3 Masalah Pokok Umat Islam Jaman Now Menurut Ustadz Abdul Somad

3 Masalah Pokok Umat Islam Jaman Now Menurut Ustadz Abdul Somad

192
SHARE
Foto : Ustadz Abdul Somad, AA Gym dan TGB KH Zainul Majdi saat di Eco Pesantren Daarut Tauhid, Bandung, Jabar. Sumber www.youtube.com

Majalahayah.com – Hiruk pikuk kondisi umat Islam akhir-akhir ini semakin jadi bahan perbincangan diantara kalangan umat sendiri bahkan secara nasional. Terutama pertanyaan besar masalah pokok umat Islam jaman now yang dijawab Ustadz Abdul Somad saat silaturrahim di Eco Pesantren Daarut Tauhid, Bandung, Jawa Barat, Minggu (1/4). Dalam acara ini dihadiri pula Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Tuan Guru Bajang (TGB) KH Zainul Majdi yang di moderatori oleh KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym).

Berikut Tiga masalah pokok umat Islam jaman now menurut Ustadz Abdul Somad.

Pertama, Umat masih disibukkan dengan masalah Khilafiyah, yang akibatnya susah mencapai target perbaikan-perbaikan ekonomi, politik, pendidikan karena hanya jalan ditempat yang dibahas hanya itu-itu saja. Masalah ini terlalu menguras potensi umat, pikiran, waktu tenaga sehingga tidak bisa meningkat untuk menyelesaikan masalah-masalah lain.

Kedua, teman-teman yang sudah hijrah dan membentuk komunitas yang diantara komunitas-komunitas ini saling sikut-sikutan. Ketika sudah berubah dan membangun komunitas ternyata mereka kurang bersinergi, saling menyikut, atau bisa disebut sebagai ego kelompok.

Ketiga, Sebagian dari kita menganggap kitalah yang membuat ini jadi berhasil, sehingga tidak melihat keberhasilan orang adalah keberhasilan kita sebagai sebuah umat. Maka ketika saya sampai ke eco daarut tauhid saya berucap syukur kepada Allah kareni ini adalah umat hadzihi ummatukum ummatan wahidah, sementara sebagian orang tidak, melihat ini sebagai inikan keberhasilan dia bukan kita. Sedangkan Nabi selalu berkata innallaha ma ana, yang selalu dikedepankan itu ke kita-annya. Kondisi pada poin ini bisa disebut juga kekurangmampuan menerima kelebihan orang.

Baca juga :   Massa Umat Islam Nikmati Minuman Gratis Dari Departemen Agama

Mengenai ketiga permasalahan pokok diatas ustadz Abdul Somad juga menjelaskan tentang bagaimana solusi mengatasinya juga.

Solusi masalah pokok pertama tentang khilafiyah adalah dengan memulai dengan kajian yang bersilabus dan berkurikulum, seperti senin malam selasa Fiqih, selasa malam rabu aqidah, rabu malam kamis tafsir, kamis malam jumat hadist, jumat malam sabtu akhlak dan sabtu malam minggu tabligh akbar. Jadi ketika kita sudah bahas masalah ini menurut 4 madzhab, bagaimana menurut Hanafi, Maliki, Syafi’I dan Hambali. Sehingga nanti ketika datang orang lain membahas untuk mengobok-obok kita atau memecah kita, maka jamaah sudah tahu bahwa itu kan sudah kita bahas semua. Karena masalah khilafiyah ini muncul salah satunya karena ceramahnya kurang terstruktur, hanya dengar tabligh-tabligh tapi tanpa pakai silabus.

Baca juga :   Pergolakan Sejarah Perseteruan Kebenaran dan Kebathilan Sepanjang Zaman (Bagian 2/3)

Solusi masalah pokok kedua tantang antar kelompok yang saling sikut-sikutan. Dibuka dengan perumpamaan “menjinakkan buaya insya Allah mudah, tapi mengumpulkan pawang-pawang buaya itulah yang agak susah”, insya Allah umat atau masyarakat kita akan melihat ketika para ustadznya atau gurunya duduk bersama. Umat atau masyarakat akan melihat kebersamaan bahwa guru-guru kita meski ada perbedaan terhadap beberapa masalah ternyata bisa bersama. Yaitu dengan para pimpinannya harus sering memperbanyak piknik dengan silaturrahim.

Solusi masalah pokok ketiga yaitu bagaimana kita bisa merasakan ke-kita-an. Mengalahkan diri sendiri jauh lebih berat karena ada pergolakan batin disitulah Nampak kuasa Allah, mungkin kita lulus diuji dengan shadaqah, diuji dengan shalat malam, tapi ketika diuji dengan melihat kelebihan orang belum tentu lulus. Maka kita belajar merasakan senang melihat keberhasilan dan kesenangan orang lain tanpa rasa dengki. Karena dengki itu orang yang benci dengan perbuatan Allah, Allah yang membagikan nikmat kepada siapa yang Dia kehendaki, apa urusan kita pakai dengki.

Semoga umat Islam bangsa kita mampu memahami kondisi dan menyadari usaha perbaikan yang menguatkan persatuan yang didambakan.