dipaksa melompat. Jangan sampe anak kita potensinya gajah, disuruh terbang. Jangan sampe kuliah anak kita jurusannya sosial, disuruh kuliah ilmu pasti, stres. Maka tugas orang tua adalah menemukan apa potensi anak dan didik anak sesuai dengan potensinya. Jadi itu prinsip yang kedua.

Prinsip yang ketiga, kami melakukan sinchronize. Di buku saya yang ke enam itu judulnya “ON”. Orang yang empat ON-nya tidak selaras biasanya galau.

ON yang pertama vision, yang kedua action, yang ketiga passion, yang ke empat collaboration.

Misalnya ada orang yang visinya jadi pengusaha, tapi action-nya masih pekerja, pasti galau. Ada yang visinya saya ingin hafal Qur’an, tapi tidak setiap hari ngafal Qur’an, galau juga.

Maka di rumah saya setiap anak saya yang sudah SMA wajib nulis vision-nya apa. Anak saya yang pertama vision-nya “saya ingin menjadi penulis nomor satu di dunia yang menulis tentang cinta”. Dan tulisan cinta itu bersumber dari Al-Quran. Maka anak saya kemarin karena dia ingin menulis tentang cinta, maka dia ikut program 30 hari hafal 30 juz. Walaupun kemarin pulang saya tanya hafal berapa, 4 juz. Kenapa cuma 4 targetnya 30. Saya ingin hafal dan tahu maknanya. Saya ingin menikmati, ingin enjoy tidak buru-buru tapi percayalah kepada saya pak, insyaa Allah setahun kedepan saya sudah hafal. Begitu ada laki-laki yang melamar saya, sudah hafal saya. Jadi silahkan kalau mau daftar.

Anak saya yang kedua jago lagi, dia visinya saya ingin menjadi pengusaha kelas dunia CEO perusahaan sendiri yang dengan itu saya akan dirikan sekolah bertaraf internasional di setiap provinsi bisa gratis buat orang miskin. Terus gimana? saya perlu dukungan istri. Terus gimana? Saya ingin cari istri yang hafal Qur’an. Gimana caranya kamu pengen cari istri yang hafal Qur’an sementara kamu hafalnya cuma juz 29 sama 30? Kalau nanti kamu disuruh jadi imam sholat gimana? Gampang pak. Gimana? Sholat Maghrib, Isya, Shubuh, saya di masjid. Kalau Dzuhur, Ashar di rumah, kan tidak pakai suara tidak apa-apa. Dan alhamdulillah anak saya yang kedua ini istrinya hafal Qur’an.

Nah karena visinya itu, maka action-nya harus selaras. Kenapa action-nya selaras, passion-nya emang disitu. Lingkungannya harus cocok, maka anak saya yang pertama, hey kamu mau jadi penulis kenal dong sama pak Habiburrokhman? Kenal dong dengan Asma Nadia, kenal dong dengan Felix Siaw.

Sementara anak saya yang mau jadi pengusaha, hey kamu belajar doang jadi pengusaha. Maka kamu belajar sama om Sandiaga Uno. Makanya pas anak saya nikah itu saksinya pak Sandiaga Uno. Saya bilang mas sandi, yang jadi saksi kan sampeyan, terus? Sampeyan tangung jawab terhadap masa depan anak saya. Itu namanya collaboration. Kalau visinya sama collaboration-nya salah, hidupnya juga galau. Collaboration itu, lingkungan itu penting. Walaupun anak saya yang nyusun visi itu pas masuk SMA, anak saya yang bungsu kemarin juga ngomong vision-nya.

Apa vision-mu nak? “Namaku Zulfikar, aku ingin jadi penjaga gawang Manchester United (MU) yang hafal Qur’an. Anak saya nanya, bang bagaimana caranya kamu jadi penjaga gawang MU??

Kan bapak suka MU, dan MU sekarang kalah melulu. Jadi kalah aku jadi penjaga gawang, tidak bisa kegolan bapak bakal bilang, wee anak bapak hebat. Aku ingin membuat bapak happy.

Terus ditanya kenapa mau hafal Qur’an, dia jawab kata bu guru kalau aku hafal Qur’an di surga nanti aku bisa kasih mahkota ke orang tua. Ijul hanya ingin kasih mahkota buat papah sama mamah. Anak saya ini rajin ibadahnya.

Sampai sewaktu-waktu saya mau antar dia sekolah. “Cepetan yah bapak buru-buru.” “Iya pak” Jawabnya. Ehh habis selesai mandi, balikan baju bukannya berangkat, doa dhuha dulu. Yah nak, bapak buru2-buru kok sholat dhuha dulu? Anak saya nanya, bapak mau kemana? Mau ke kantor, kantor itu punya siapa? Kan punya bapak-bapak yang ngatur karyawan, takut sama Allah jangan takut sama karyawan.

Jadi begitu, family value, didik sesuai passion dan sinkronkan 4 on : vision, action, passion, collaboration.

LEAVE A REPLY