Home Pendidikan 27 Steps of May, Seni dan Musik Jadi Solusi Korban Kejahatan Seksual

27 Steps of May, Seni dan Musik Jadi Solusi Korban Kejahatan Seksual

194

Majalahayah.com, Jakarta – Meskipun Bioskop tanah air sedang dibanjiri film Avengers: Endgame, film indonesia yang mengangkat isu tentang kejahatan seksual terhadap perempuan turut serta mencuri perhatian banyak orang, terutama para aktivis perempuan dan anak. Yaa, 27 Step of May berhasil mengguncangkan emosi para penonton.

Film hasil garapan Ravi Bharwani berhasil mendapat perhatian luas dan dukungan dari negara lain saat pertama kali diputar di Busan Internasional Film Festival 2018. Film yang sepi akan dialog berkisah tentang seorang perempuan bernama May (Raihaanun) menjadi korban pemerkosan yang dilakukan lebih dari satu orang ini membuat May mengalami trauma batin selama bertahun-tahun.

Akibat peristiwa keji tersebut, May yang hanya tinggal bersama ayahnya (Lukman Sardi) hubungan mereka menjadi ada gapantara anak dan ayah. May memilih untuk menjalankan rutinitasnya hanya sebatas diruang kamar.

Meskipun sang ayah memahami kondisi May, namun selama pemutaran film tak ada bagian drama yang menggambarkan agar May mendapatkan trauma healing. Hal ini pun dibenarkan oleh Linda Setiawati, Psikolog klinis dan Personal Growth dikutip melalui kompas.

Menangani kasus kejahatan seksual seperti yang dialami oleh May sudah semestinya peran keluarga dan lingkungan turut mendukung, namun Linda katakan kasus pemerkosaan masih menjadi hal yang tabu di masyarakat indonesia.

Selalu terbayang-bayang memori peristiwa kekerasan yang dialaminya saat disentuh laki-laki meskipun ayahnya sendiri, May merasa mengalami perubahan mood yang amat drastis sehingga menjadi sangat cemas dan ia memutuskan untuk melukai dirinya sendiri.

“Pada tahap yang lebih parah, para korban bisa mengalami PTSD (post-traumatic stress disorder). Ini merupakan gangguan prikologis yang muncul akibat kejadian trauma yang terjadi , baik secara langsung ataupun yang disaksikan,” ujarnya.

Bertujuan mendobrak stigma masyarakat tentang pelecehan seksual terhadap perempuan, 27 Steps of May berhasil membuka mata para penonton. Mengapa? gunjingan pihak keluarga dan lingkungan membuat para korban merasa tak terlindungi sehingga membuat korban tak berani menceritakan pengalaman pahitnya itu.

“Mereka sudah takut duluan dengan stigma yang ada di masyarakat jika orang lain mengetahui apa yang telah terjadi dengan dirinya,” imbuh Linda.

Melindungi anak dan perempuan sudah seharusnya menjadi tugas bersama. Terutama keluarga dan lingkungan. Linda katakan keluarga dan lingkungan amat penting menjadi pendengar yang berempati bukan menambahkan asumsi-asumsi yang tidak benar.

“Jika belum mau bercerita, korban pelecehan seksual bisa diajak melakukan kegiatan-kegiatan lain yang bisa menjadi penyalur dan caranya mengekspresikan diri. Bisa dengan musik, seni, dan bisa juga dibawa ke psikolog,” tuturnya.

May pun berhasil bangkit dari traumanya melalui seni dan music. Dimana May bertemu dengan pesulap (Ario bayu) di celah kecil kamarnya. Pesulap mampu membangkitkan rasa penasaran May sekaligus emosinya. Sehingga May cukup berani untuk mencari dan menghadapi perasaan, sensasi, dan ingatan yang hilang. Bantuan pesulap, May berani membebaskan diri dan keluar darii trauma masa lalunya.